Pikiran Rakyat
USD Jual 14.130,00 Beli 13.830,00 | Sebagian cerah, 27.1 ° C

Gunung Burangrang

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

SITU Lembang di dasar kaldera Jayagiri/T BACHTIAR
SITU Lembang di dasar kaldera Jayagiri/T BACHTIAR

MENITI tubir kawah tua Gunung Burangrang yang menganga dalam, melintasi jalan setapak yang tipis seperti sirip ikan. Titik tertinggi dari punggungan ini ronabuminya bergerigi, menanjak-menurun bergelombang, menjadi pembatas bagi Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Purwakarta.

Menjelang fajar, kami terus berjalan menanjak. Di sebelah utara, gawirnya menganga dalam, itulah dinding kawah tua Gunung Burangrang yang terbuka ke arah baratlaut, ke arah Darangdan, Kabupaten Purwakarta. Di arah utara - timurlaut, terdapat beberapa kerucut, merupakan bagian dari dinding timur – timurlaut Gunung Burangrang.

Dari pelataran yang sempit, terlihat dengan jelas Situ Lembang, yang di bagian baratnya dibatasi dinding kaldera Gunung Jayagiri yang melengkung dari selatan ke utara, mulai Pasir Limas, Gunung Leumeungan, dst.

Di ufuk timur, langit memerah, bukit dan gunung terlihat nyata. Jadi teringat putra mahkota Kerajaan Sunda Bujangga Manik yang berkelana dari perguruan ke perguruan di sepanjang Pulau Jawa sampai Bali.

Dari puncak Gunung Burangrang, terlihat jelas kerucut Bukit Tunggul di sebelah timur, dengan rangkaian gunung-gunung yang berbaris ke selatan. Di arah selatan terlihat Gunung Cikuray di kejauhan, ada Gunung Malabar dan Gunung Patuha. Di barat, terlihat Gunung Gede-Pangrango membiru, dan gunung-gunung di Provinsi Banten.

Dari puncak Gunung Burangrang, kronologi letusan Gunung Jayagiri, Gunung Sunda, dan Gunung Tangkubanparahu dapat direkonstruksi dengan sangat baik. Bentang alam yang megah ini dapat dijadikan media pembelajaran dalam skala yang sesungguhnya dan nyata. Jejak bentang alamnya terlihat nyata, pada saat mendaki Gunung Burangrang tanggal 1-2 Juli 2019.

Gunung Burangrang (2.064 m dpl) merupakan gunungapi tua yang berada di utara Bandung. Gunung ini tumbuh di pinggir lingkaran kaldera Gunung Jayagiri.

Periode letusan dahsyat dari tiga generasi gunungapi ini, diawali dengan letusan (Gunung Jayagiri), yang terjadi antara 560.000-500.000 tahun yang lalu.

Letusan plinian dengan tekanan gasnya yang tinggi, telah menghamburkan material dari dalam tubuh gunung, lalu ambruk membentuk kaldera Gunung Jayagiri.

Dari kaldera Gunung Jayagiri ini tumbuh membangun dirinya menjadi Gunung Sunda. Gunung yang tingginya + 4.000 m dpl ini meletus dahsyat antara 210.000-105.000 tahun yang lalu, membentuk kaldera Gunung Sunda (kaldera generasi kedua), yang lingkaran kalderanya beririsan dengan kaldera Gunung Jayagiri.

Dari kaldera Gunung Sunda ini kemudian lahir generasi ketiga, yaitu Gunung Tangkubanparahu, yang meletus besar sekitar 90.000 tahun yang lalu. Gunung ini termasuk gunungapi tipe A yang masih aktif sampai sekarang.

Dilihat dari selatan, ronabumi Gunung Burangrang berlembah dalam dengan punggungan yang jarang. Berbeda dengan lereng selatan Gunung Tangkubanparahu yang masih rata. Ronabumi ini menandakan perbedaan umur di antara dua gunung ini. Artinya, umur Gunung Burangrang jauh lebih tua dari Gunung Tangkubanparahu.

Lereng gunung yang jarang inilah yang menginspirasi penduduk saat itu untuk menamainya Gunung Burangrang.

Asal kata Burangrang

Nama geografi Burangrang, akar katanya rang, lalu berubah menjadi rangrang yang berarti jarang. Bentukan kata yang berasal dari akar kata rang, yang bermakna jarang, dapat dijumpai dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia, seperti: a-rang, ca-rang, ca-rang-cang, ca-rang-ka, ja-rang, rang-ke-bong, nga-rang-rang-an, boeh la-rang, rang-ka, ke-rang-ka, rang-gas, rang-kas, yang semuanya merujuk pada akar kata rang yang berarti jarang.

Dalam bahasa Spanyol, lereng gunung berlembah dalam seperti lereng selatan Gunung Burangrang, dinamai barranco (dibaca barrangko). Istilah ini digunakan untuk menamai lembah yang mirip parit yang dalam, bertebing curam, jurang, ngarai, sebagai hasil erosi dalam waktu yang sangat lama.

Gunung Burangrang dapat dikelompokan ke dalam gunungapi tua, karena wujud gunungnya masih terlihat jelas. Gunung ini pernah meletus, disusul dengan guguran puing yang sangat besar, yang menggerus sebagian tubuhnya, meninggalkan jejak robekan ke arah baratlaut yang dalam.

Perbekalan selama pendakian harus dipersiapkan dan dibawa dari bawah. Di lintasan pendakian, apalagi di puncak, tidak ada sumber air. Air minum harus diperhitungkan dapat mencukupi kebutuhan selama pendakian dan pada saat turun, ditambah air untuk keperluan memasak.

Karena sempitnya bidang lahan untuk memasang tenda, maka lokasi berkemah harus diatur dengan baik di setiap punggungan yang datar. Sangat disarankan untuk tidak berkemah di puncaknya, karena titik tertinggi gunung ini akan menjadi tujuan semua yang mendaki.***

Bagikan: