Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 17.1 ° C

Menolak Persib B

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

TIM Persib Bandung B.*/ARMIN BADUL JABBAR/PR
TIM Persib Bandung B.*/ARMIN BADUL JABBAR/PR

AWAL tulisan ini adalah pemberitahuan bahwa mereka yang akan mengajukan “ketidaksepakatan” terhadap tulisan ini dengan argumen seperti: Persib B berdampak positif untuk pembinaan, tim Persib itu tidak akan promosi ke liga 1, teori tim satelit, sister club, contoh klub eropa seperti Real Madrid, Barcelona, atau Ajax, dari awal saya menjawab bahwa saya sudah sangat paham dengan hal tersebut.

Hal yang menjadi dasar tulisan ini adalah adanya perbedaan kedalamaan filosofis. Perlu diingat juga bahwa hingga detik ini, saya menganggap bahwa secara de jure Persib B belumlah ada meski latihan dan pembentukan tim sudah dilakukan.

Dasarnya jelas, ketika saya melihat langsung berkas dokumen terkait peserta liga 2 yang dikirim operator liga ke BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia), namanya masih Blitar United, bukan Persib B. Terlebih, PSSI menyatakan bahwa pengelolaan badan hukum Perseroan Terbatas  yang akan mengelola Persib B ternyata masih perlu ditinjau kembali.

Selain itu, setiap perubahan nama klub harus disahkan melalui kongres PSSI terlebih dahulu. Saya tidak mengerti juga, apakah hal itu dilakukan karena PT. PBB (Persib Bandung Bermartabat) merasa terafiliasi dan terhubung dengan kekuasaan sepak bola Indonesia saat ini. Sehingga, PT PBB bertindak tak tertib dan mengedepankan klaim seakan legitimasi hanyalah formalitas yang pasti didapatkan.

Lisensi klub dan status

Persoalan lisensi klub bukanlah sekadar legal-formal yang terkait akuisisi dan hal-hal administratif sejenisnya. Lebih dari itu, berkaitan langsung dengan status klub sepak bola sehingga perlu melewati verifikasi dan proses-proses, baik yang diatur hukum komunitas sepak bola maupun yang bersinggungan dengan hukum nasional.

Sangat bisa dimaklumi jika PT. PBB yang akan dengan mudah menyusun argumen bagus yang “harus bisa diterima” terkait pembentukan Persib B. Misalnya saja konsep tentang pembinaan pemain muda, pengoptimalan SDM, menambah jam terbang, dan sebagainya.

Tentunya, itu semua adalah hal yang terlihat baik dan akan sulit ditolak orang-orang yang mengaku memahami sepak bola, terlebih yang melihat sepak bola dengan kacamata keluguan.

PEMAIN Persib Bandung B saat menjalani latihan di Stadion Arcamanik, Kota Bandung, Senin, 10 Juni 2019. Tim yang dihuni pemain muda dan senior itu rencananya akan berlaga di Liga 2.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

Belum lagi argumen bahwa konsep seperti itu sangat lumrah di Eropa, dengan merujuk Real Madrid ataupun Barcelona yang memiliki tim di liga sekunder Spanyol. Ada pula kepastian bahwa klub B itu tidak akan promosi ke divisi teratas.

Meski kritik tajam perlu ditujukan kepada klaim komparasi seperti ini, apakah benar klub-klub “B” di Eropa sana terbentuk dengan mengakuisisi klub lain, ataukah memang membentuk dengan inisiatif internal?

Kritik berikutnya adalah proses yang tengah berlangsung di Persib B ala PT. PBB, yang awalnya ingin menyemai bibit muda, justru diramaikan dengan keinginan untuk merekrut pemain-pemain senior yang sudah tidak terpakai di liga 1. Persib B seperti menjadi penampung pemain-pemain tua kategori “dibuang sayang”.

Sejarah dan ikatan emosional

Orang-orang yang mengenal saya pasti mengetahui bahwa saya memiliki pemikiran sepak bola yang progresif dan moderat, berorientasi modern stream, dan sebagainya.

Akan tetapi, itu berlaku terkait percepatan-percepatan yang berkaitan dengan konteks global seperti standardisasi, infrastruktur, manajerial, sports sains, atau pemasaran.

Sementara untuk hal-hal yang bersifat prinsip seperti identitas klub misalnya, saya selalu berpihak kepada pemikiran konservatif. Pernah suatu saat ada tokoh nasional yang mengeluhkan betapa sulitnya mengubah logo Persib karena resistensi dari kelompok-kelompok lama.

Padahal katanya, jika logo diubah, pengoptimalan hak ekslusif bisa dilakukan oleh klub. Tentu saya memahami argumen yang tidak salah itu. Sang tokoh itu bercerita kepada saya karena dia yakin saya mengerti argumen tersebut.

Persib/DOK. PR

Walau mengubah logo bukan hal tabu, saya tetap menginginkan logo Persib tetap sama hingga hari kiamat, yaitu logo seperti yang saat ini digunakan, karena berkaitan dengan sejarah dan sisi emosional.

Demikian juga dengan adanya klub lain yang menggunakan embel-embel Persib di kota Bandung. Walau orang yang mengelolanya masih sama, saya menganggap itu hanyalah akal-akalan untuk mengeksploitasi nama Persib.

Terlebih, caranya adalah membawa tim dari kota lain ke Bandung yang jelas-jelas memiliki basis penggemar sendiri, kemudian diotak-atik agar kemasannya bisa diterima publik Bandung.

Sejak dahulu, saya hanya mencintai dan datang ke stadion untuk satu Persib, bukan Persib B, C dan Persib lainnya. Jika ada pembinaan, tentu konsepnya adalah Persib junior (U-17 dan U-21).

Argumen bahwa Persib B tak dibentuk untuk menjadi juara justru menghina logika kompetisi. Sulit dipercaya juga jika melihat persiapan Persib B yang lumayan serius karena prasangka akan muncul bahwa jika Persib B juara liga 2, akan terjadi jual-beli lisensi klub lagi kepada pihak yang ingin bermain langsung di Liga 1 karena memang Persib B tidak akan berada selevel dengan Persib di liga 1.

Belum lagi jika kita melihatnya dari perspektif publik Blitar. Ketika mereka bersukacita klub kebanggaannya promosi ke liga 2 dan berharap promosi kota serta geliat ekonomi Blitar menggeliat, justru Blitar United “dicuri” dan dilarikan ke Bandung. Padahal, basis pendukung di Blitar sudah terbentuk.

Sekali lagi, masalah lisensi klub bukan sekadar persoalan legal-formal dan akan selalu keliru jika memindahkan klub sepak bola di tempat dia bertumbuh ke kota lainnya. Sudah terelalu banyak contoh keliru seperti itu (klub pindah kota) di sepak bola Indonesia dan saya tidak ingin Bandung menajdi bagian dari hal memalukan seperti itu.

Lebih jauh lagi, saya yakin publik sepak bola Bandung tak ingin klub yang mereka cintai terlibat dalam sinisme sepak bola seperti “Ternyata yang menguasai sepak bola Indonesia hanya segelintir orang” atau “sepak bola Indonesia memang dikendalikan oleh kelompok tertentu saja”. Sekarang Persib terlibat di dalamnya.***

Bagikan: