Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 18.4 ° C

Citeureup

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

DAUN teureup/T BACHTIAR
DAUN teureup/T BACHTIAR

BILA berada di sekitar perkantoran Pemda Kabupaten Bandung di Soreang, di sebelah barat perkantoran itu terdapat Gunung Sadu (895 mdpl.). Di puncaknya, terdapat pohon teureup (Artocarpus Elasticus). Yang menyolok dari pohon teureup di Gunung Sadu, batangnya, dari bawah sampai atas, penuh dengan luka bacok yang sudah kering, sehingga tampak banyak tonjolan memanjang dan permukaan batangnya terlihat kasar.

Pastilah itu ulah para pengambil getah teureup, yang terkenal sangat lengket. Bila batang pohon dilukai dengan pisau atau golok, akan keluar getah/lateks yang kental berwarna putih.

Getah itu sudah masyhur untuk ngaleugeut, merekat burung. Getah teureup dililitkan di ranting pohon yang sering dihinggapi jenis burung yang diinginkan. Bila burung menginjak getah itu, maka tamatlah riwayatnya sebagai binatang yang merdeka terbang di alamraya.

Saking lengketnya getah teureup, oleh masyarakat dianalogikan dengan asihan atau jampi-jampi pemikat wanita atau laki-laki yang matih, yang dapat dengan seketika memikat wanita atau pria yang diinginkan. Asihan atau jampi-jampi yang manjur itu disebut asihan si leugeut teureup!

Secara umum, pohon teureup itu besar, tingginya dapat mencapai 40-65 m, dengan daun berwarna hijau lebar. Daun dan buahnya mirip kluwih (Artocarpus altilis Park. ex Zoll. Forsberg).

Musim berbuahnya antara bulan Oktober sampai Desember. Teureup tumbuh di tempat yang panas dan lembab, dan banyak dijumpai di lereng-lereng atau bantaran sungai.

Masyarakat di Tatar Sunda sudah mengenal pohon ini dengan segala manfaatnya. Karena banyak terdapat di seluruh tatar Sunda, maka hampir di setiap daerah ada nama geografi Citeureup, seperti di Bogor, Bandung, Cimahi, Garut, Cibinong, Cianjur, Ciamis, Sumedang, Kuningan, Majalengka, Cirebon, Banten, dan Jakarta. Bahkan dipakai juga menjadi nama burung, yaitu burung jingjingteureup.

GERBANG Tol Citeureup/T BACHTIAR

Karena ada di sekitar tempat hidupnya, masyarakat mengenal bagian-bagian dari pohon ini dengan segala manfaat dan khasiatnya. Sampai sekarang, masyarakat Baduy masih memanfaatkan kulit teureup dari batang yang masih muda untuk berbagai keperluan.

Setelah kulit teueup bagian dalam yang putih dikelupas dari kulit bagian luarnya yang kasar berwarna abu, lalu dijemur sampai kering. Kulit yang menjadi berwarna gading ini kemudian dipintal menjadi lilitan tambang berukuran kecil.

Tambang kecil sebesar lidi inilah yang akan dirajut menjadi koja, kantung jaring khas Baduy. Anak-anak mudanya membuat lilitan-litan tambang yang lebih kecil, lalu dirajut menjadi gelang.

Biji teureup pada masa lalu dapat dijadikan minyak rambut. Rebusan kulit batangnya berkhasiat untuk mengobati sakit perut, sedangkan getahnya dapat diminum untuk menghentikan diare atau mencret. Rebusan daunnya berkhasiat untuk mengobati cacingan.

Kini, pohon teureup sudah langka, lereng-lereng bukit dan gunung yang semula hutan alami, dengan pohon-pohon khas setempat yang menjadi ciri bumi di suatu kawasan, kini sudah beralih fungsi dengan jenis pohon atau tanaman lainnya yang seragam, yang dianggap mempunyai nilai ekonomi, tapi mengabaikan kelestarian alam, yang berdampak kehancuran ekonomi yang sangat besar bila terjadi longsor, dan tergerusnya tanah pucuk ke lembah-lembah, kemudian mengendap di dasar sungai.

Kini, manfaat dan khasiat dari pohon teureup sudah banyak dilupakan. Getah teureup, misalnya, sudah jarang digunakan untuk ngaleugeut burung. Menangkap burung saat ini, seperti yang dilakukan oleh penduduk di lereng utara Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya, yaitu dengan cara merentangkan jaring yang terbuat dari tali plastik yang panjangnya mencapai 50-100 meter, dengan lebar tiga meter. Dengan cara itu, proses pemusnahan beragam jenis burung menjadi lebih cepat lagi.

Pengetahuan masyarakat tentang pengobatan yang bersumber dari alam sudah banyak terkikis, penelitian dan uji laboratorium secara ilmiah belum banyak dilakukan, sementara serbuan produk industri kesehatan dari perusahaan besar dunia yang sangat gencar melalui berbagai saluran media televisi dan media sosial, sudah mengakar samai di pelosok desa.

Kini, masih adakah pemuda yang mau menggunakan biji teureup sebagai minyak rambut? Masih adakah yang memanfaatkan daun, kulit, dan getah teureup untuk pengobatan bagi yang sakit?***

Bagikan: