Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 27.8 ° C

Berkaca pada Bola

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

Peneliti Komunikasi Politik, Dosen FPIPS UPI

SEORANG pemain berseragam tim nasional (timnas) berjibaku melawan gempuran pemain dengan kostum unik: memakai kaos putih dan bersarung. Sebuah “seragam” yang lazim dipakai para pemain bola dalam pesta tujuh belasan. Tak jauh dari mereka, seorang wasit dengan kaki menahan bola tampak memberi kartu kuning. Melihat ekspresi kedua pemain, sepertinya pemain berseragam timnas mendapat kartu kuning. Sial, melawan “tim pesta rakyat” saja timnas harus diganjar kartu kuning.

Begitulah pelukis Yaya Sukaya menyentil kualitas sepak bola nasional, khususnya performa timnas yang dicintainya.  Jangankan bertarung di ajang internasional, bertanding di kancah domestik pun masih terkendala banyak hal.

 Tidak jelas apa yang melatari pelukis Yaya Sukaya melontarkan kritik yang amat satir tersebut. Kemunculannya memercikan permenungan mendalam, terkait kualitas timnas yang belum juga terangkat meski liga domestik sudah diramaikan oleh kehadiran pemain asing.

Sepak bola dan bola voli  adalah dua cabang olahraga (cabor) yang paling atraktif dan ekspansif. Dimana pun kedua cabor ini dihelat selalu dibanjiri penonton. Dua cabor ini pun paling ekspansif dalam ajang profesionalnya dengan membuka pemain asing berlaga di liga domestik.

Tak pelak, tiap tahun para pemilik  klub profesional berburu pemain asing yang dinilai mampu mendongkrak performa tim, meski tidak selamanya berhasil. Tak jarang, mereka yang dicap pemain asing tidak menjadi pembeda ketika timnya tampil monoton. Bahkan teknik individu dan kerja sama timnya tak jauh berbeda dengan pemain lokal.

Meski harus diakui, beberapa ponggawa asing sukses mendongkrak performa klub. Dapat dikata, jika empat pemain impor (satu Asia dan tiga non Asia) tampil konsisten, performa klub akan berada di atas angin. Dilihat dari daftar pencetak gol terbanyak  dalam  tiga musim kompetisi terakhir selalu didominasi pemain asing.  Dalam kurun tersebut, hanya Samsul Arif dan Lerby Eliandry yang mampu mencatatkan namanya dalam jajaran lima besar pencetak gol terbanyak. Sejurus dengan itu, gaji tertinggi pun digenggam pemain impor.

Pemandangan paling tragis nampak ketika menoleh bangku pemain cadangan. Sejumlah bintang muda, yang namanya bersinar di ajang kompetisi kelompok umur nasional dan internasional, hanya menghabiskan menit bermain di pinggir lapangan. Ketika pemain asing berjibaku  mengarungi ketatnya (demikian istilah yang kerap disebut para komentator di layar kaca meski tampaknya tidak ketat-ketat amat) persaingan di lapangan, bintang-bintang muda ini harus melewatkan “masa emasnya” di “bench” pemain cadangan. Padahal, ketika timnas bertanding, tenaga mereka jadi andalan. Kehormatan bangsa pun dipertaruhkan di pundak mereka. Ironisnya, justru mereka tidak banyak mendapat kesempatan karena “kalah” bersaing berebut menit bermain dengan pemain asing atau pemain lokal yang jauh lebih senior.

Inilah dilema yang muncul ketika kran masuknya pemain asing dibuka. Jika tanpa proteksi, membiarkan pemain asing dan lokal bersaing di pasar bebas tak ubahnya melepas ternak di tengah belantara. Namun jika ditutup rapat-rapat, apa yang disebut “transfer keahlian” tidak akan terjadi.

Tidak ada tanda-tanda akan terjadi pengetatan terhadap masuknya pemain asing. Bahkan kalau tidak dibatasi, bisa jadi pemilik klub akan memainkan sebelas pemain impor dalam satu pertandingan.

Dibukanya kran bagi masuknya pemain asing dalam bidang olah raga menggenapkan berbagai skenario pelibatan kekuatan asing dalam kancah domestik. Dalam bidang ekonomi, keterlibatan investor asing bukan barang baru. Kran bagi masuknya investor asing sepertinya akan makin terbuka ketika Pemerintahan Jokowi berjanji akan menghajar pejabat dan lembaga yang menghambat masuknya investasi.

Bahkan dunia kampus sekalipun tidak sepi dari wacana internasionalisasi. Selain demam scopus dan kegilaan pada “novelty” yang sudah beberapa tahun menyerang akademisi, beberapa bulan terakhir universitas pun digoyang isu masuknya profesor dan rektor asing. Dalam dunia akademik, batas-batas teritorial amat cair, namun satu hal tidak bisa dikompromikan: nasib anak bangsa dan marwah kebangsaan itu sendiri.

Berkaca pada ingar-bingar persepakbolaan nasional yang tidak diikuti perbaikan signifikan performa timnas di ajang internasional jangan-jangan kualitas timnas tidak banyak ditentukan oleh jumlah pemain asing yang berlaga di liga domestik. Sebab jika parameternya “asing”, liga domestik tidak kekurangam label asing. Pemain asing banyak, legiun asing yang melatih klub tidak sedikit, bahkan sebagian nama klub sudah ditulis dalam bahasa asing. Lantas mengapa pemain yang terbiasa bertanding melawan pemain asing (yang dicap memiliki teknik individu dan kerja sama tim yang lebih bagus) tidak serta merta menjadi pemain handal dan mampu mendongkrak performa timnas ?

Allih-alih berharap pada “transfer keahlian” atau “mantra”  pemain asing, memberi kepercayaan kepada pemain (termasuk pemain lokal) terbukti lebih manjur dalam menempa skill dan kerja sama tim. Sebelum diberi kepercayaan Mario Gomez untuk masuk ke dalam “starting eleven” tim sebesar Persib, Ardi Idrus dan Gozali Siregar bukanlah siapa-siapa. Pembelian kedua pemain ini dianggap perjudian yang gegabah. Namun setelah diberi kepercayaan mencicipi menit bermain, Ardi dan Gozo menjelma menjadi sosok penting dalam sistem pertahanan dan pola penyerangan Persib.

Ketersediaan ruang memungkinkan segala mantra menjelma menjadi kekuatan nyata. Mengharap munculnya seribu Atta Halilintar, atau seratus Jack Ma, hanya angan-angan jika tidak disertai usaha membuka ruang, mencipta kesempatan, bahkan sekedar membuka dialog-diri untuk menemukan kekuatan dalam dirinya.

Inilah pelajaran terpenting bagi pelibatan kekuatan asing dalam kehidupan nasional. Meski kran bagi masuknya pemain asing dibuka, harus ada keberpihakan kepada pemain lokal. Pelibatan pemain asing harus disertai pemberian kepercayaan kepada pemain lokal untuk mengembangkan talenta dan mengasah insting bisnisnya.

Boleh jadi kualitas tidak terletak pada label asing atau lokal, namun ditentukan oleh faktor-faktor seleksi yang mempermudah lolosnya segala entitas yang diimbuhi embel-embel asing. Inferiortias seperti inilah yang harus dikikis, jika kita benar-benar ingin mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia.***

Bagikan: