Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 31.1 ° C

Gan, Kak, dan Sis

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

BELANJA online/DOK. PR
BELANJA online/DOK. PR

SEDIKITNYA ada tiga kata ganti orang kedua yang biasa dipakai oleh para pelapak online kepada konsumen mereka. Itulah “gan” dan “kak”, khususnya buat lelaki, serta “sis” buat perempuan.

Gan adalah kontraksi dari juragan, sisa-sisa zaman daulat tuanku. Dulu, dalam struktur sosial atas-bawah, pembantu atau bawahan biasa memanggil “juragan” kepada majikan. Di Tatar Sunda dahulu kala sebutan “juragan” juga suka dilekatkan kepada nama kalangan ménak alias bangsawan. Sekarang sih sudah bukan zamannya.

Pada zaman kejayaannya, “juragan” setingkat dengan “tuan” dan “nyonya”. Itulah sepasang sebutan yang kini sudah jarang dipakai kecuali dalam sinetron yang realismenya buruk atau dalam setruk apotek.   

Pada zaman Orde Baru sebutan “nyonya” yang suka disingkat “Ny.” sempat dilekatkan pada nama Ibu Negara. Namun, seingat saya, waktu itu tidak ada orang yang menyebut Suharto dengan panggilan “tuan”. Sebutan yang populer adalah “bapak”. Mungkin itu sebabnya orang kemudian lebih terbiasa menyebut istri presiden dengan panggilan “Ibu Tien”. Ibu toh pasangan bapak, sebagaimana nyonya adalah pasangan tuan. 

Pada zaman sebutan “bapak” dan “ibu” dilekatkan kepada presiden dan istrinya, negara seakan-akan dianggap sebagai sebuah keluarga besar. Sistem yang mewadahi hubungan-hubungan kekuasaan dikatakan bersifat “kekeluargaan”.

Kedengarannya baik, tapi pada praktiknya makna yang terkandung dalam sebutan itu cenderung diselewengkan. Waktu itu anak-anak presiden atau pembesar sejenisnya bisa menguasai apa saja, dari pabrik mobil hingga kebun cengkeh. Tata negara jadi urusan keluarga. Politik jadi masalah pribadi.

Pers, yang suka disebut sebagai “pilar keempat demokrasi”, tentu tidak doyan dengan daulat tuanku, dan ingin merayakan daulat rakyat. Sebutan “bapak” dan “ibu” lambat-laun menyingkir dari halaman suratkabar. Dalam teks tanya-jawab antara reporter dan narasumber, sebutan yang dipakai adalah “anda”. Betapapun, di luar halaman koran, para juruwarta tetap saja memanggil “bapak” atau “ibu” kepada narasumbernya ketika mereka bertanya-jawab. 

Tidak seperti “tuan” dan “nyonya” serta “bapak” dan “ibu”, sebutan “juragan” rupanya bisa lebih lama bertahan. Buktinya, ya itu tadi, dalam transaksi online sebutan “juragan” tetap eksis meski mengalami kontraksi jadi “gan”.

Salah satu faktornya, barangkali, adalah anggapan lama yang mengatakan bahwa pembeli mesti diperlakukan sebagai raja oleh pedagang. Pelapak seakan-akan merendahkan dirinya ke posisi hamba, sedangkan konsumen seolah-olah dinaikkan ke posisi tuan.

 Kalau memang begitu dasar anggapannya, dunia rupanya sudah terbalik. Pasalnya, menurut tradisinya atau menurut kebiasaannya selama zaman pradigital, sebutan “juragan” justru suka dilekatkan kepada kalangan saudagar atau pedagang. Ada juragan batik, juragan tembakau, juragan koran, dan banyak lagi. 

Sifat “kekeluargaan” seakan-akan kembali ke dalam sistem ekonomi ketika para pelapak online menyebut konsumen mereka dengan panggilan “Kakak”. Hubungan jual-beli seakan-akan merupakan hubungan adik-kakak di sebuah lingkungan keluarga.

Pernah terjadi peristiwa menggelikan. Seorang istri yang rupanya pencemburu berat menghardik seorang perempuan yang bekerja sebagai pelapak online. Gara-garanya sepele. Sang pelapak menyebut “kakak” kepada suami sang pencemburu dalam japri menyangkut sebuah transaksi. Dalam perasaan sang istri, sebutan itu rupanya dianggap mencerminkan semacam hubungan intim.   

Lain halnya dengan Sis atau Sista. Tidak seperti “gan” dan “kak”, sebutan “sis” dan “sista” kedengarannya lahir tabiat umum orang Indonesia dewasa ini yang suka keinggris-inggrisan. Sumurnya barangkali “sister”, istilah feminin dalam bahasa Inggris. Kelasnya sejajar dengan sebutan “bro” atau “brow” yang mengingatkan kita kepada “brother”.

Pasar rupanya memang seksis, suka membeda-bedakan mana lelaki dan mana perempuan. Saking seksisnya, tak jarang para pelapak memakai semacam versi feminin dari “gan” atau “agan”, yakni “aganwati”. Yang jelas, buat konsumen dari kalangan perempuan, tak peduli berapapun usia mereka, mau remaja ataukah emak-emak, sebutan yang dipilih oleh para pelapak online adalah “sis” atau “sista”.

Sebutan “sis” dan “bro” dipakai pula oleh para pemrakarsa Partai Solidaritas Indonesia untuk menyapa konstituen mereka. Konon, itulah cara partai baru menarik hati generasi milenial. Sayang, perolehan suaranya dalam pemilu tidak melampaui ambang batas elektoral, meski salah seorang eksponennya boleh jadi bakal ikut masuk kabinet.

Demikianlah, dari bahasa daring, kita melihat tiga sosok penting, yakni Gan, Kak, dan Sis.*** 

Bagikan: