Pikiran Rakyat
USD Jual 14.075,00 Beli 14.173,00 | Cerah berawan, 31.4 ° C

Kustomisasi Universitas

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

Peneliti Komunikasi Politik, Dosen FPIPS UPI

TIDAK mudah bagi Putri untuk menjawab pertanyaan ayahnya tentang pilihan universitas dan program studi (prodi) yang akan dimasukinya. Bukan karena takut bersaing, sebab nilai ujian tulis berbasis komputer (UTBK) yang diraihnya cukup tinggi. Bukan pula karena bayang-bayang masa depan selepas menyelesaikan kuliah, sebab dia yakin gambaran masa depan bergantung kepada lukisan yang dia buat hari ini.

Apa yang menyulitkan Putri terkesan teknis. Putri yang terlahir pada 2001 terbiasa dengan pilihan-pilihan yang sangat kustomisasi. Telepon pintar yang tak pernah lepas dari genggamannya benar-benar menjadi sahabat yang setia mengantarnya kemana pun dia mau.

Seperti yang dia alami saat berbelanja online, yang sejak beberapa tahun membuatnya meninggalkan (atau setidaknya banyak mengurangi) belanja langsung di mall, dia bisa berekspresi bebas. Ketika dia harus memilih kelir mengacak corak membuatnya diperlakukan secara personal.

Sang penjual bukan hanya tahu seleranya, tetapi menyapa layaknya seorang sahabat yang untuk sekian waktu tak bertemu. “Hai Putri, selamat berbelanja kembali”, itu greeting yang ia dapatkan saat membuka aplikasi, dan membuatnya merasa bahwa pengelola toko online benar-benar mengenalnya secara pribadi.

Ketergantungan pada teknologi dan realitas digital makin kuat tatkala dia harus bersiap menghadapi UTBK. Ketika merasa kesulitan memecahkan soal-soal latihan saat try out, dia tidak berusaha menambah jadwal les atau mengundang guru privat, melainkan melatih diri memecahkan soal-soal ujian dengan bantuan YouTube.

Pun ketika membutuhkan data tentang definisi, arti istilah, atau tahun-tahun kejadian, dia menoleh ke kamus elektronik atau bertanya ke Google. Karenanya, ketika dia belajar, tidak berkubang buku seperti ayahnya beberapa tahun silam.

Seperti umumnya gen-Z, mereka melakukan banyak hal sendiri. Boleh jadi, kisah sukses aktor atau atlet hebat yang melakukan latihan dengan panduan video meningkatkan kepercayaan mereka tentang efikasi media digital.

Seperti Julius Yego dari Kenya yang belajar lempar lembing dengan melihat video di YouTube dan mengantarnya sebagai juara pada sebuah perlombaan tingkat internasional, peta jalan seperti inilah yang ditempuh gen-Z dalam menyiapkan UTBK, atau memecahkan persoalan lainnya.

Pengalaman digital seperti itulah yang tidak nyambung dengan pilihan-pilihan yang ada saat dia harus memutuskan ke universitas mana akan mendaftar dan pada prodi mana akan kuliah. Kesulitan pertama, saat dia memilih prodi yang harus linier dengan UTBK yang diikuti. Dia ingin memilih sebuah prodi di dua universitas yang berbeda sebagai pilihan pertama dan kedua, namun tidak bisa dia lakukan karena pengelompokan prodi di kedua universitas tersebut tidak sama.

Pada sebuah universitas yang ada di kotanya, prodi tersebut masuk kelompok sains dan teknologi, sedangkan pada universitas di kota lain tergolong ke dalam rumpun sosial dan hukum. Padahal, dia hanya berkesempatan memilih dua prodi dari kelompok yang sama (dalam hal ini sains dan teknologi karena mengikuti UTBK IPA di sekolahnya). Kondisi inilah yang memaksanya memilih prodi yang tidak begitu disukainya sebagai pilihan kedua, dan mendaftar jalur ujian mandiri agar bisa memilih prodi yang dia sukai (sebagai plan B) pada universitas lain.

Kesulitan kedua (ini yang paling tidak relevan dengan pengalaman digitalnya), saat harus memilih salah satu prodi, dia tidak benar-benar yakin dan seratus persen menyukainya. Mengapa? Ketika dia melihat daftar mata kuliah yang ditawarkan, dia menemukan mata kuliah yang tidak disukainya, dan pada saat yang sama, tidak melihat mata kuliah yang diinginkannya.

Sayangnya, tidak seperti saat dia berbelanja online -yang membuatnya bisa memesan corak dan warna, dia tidak bisa menolak atau mengusulkan mata kuliah yang diinginkannya. Daftar mata kuliah itu telah menjadi “menu akademik” yang harus dilahapnya. Sama seperti orang sakit yang harus makan karena tubuh dinilai membutuhkannya, meski menu yang terhidang sama sekali tidak merangsang seleranya.

Inilah ironinya. Kalangan kampus telah banyak bicara generasi Z, yang terlahir pasca 2000-an. Mereka pun terbiasa melafalkan ciri-ciri dan tabiat generasi Z, termasuk kegandrungannya pada kustomisasi gaya hidup dan pola konsumsi, namun nyatanya gagal memberikan pengalaman pribadi yang membuat para calon mahasiswa merasa sebagai pribadi yang cukup dikenal manajemen universitas.

Inilah tantangan universitas ke depan, melakukan kustomisasi. Bukan semata untuk menciptakan kesan bahwa universitas melek teknologi, namun lebih karena tanggung jawab moral memberi layanan akademik yang sesuai dengan minat, bakat, kebutuhan, dan proyeksi masa depan yang dilukis di benak mahasiswanya.***

 

Bagikan: