Pikiran Rakyat
USD Jual 13.961,00 Beli 14.059,00 | Sedikit awan, 20.5 ° C

Balé Watangan

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

KETETAPAN hukum/DOK. PR
KETETAPAN hukum/DOK. PR

BALÉ watangan adalah istilah jadul buat gedung pengadilan, dikenal baik dalam bahasa Sunda maupun bahasa Jawa.

“Balé” atau “balai” (Ind.) berarti gedung, rumah, atau kantor. Menurut Kamus Umum Basa Sunda (1995) terbitan Lembaga Basa jeung Sastra Sunda, kata “watang” bisa berarti bagian logam dari cincin, bisa juga berarti tombak.

Adapun kata “watangan” diterangkan sebagai kata serapan dari bahasa Kawi yang berarti “tempat masamoan” (tempat pertemuan).

Dalam bahasa Sunda ada juga kata “balai” (dibaca: ba-la-i) tapi artinya tidak sama dengan arti “balai” dalam bahasa Indonesia. “Balai” dalam bahasa Sunda, sebagaimana “bahla” dan “bahya”, berarti “bahaya”.

Kalau boleh saya rangkum dari kandungan arti harfiahnya, balé watangan adalah tempat masamoan yang dijaga dengan tombak. Setidaknya seperti itulah arti balé watangan dalam Kamus Basa Sunda (2006) susunan R.A. Danadibrata.

Ada masanya sejumlah tempat publik disebut atau ditunjuk dengan kata “balé”. Sebut, misalnya, “balé nyungcung” (masjid, yang atapnya mengerucut); “balé pustaka” (nama penerbit buku terkenal sejak zaman kolonial); “balé kota” (pusat pemerintahan kota atau kabupaten); dan “balé bandung” (tempat menyimak pengumuman pemerintah).

Dalam sebutan demikian, orang memperhatikan gedungnya serta fungsinya atau ciri khasnya. Gedung Sate, misalnya, adalah gedung yang ciri khasnya seperti sate di pucuk atap. Balai Iklan, sebagi contoh lain, adalah balai tempat orang mengurus pemasangan iklan.

Sekarang orang cenderung menyebut tempat publik langsung pada fungsinya, dan tidak banyak menggubris gedungnya. Ini pengadilan, itu masjid, dan seterusnya. Namun, ada juga beberapa lembaga pemerintah yang memelihara istilah “balai” dalam namanya, semisal “Balai Bahasa” atau “Balai Pelatihan Koperasi”. Akhir-akhir ini media menyebut gedung DPR RI di Senayan sebagai “gedung kura-kura”.

Ada pula pengadilan yang langgeng dalam ingatan. Di Bandung, dekat viaduct, ada sebuah bangunan antik bekas Landraad alias pengadilan negeri zaman kolonial.

Pada 1930-an Bung Karno dkk. diadili di situ karena aktivitas mereka di bidang politik, dengan pidato eksepsinya yang terkenal lewat slogan, “Indonesia Menggugat”. Sejak 2005 gedung itu dikasih nama “Gedung Indonesia Menggugat” (GIM).

Di antara sekian balai yang dikenal orang banyak, pengadilan alias balé watangan merupakan tempat yang cenderung dihindari oleh orang banyak.

Bagi orang kecil, ungkapan “unggah balé watangan” (naik ke pengadilan atau berperkara) niscaya membuat badan gemetaran.

Kata “balé watangan”, dari segi bunyinya, dekat betul dengan kata “balitungan” (perhitungan). Di balé watangan, orang mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum.

Ada pula persepsi bahwa hukum cenderung menguntungkan mereka yang kaya dan berkuasa. Hukum sering menyiksa orang kecil dan kaum papa. Persepsi semacam itu tercermin dari sumpah-serapah populer tentang jaksa di kalangan penutur bahasa Sunda. Konon, supaya pohon yang anda tanam segera berbuah, ancamlah pohon itu dengan berkata, “Akan kutebang kamu buat dijadikan padung jaksa!” Padung adalah papan penutup liang lahat.

Dalam persepsi umum, ungkapan “unggah balé watangan” kedengarannya hampir seperti aib. Banyak hal yang mesti anda indahkan supaya terhindar darinya.

Kita baca lagi, misalnya, uraian peneliti Belanda zaman kolonial J. Habbema, “Bijgeloof in de Preanger Regentschappen” (Tahayul di Keresiden Priangan). Kita abaikan dulu istilah “bijgeloof” di situ yang kiranya mengandung prasangka kolonial.

Kita petik di sini kepercayaan tradisional mengenai rincian arsitektur rumah, semisal menyangkut tinggi rumah dan ukuran pintu atau ukuran tiang. Konon, tiang yang bagus mesti berukuran presis kelipatan enam.

“Nyésa tiloe ninggang dina bingbilangan katiban kala, perbawana sok oenggah balé watangan (Lebih tiga masuk ke dalam bilangan ketiban kala, perbawanya suka berperkara di pengadilan),” demikian salah satu isi kepercayaan lama seperti yang dicatat oleh Habbema berdasarkan teks Sunda dari Adiwisastra, guru di Bandung.

Bagi orang kebanyakan, “unggah balé watangan” rupanya sama dengan mendapatkan “balai” atau “bahla” alias “bahya”. Masuk pengadilan berarti mendapatkan bahaya. Itulah barangkali yang secara tradisional disebut “katiban kala”.***

Bagikan: