Pikiran Rakyat
USD Jual 14.075,00 Beli 14.173,00 | Cerah berawan, 31.4 ° C

Iman Bobotoh Sedang Diuji

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

PELATIH Persib Bandung Robert Rene Alberts memberikan keterangan kepada wartawan saat konferensi pers usai pertandingan di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat 5 Juli 2019.*/IRFAN SUBHAN/PR
PELATIH Persib Bandung Robert Rene Alberts memberikan keterangan kepada wartawan saat konferensi pers usai pertandingan di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat 5 Juli 2019.*/IRFAN SUBHAN/PR

BISA dikatakan Liga 1 2019 musim ini adalah salah satu yang terburuk bagi Persib dalam hal memulai kompetisi. Rentetean hasil minor tak hanya terjadi ketika pertandingan tandang namun juga ketika berstatus sebagai tuan rumah. Jika prinsip bermain imbang di kandang adalah sama dengan kalah, maka bisa kita hitung bahwa anak asuh pelatih sekaliber Robert Alberts tengah menuai kekalahan berseri.

Jika hal ini terus berlanjut tentunya akan berdampak buruk, tak hanya terkait posisi di klasemen yang terus melorot, namun juga persepsi publik terhadap manajemen. Terlebih segelintir pihak yang kecewa dengan sistem penjualan tiket online mulai mengaitkan hasil buruk di lapangan dengan penerapan sistem penjualan tiket online, yang tentu saja sesungguhnya tak memiliki korelasi yang logis dan terukur.

Maksimal di Jakarta

Emosional adalah salah satu ciri khas yang dimiliki oleh suporter sepak bola. Maka kekecewaan bobotoh yang membuncah usai kekalahan memalukan 0-4 dari Persebaya harus tersalurkan agar tak menjadi beban perasaan. Maka caci maki dan ekspresi makian mulai mengalir sejak paruh babak pertama laga Persebaya-Persib Jumat lalu, media sosial sebagai media penyaluran emosi kekinian tentu menjadi favorit bobotoh generasi milenial. Selain hujatan di mikro blogging twitter, gelombang ekspresi negatif pun saya temui di Instagram, bahkan komentar-komentar pedas bobotoh di kolom akun resmi Persib jumlahnya mampu melampaui jumlah komentar netizen di postingan klub raksasa Real Madrid terkait keberhasilan mereka ketika menjadi juara Liga Champion 2018.

Karena alasan emosional itu pula, maka sesungguhnya bobotoh akan bisa “memaafkan” rangkaian hasil buruk sebelumnya andai Persib mampu bermain maksimal apalagi bisa menuai kemenangan ketika dijamu tuan rumah Persija Jakarta Rabu mendatang. Trend rivalitas antara kedua tim yang merembet hingga keluar lapang diyakini akan membuat laga ini sengit dengan bumbu-bumbu tensi tinggi luar lapang. Gengsi, pengakuan hingga harga diri jelas akan menyelimuti persepsi pendukung kedua tim (Persib dan persija), sehingga untuk bobotoh akan kembali dilanda anggapan “boleh kalah dari tim manapun asal jangan dari Persija”. Oleh karena itu para pemain harus bisa memanfaatkan momentum terbaik untuk mencuci “dosa”, jika berhasil menjadi pemenang maka dijamin bobotoh akan melupakan hasil-hasil buruk sebelumnya.

Membuktikan keyakinan

Bicara tentang iman dalam konteks tulisan ini tentu tak perlu dikaitkan dengan hal-hal keagamaan ataupun spiritual-religius. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa ketika kita meyakini dan percaya terhadap sesuatu, maka masa-masa terpuruk adalah saat yang tepat untuk menguji dan membuktikan keyakinan itu. Mereka yang mengklaim mendukung suatu klub di masa jaya, menikmati pesta kemenangan dan mencitrakan diri sebagai bagian dari lingkaran klub tersebut tentu bukanlah hal yang istimewa. Namun mereka yang tetap meyakini, percaya, dan mengalirkan asa dalam fase keterpurukan tentu akan lebih bisa menghargai arti cinta, tak peduli hasil ataupun anasir lain yang memengaruhinya. Dalam hal kesetiaan dan sabar, sesungguhnya bobotoh Persib telah cukup teruji, mereka tetap loyal dan setia menemani selama 19 tahun paceklik gelar sejak tahun 1995, mereka terbiasa dengan skuat dan materi tim yang gurem setiap tahunnya, mereka menerima ketika Persib tak pernah dianggap menjadi pesaing serius, bahkan adakalanya Persib nyaris degradasi dalam kurun waktu 19 tahun itu. Akan tetapi jangan pernah menganggap tingkat kesabaran itu akan sama ketika Persib berhasil menjadi juara pada tahun 2014, karena setelah terbukti bahwa Persib ternyata bisa juara lagi, maka tingkat kesabaran bobotoh menjadi sangat sensitif, parameter mereka bukan lagi juara tahun 1995 namun juara tahun 2014. Sehingga bobotoh ingin terus mengulang kejayaan itu, jika masa 1995-2014 mereka bisa bersabar, maka era setelah 2014 bobotoh akan menjadi tampak tergesa-gesa dan tidak sabaran. Ekspektasi terlalu membuncah, terbiasa dengan harapan dan dalam kondisi bahwa klub mereka memang salah satu klub terbaik di Indonesia yang setiap musim layak memasang target juara. ***

 

Bagikan: