Pikiran Rakyat
USD Jual 13.961,00 Beli 14.059,00 | Sedikit awan, 20.5 ° C

Vertigo Kecendekiawanan

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

Peneliti Komunikasi Politik, Dosen FPIPS UPI

PPDB 2019.*/ANTARA
PPDB 2019.*/ANTARA

SEORANG teman, yang pada masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun lalu kegirangan karena anaknya diterima di sekolah favorit (unggulan, legendaris, ikon kemajuan sebuah kota atau sebutan lain yang setara dengan itu), kini terkulai lesu. Saat berjumpa pada silaturahmi usai Lebaran, dia menuturkan anaknya ingin keluar dari sekolah unggulan yang diidamkannya sejak kecil, dan meminta pindah ke sekolah “gurem” dekat rumahnya. Apa sebabnya ?

Sang anak, yang meraih nilai nyaris sempurna untuk beberapa mata pelajaran, mengincar sekolah unggulan tersebut karena reputasinya tidak diragukan. Banyak lulusannya sukses menembus perguruan ternama, baik di dalam maupun di luar negeri. Dengan reputasi yang mentereng, sang anak berharap menemukan iklim belajar yang kompetitif, karena seperti dirinya, mereka yang masuk pasti bukan murid sembarangan.

Namun apa yang terjadi? Sang anak kecewa. Pengalamannya setahun belajar di sekolah tersebut tidak sesuai harapan. Harapannya menemukan tandem belajar yang sepadan, hanya angan-angan. Impiannya ketemu murid-murid top, hanya ilusi. Dia merasa kurang tertantang, dan seolah sudah menjadi juara sebelum bertanding. Rerata nilai ujian dirinya berada jauh di atas teman-teman sekelasnya. Hatinya membatin, ke mana murid-murid hebat yang menjadi cerita turun-temurun sekolah ini ?

Lalu dia bertanya kepada gurunya, mengapa sekolah yang sejak lama diunggulkan namun menampung murid dengan kecerdasan rata-rata. Ditanya seperti itu, sang guru balik bertanya, dengan sistem yang mengharuskan murid mendaftar ke sekolah terdekat dalam satu zona, siapa yang akan mendaftar ke sekolah ini yang dikelilingi gedung perkantoran dan jauh dari pemukiman penduduk yang memiliki anak usia sekolah.

 Sang guru berusaha arif, meski ia melihat dampak buruk pemberlakukan sistem zonasi. Dengan standar kualitas yang belum merata, penerapan sistem zonasi malah memeratakan kebodohan. Dengan sistem zonasi, tak ada lagi (atau tidak akan banyak) “bintang pelajar” dari daerah yang akan mendaftar ke sekolah bagus, yang umumnya masih terkonsentrasi di pusat kota.

Hal yang disebut terakhir seringkali terdengar sebagai dalil (atau mungkin dalih) pemberlakuan sistem zonasi, yakni memeratakan kualitas pendidikan, mencegah favoritisme dan konsentrasi sekolah unggulan di pusat kota. Ini gagasan yang bagus. Sayangnya, ide ini tidak disertai usaha nyata memeratakan kualitas pendidikan, dengan mengupayakan pencapaian standar kualitas dan proses pendidikan. Jika standar proses dan kualitas pendidikan sudah merata, sehingga di mana pun murid bersekolah, mau di pusat kota atau di sekolah di ujung gang sempit, mereka akan menikmati layanan pendidikan yang sama. Dengan sendirinya, favoritisme akan meluntur.

Penerapan sistem zonasi adalah salah satu “inovasi” layanan pendidikan yang diterapkan tanpa evaluasi memadai dan tanpa memeriksa kesiapan implementasinya. Sama seperti penerapan ujian berbasis komputer misalnya, implementasi kebijakan seperti ini memakan biaya psikologis yang tinggi. Demi numpang ujian di sekolah yang memiliki lab komputer, murid-murid sekolah di pinggiran harus menginap di sekolah tempat ujian digelar.

Akhir-akhir ini banyak perubahan diberlakukan di dunia pendidikan. Sayangnya, prosesnya dimulai dari hilir. Tiba-tiba diberlakuan ujian dengan soal yang mengarah pada mode berpikir tingkat tinggi padahal dalam interaksi belajar mengajar sehari-hari masih berkutat pada domain kognitif rendahan.

Para pengambil kebijakan seolah sedang mendemonstrasikan kemampuannya melakukan perubahan meski piranti pendukungnya tidak benar-benar diperhatikan. Mereka mahir mengajukan pertanyaan problematik sekaligus pintar pula memunculkan jawabannya. Mereka seperti tengah mengidap “vertigo kecendekiawanan” (Imam Jamal Rahman, Al-Hikam Al Islamiyah, 2016). Dengan mengutip Rumi, sang penulis melukiskan penyakit ini sebagai burung yang belajar mengikat dan melepaskan ikatan tali di kakinya. Secara berulang, sang burung menciptakan ikatan yang kian rumit di sekitar kakinya dan dengan cerdas melepasnya guna memamerkan keahlian anehnya. Namun sang burung lupa, tujuan ilmu pengetahuan bukan untuk  memamerkan keahlian, tetapi untuk membebaskan diri dari belenggu yang mengekang kemajuan.

Tidak haram melakukan perubahan untuk mendorong dunia persekolahan. Namun seperti kata iklan, untuk anak (didik) kok coba-coba.

Apa pun perubahan yang diberlakukan di persekolahan harus berorientasi pada kebutuhan tumbuh kembang murid, bukan kepentingan yang lain. Daripada sekadar menggonta-ganti istilah, atau mengintrodusir mekanisme dan teknik baru padahal prosedur yang berjalan pun belum dievaluasi plus minusnya mending fokus kepada bagaimana memberi pengalaman belajar yang bermakna bagi murid, dengan menghadirkan sebanyak mungkin guru yang mampu memberi pengertian dan contoh, dengan menciptakan kelas sebagai ruang keluarga yang saling mengasihi, mengasuh, dan mengasah, serta sekolah sebagai serangkaian habituasi perilaku terpuji.***

 

 

Bagikan: