Pikiran Rakyat
USD Jual 14.084,00 Beli 14.182,00 | Cerah berawan, 27.7 ° C

Kesaksian dalam Belukar

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

RASHOMON and Other Stories/DOK. PR
RASHOMON and Other Stories/DOK. PR

SATU peristiwa dituturkan oleh sekian orang, diceritakan menurut sekian kesaksian dan pengakuan. Itulah yang kita baca dalam cerita pendek klasik, “Dalam Belukar”, karya mendiang Ryūnosuke Akutagawa.

Cerpen yang pertama kali terbit pada 1922 itu dalam bahasa aslinya berjudul “Yabu no naka”. Karena saya tidak paham bahasa Jepang, saya hanya dapat membaca terjemahan Takashi Kojima dalam bahasa Inggris, “In a Grove”, yang terhimpun dalam kumpulan “Rashomon and Other Stories” (Tuttle, cet. ke-24, 1996).

Kisahnya masih kita ingat. Seorang samurai bernama Kanazawa no Takehiko ditemukan tewas dalam belukar di sebuah hutan pegunungan. Jasadnya ditemukan oleh seorang penebang pohon.

Sebelumnya, seorang rahib Buddha pengelana melihat sang samurai pergi berjalan kaki bersama Masago, istrinya, yang naik kuda. Menurut ibu mertua sang samurai, suami-istri itu hendak berkunjung ke Wakasa.

Bagaimana kejadiannya? Pembunuhankah? Siapa pelakunya? Bunuh dirikah? Apa sebabnya? Bagaimana dengan istrinya? Rincian kejadian sedikit demi sedikit dapat kita rekonstruksi seraya mengukuti jalan cerita, sambil menyimak suara tokoh-tokoh cerita.

Melalui Komisaris Tinggi Polisi, keterangan terhimpun dari sejumlah pihak, yaitu penebang kayu; rahib Buddha pengelana; opsir polisi yang menangkap penjahat Tajomaru; ibu mertua sang samurai; Tajomaru sang penjahat; Masago; dan sang samurai yang arwahnya bicara melalui perantara.

Jadi, ada tujuh tokoh yang hadir dalam cerita. Narator sendiri tidak hadir dalam cerita. Ia bersembunyi di suatu tempat, berjarak dari cerita. Dipersilakannya para pembaca langsung menyimak keterangan tiap-tiap tokoh, masing-masing dari sudut pandang orang pertama. Pembaca seakan duduk ti tempat Komisaris Tinggi Polisi yang menerima keterangan itu semua.

Untuk tuturan yang dikemukakan oleh tiap-tiap tokoh cerita, penerjemah memakai istilah “testimony” (kesaksian) dan “confession” (pengakuan). Testimoni disampaikan oleh tokoh-tokoh cerita yang mengenal atau melihat orang-orang yang terkait dengan kejadian, yakni penebang kayu, rahib, polisi, dan ibu mertua. Pengakuan disampaikan oleh mereka yang terlibat dalam kejadian, yakni Tajomaru, Masago, dan Kanazawa. Empat punya kesaksian, tiga punya pengakuan.

Salah satu hal yang menarik buat saya dari teknik penceritaan dengan narator berjarak seperti ini adalah peran “perantara” (medium) dalam tuturan pengakuan “korban tewas” (murdered man). Dengan kata lain, “confession” tokoh cerita di sini dikasih keterangan “sebagaimana yang disampaikan melalui perantara” (as told through a medium).

Saya tidak tahu apa istilahnya perantara seperti itu dalam bahasa Jepang. Di lingkungan budaya saya sendiri, ada sih orang pintar yang bisa menjembatani komunikasi antara orang yang masih hidup dan arwah. Suara si mati ikut memperkaya pemahaman pembaca atas kejadian yang dikisahkan.

Dengan mencatat bahwa tiap-tiap tokoh cerita bertutur dari sudut pandang masing-masing, kita mendapat gambaran perihal tiadanya pandangan tunggal mengenai kejadian. Tiap-tiap pihak mengedepankan versinya sendiri.

Sekurang-kurangnya ada tiga versi kejadian menyangkut tewasnya sang samurai. Versi Tajomaru melibatkan duel pedang. Versi Masago serupa melodrama tentang aib yang mesti ditutupi dan hidup yang mesti diakhiri. Adapun versi Kanazawa memperlihatkan tindakan bunuh diri.

Walhasil, tidaklah mudah untuk, misalnya, menilai tindakan Tajumaro, Kanazawa, dan Masago. Pada tiap versi tuturan kejadian tidak mudah pula membedakan hal yang objektif dari hal yang subjektif, hal yang nyata dari hal yang bersifat khayal.

Singkatnya, cerpen warisan Akutagawa, dengan caranya sendiri, seakan turut mengingatkan kita akan pentingnya “hikmah kebijaksanaan” dalam upaya menyerap berbagai narasi.***

Bagikan: