Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Umumnya cerah, 18.4 ° C

Cariu

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

Cariu/T BACHTIAR
Cariu/T BACHTIAR

DI Kabupaten Bogor terdapat nama geografi Cariu. Tempat itu pernah dilintasi Bujangga Manik, putra Kerajaan Sunda pada abad ke-16 awal, dalam perjalanannya sepanjang Pulau Jawa dan Bali.

Kalau Bujangga Manik sudah mencatat nama geografi Cariu dalam perjalanannya, artinya nama tempat itu sudah ada jauh sebelum adanya perintah dari Dalem Karawang, yaitu Raden Singaperbangsa pada tahun 1633, yang menugaskan Raden Suryadipati untuk membuka daerah yang ada di antara Tegalkihiyang sampai ke Gunung Batu, dari Ciporongtonjong sampai ke Ciomas Cihoe.

Daerah itu umumnya masih berupa hutan belantara yang banyak ditumbuhi tanaman merambat yang bernama cariu. Babad alasnya bisa jadi pada tahun 1633, tapi sesungguhnya nama geografi Cariu sudah ada jauh sebelum itu.

Pada saat Geotrek Nyaba ka Baduy bersama MataBumi, untuk pertama kalinya saya mengenal tumbuhan merambat cariu. Awalnya saya tidak begitu perhatian pada kerajinan kolotok kecil, hiasan yang berbunyi, warnanya coklat mengkilap, yang dijajakan bagi para wisatawan. Tapi perhatian itu berubah setelah mengobrol dengan Jaro Sami pada malam hari, 6 Juli 2019, di rumah menantunya, di Cibéo, Desa Kanekes, Banten.

Menurut Jaro Sami, warga Kanekes, memanfaatkan apa yang disediakan alam untuk kehidupannya. Cariu (Entada phaseoloides (L.) Merr.) adalah liana besar yang memanjat tinggi ke kanopi hutan tropis dataran rendah.

Ukuran liananya ada yang sebesar tubuh orang dewasa. Tentang manfaat cariu, seperti dituturkan Jaro Sami, kulitnya yang ditumbuk halus, lalu dicampur air, dapat diguanakan sebagai pembasmi serangga yang menjadi hama padi.

Di Negeri Tiongkok, cariu sudah lama dimanfaatkan dalam pengobatan, seperti yang ditulis dalam buku Pengobatan Cina. Biji cariu, misalnya, dimanfaatkan dalam pengobatan Tiongkok klasik sebagai antikanker, membantu membunuh amoeboid, mengurangi peradangan, pembengkakan, dan menghilangkan rasa sakit, mengobati sakit tenggorokan, dan dapat menghentikan pendarahan yang disebabkan oleh wasir. Biji cariu dapat mengatasi penyakit bengkak pada kaki dan kelumpuhan.

Dalam ramuan obat gosok yang diproduksi saat ini, terdapat 20-24 jenis tanaman, satu di antaranya adalah cariu. Dalam kemasannya dituliskan manfaat obat gosok tersebut, yang mampu mencegah, mengobati, dan menyembuhkan: retak tulang, patah tulang, memar karena benturan, keseleo, meredakan bengkak dan rasa sakit, meredakan pegal linu dan rasa lelah, meringankan rasa sakit rematik, melancarkan sirkulasi darah, dan gigitan serangga.

Bagaimana pemanfaatan cariu di Nusantara, K Heyne (1927), menuliskan tentang tumbuhan ini berdasarkan berbagai laporan penelitian, tulisan dalam jurnal, dan majalah. Cariu merupakan liana yang sangat besar. Di Pulau Jawa tumbuh di bawah 800 m dpl.

Menurut Hasskarl, seperti dikutip K Heyne, manfaat cariu adalah: Batang cariu yang dipotong akan mengeluarkan cairan, lalu cairan itu diminum, dapat mengobati murus darah.

Rhumpius menulis, kemudian dikutip oleh K Heyne, bahwa orang Ambon menggunakan cairan yang ke luar dari batang yang dipotong sebagai obat kejang perut. Sementara di Ternate, parudan/tumbukan batang cariu yang dilarutkan dalam air, digunakan untuk mencuci pakaian dan keramas. Di Pulau Jawa biasa digunakan untuk keramas dan membunuh kutu kepala.

Buahnya berupa polong, ada yang ukurannya sebesar telapak tangan, panjangnya satu meter lebih. Namun, pada umumnya berukuran lebih kecil. Polongnya ada yang lurus, ada juga yang bengkok. Biji dalam polongnya antara 7 sampai 15 biji, ukurannya besar membundar, pipih, berwarna coklat mengkilap.

Bijinya yang muda, setengah tua, berwarna merah muda, digunakan untuk mencuci rambut. Isinya yang masih lunak, diremas sampai menyerupai bubur, lalu digosokan ke rambut sampai rata.

Bijinya dapat dipanggang sampai kulitnya pecah, lalu isinya dimakan. Rasanya agak pahit, dan bisa membuat pusing. Rumphius menyarankan, biji yang sudah dibakar itu sebaiknya direndam dalam air selama sehari semalam. Hasskarl menulis, seperti dikutip Hayne, biji yang telah dipanggang sering dimakan oleh wanita yang habis melahirkan untuk memulihkan badannya.

Dalam penelitian saat ini, cariu banyak diteliti, seperti oleh Jismi Mubarrak, dkk, dimuat dalam Jurnal Ilmiah Edu Research Vol. 4 No. 2, Desember 2015, yang menyimpulkan,  bahwa residu ekstrak biji cariu memiliki potensi sebagai antioksidan.

Tingginya nilai antioksidan disebabkan banyaknya kandungan senyawa fenolik yang terdapat pada residu ekstrak tersebut. Menurut Rababah, et.al., 2010, antioksidan itu merupakan molekul yang mampu memperlambat atau mencegah oksidasi dari molekul lain dengan cara mengikat, mengadsorbsi dan menetralkan radikal bebas menjadi senyawa stabil.

Manfaat cariu sudah lama diketahui. Perlu terus melakukan penelitian yang bertalian dengan jenis tanaman merambat ini.***

Bagikan: