Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Angin ke Cibéo

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

JEMBATAN bambu Kanekes/HAWE SETIAWAN
JEMBATAN bambu Kanekes/HAWE SETIAWAN

MANG Sanip menyalakan pelita. Bahan bakarnya minyak kelapa, sumbunya kain perca. Wadah minyaknya sepertiga batok kelapa, didudukkan di buku bambu. Di kedua sisi pangkal bambu, tersisa bagian batang yang lebih panjang. Kedua ujungnya disambungkan dengan belahan bambu sejenis, dikasih pengait di tengah-tengahnya. Dengan itu, lampu kecil itu dapat menempel ketiang rumah. Itulah lampu totok, satu-satunya alat penerangan buat sepanjang malam.

Rumah keluarga Sanip adalah salah satu di antara sekian rumah di Kampung Cibéo, Banten yang menampung kami, peserta ekskursi Matabumi, buat ikut bermalam pada 6 Juli lalu.

Rumah panggung berdinding anyaman bambu dan beratap daun kiray terbagi atas dua ruangan. Hanya ada satu pintu buat keluar-masuk. Di salah satu pojok terdapat hawu alias tungku. Sesekali kawanan ayam berkotek di kolong rumah. Sambil duduk bersila di atas palupuh yang mengkilat, kami bercengkerama sambil menikmati kopi yang dituang ke dalam cangkir bambu.

Malam itu kami makan enak sekali. Salah satu menunya yang unik adalah sayur daun seuhang. Kata si empunya rumah, daun itu berasal dari tanaman liar, sejenis perdu yang tumbuh sendiri di huma. Dikasih garam dan santan, diolah seperti lodeh, daun itu jauh lebih empuk ketimbang buntil daun ketela. Nasi mengepul dalam baris, sejenis boboko yang pinggangnya ramping. Ikan asin, juga empal, tak kalah sedapnya.

DAUN peuhang/T BACHTIAR

Makan malam yang hebat dan obrolan ringan yang hangat terasa jadi penawar lelah. Sebelumnya, para petualang akhir pekan mesti berjalan kaki dari Cijahé, naik-turun bukit menyusuri perkampungan adat, tak kurang dua jam lamanya.

Setelah makan dan mengobrol, kami tergeletak sendiri kayak rombongan pengungsi, tidur nyenyak tanpa gangguan nyamuk. Keesokan paginya kami mandi dan buang air di kali. Di situ kami belajar membersihkan badan tanpa pasta gigi, sabun, atau sampo. Air pegunungan yang sejuk dan jernih menjadikan badan terasa segar dan hati jadi gembira.

Luar dan dalam

Mang Sanip adalah menantu Jaro Sami. Jaro adalah pemimpin warga di bawah pemimpin tertinggi yang disebut puun. Hari itu, segenap warga Cibéo berada di bawah naungan Puun Jahadi. Jaro Sami bertugas sebagai pemangku adat atau jaro adat. Untuk urusan pemerintahan, ada pemangku lain yakni Jaro Saija, yang memikul tugas sepeninggal mendiang Jaro Dainah.

Malam itu, Jaro Sami berkunjung ke rumah menantunya. Seperti umumnya warga setempat, ia bertubuh ramping, pejal, dan berkulit bersih. Ikat kepala dan kemejanya putih, sedangkan kain penutup bagian bawah tubuhnya di atas lutut berwarna hitam dan bergaris-garis putih. Dalam pandangan saya, wajahnya memancarkan karisma.

Jaro Sami mengaku berusia lebih kurang 60 taun, tapi menurut kesan saya, ia tampak lebih muda daripada umurnya. Katanya, ia lahir pada “jaman gorombolan”, maksudnya zaman pemberontakan DI/TII pada pertengahan dasawarsa 1950-an. Yang pasti, ayah tiga anak itu sudah 25 tahun memikul tugas sebagai jaro adat.

Tugas ti kolot pikeun ngurus warga supaya teguh adat (tugas dari leluhur untuk mengurus warga supaya teguh memegang adat),” katanya.

Warga adat di Cibéo, menurut Jaro Sami, meliputi lebih dari 600 orang yang terhimpun ke dalam sekitar 150 kepala keluarga. Terdapat sekira 105 rumah di kampung itu. Satu rumah dapat ditempati oleh lebih dari satu kulawarga. Dalam kehidupan sehari-hari mereka, ada pula warga kasepuhan yang sering tinggal di saung sambil mengelola kebon.

Kampung Cibéo termasuk dalam bagian “jero” (dalam) dari tatanan kasepuhan di Kanékés. Sejak dulu, masyarakat luas suka memakai sebutan “baduy” buat menunjuk urang Kanékés dan sampai sekarang istilah itu tetap dipakai, tak terkecuali dalam administrasi pemerintahan setempat.

Desa Kanékés termasuk dalam wilayah Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Kanékés adalah kasepuhan Sunda yang terletak di pegunungan Kendeng, di belahan selatan Banten (kebetulan, nama pegunungan ini sama dengan nama pegunungan di belahan tengah dan timur Jawa). Kasepuhan itu terhampar di dalam hutan, di sepanjang lika-liku aliran sungai Ciujung.

Bagian inti atau wilayah jero dari kasepuhan itu meliputi tiga kampung yakni Cibéo, Cikertawana, dan Cikeusik dengan Arca Domas sebagai wilayah sakralnya.

Dalam kronik-kronik Belanda dulu, ketiga kampung itu sering disebut “binnenkampongs” alias “Baduy Jero” menurut sebutan orang banyak hari ini. Di luar atau di sekitar garis batas wilayah jero, terdapat pula banyak wilayah permukiman urang Kanékés yang tergolong ke dalam “buitenkampongs” alias “Baduy Luar”.

Kalau saya tidak keliru, pembedaan jero dan luar bukan hanya berkaitan dengan letak kampung, melainkan juga berkaitan dengan cara adat-istiadat yang dijunjung atau cara perubahan kehidupan berlangsung. Wilayah jero bukan hanya lebih jauh, melainkan juga lebih ketat ketimbang wilayah luar.

Sejumlah catatan

Dalam perjalanan dari Bandung ke Rangkasbitung, saya membuka-buka notes. Ada catatan dari buku Herinneringen van Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat (1936), memoar bangsawan Banten yang semasa hidupnya pernah jadi regent atau bupati di Serang. Achmad Djadiningrat (1877-1943) sempat mencatat keterangan mengenai urang Kanékés dari Naseuni, kokolot dari Cikeusik.

Batara Toenggal had vijf zoons, waarvan de oudste, Batara Tjikal, kinderloos stierf en nu naast zijn vader de wereld regeert. Zijn tweede zoon, Batara Patandjala, bestuurt speciaal het volk van Kanèkès (Badoejs), terwijl de overige drie zonen de regeerders zijn der Salawè Nagara (vijf en twintig landen). Batara Patandjala had verscheidene zonen, zijn jongste zoon heette Batara Boengsoe. Van deze stammen af de Poeoens van Tjibeo…,” ujar Achmad Djajadiningrat dalam tulisannya.

Kalau saya tidak keliru menafsirkan, para leluhur yang jadi puun Cibéo adalah keturunan Batara Bungsu.

Bataran Bungsu adalah anak termuda Batara Patanjala. Batara Patanjala, sebagai leluhur urang Kanékés, adalah anak kedua dari Batara Tunggal.       

Dalam obrolan dengan kami malam itu, Jaro Sami memakai sebutan “Adam Tunggal”. Katanya, dialah yang jadi wiwitan, cikal-bakal kita semua. Dengan kata lain, masyarakat Kanékés adalah saudara se-Adam bagi masyarakat lainnya. Kami, para tamu, adalah saudara se-Adam bagi masyarakat Kanékés.

Cincin emas dan ponsel

Taruh kata perubahan kehidupan atau pengaruh dari sana-sini dapat diibaratkan seperti angin. Dalam pandangan saya, wilayah luar tampak seperti penahan angin bagi wilayah jero, seperti pepohonan dan punggung gunung yang melindungi rumah-rumah nun di jantung kampung. Tentu, angin itu tidak bisa sepenuhnya dibendung. Ia hanya dapat ditahan supaya tiupannya tidak begitu kencang, sedangkan jangkauannya merasuk jauh, bahkan ke wilayah jero.

Daya pikat masyarakat adat telah lama menimbulkan minat turis. Saya adalah bagian dari orang banyak yang tertarik untuk ikut berkunjung. Adapun turisme menimbulkan banyak hal seperti layanan transportasi, porter, pemandu perjalanan, paket makanan, penginapan, cenderamata, dan sebagainya. Tumbuhlah ekonomi uang. 

Di Cibéo, saya makan dengan mangkuk porselen dan sendok alumunium, serta menuangkan air minum dari botol beling. Penjaja kopi dan mi instan bahkan sudah berkeliling sejak pukul 6 pagi. Sampah plastik bukan barang langka di sepanjang jalan setapak.

Di wilayah-wilayah luar seperti Katuketug atau Cibungur, listrik dan televisi memang tidak ada. Namun lipstik, cincin emas, ponsel, dan pemilu sudah masuk ke situ.

Pagi hari setelah ikut bermalam di wilayah jero, sementara sebagian teman saya memilih jalan lewat jembatan akar, saya bersama istri dan sejumlah teman pulang dengan memilih jalan dari Cibéo ke Cibolégér. Kami berjalan kaki melewati entah berapa punggung bukit dan meniti sekian jembatan bambu. Usia di atas 50 masih bisa dipaksakan untuk perjalanan infanteri selama tidak kurang dari 6 jam.

JEMBATAN akar di Kanekes/T BACHTIAR

Di Kaduketug, kami singgah di salah satu warung yang menyediakan cenderamata. Kami membeli beberapa gula aren dan sepasang cangkir bambu. Pemilik warung bukan main cantiknya. Ia mengenakan kain dan kebaya. Bibirnya dikasih lipstik merah, sedang jari manis, jari tengah, dan telunjuknya dihiasi cincin emas.

Istri saya sampai beberapa kali memuji kecantikannya. Selagi kami berbincang, anak pemilik warung, yang usianya belum lagi 5 tahun, keluar menghampiri kami sambil memegang ponsel. Suara musik terdengar dari telefon pintar itu.

Sebagaimana yang selama ini berlangsung, angin dari sana-sini senantiasa bertiup ke Kanékés. Sebaliknya, juga sebagaimana yang selama ini berlangsung, Kanékés senantiasa menjaga serta menyampaikan amanat untuk memlihara tanah ulayat, menjaga hutan lindung, dan menghayati adat istiadat.

Neda sih pangampunten, Jaro Sami. Hatur séwu nuhun, Matabumi.***

Bagikan: