Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 21.4 ° C

Pesawat (Tidak) Boleh Terlambat Asal Selamat

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

Penerbangan/DOK PR
Penerbangan/DOK PR

BELAKANGAN ini, pemberitaan terkait mahalnya tiket pesawat domestik menjadi  begitu seksi. Berbagai perspektif, teori, dan argumentasi dikemukakan. Tak ketinggalan, komparasi dari maskapai luar negeri hingga harga untuk rute di luar Indonesia yang dianggap memiliki jarak yang sama dengan beberapa rute penerbangan di Indonesia.

Berbagai respons bermunculan, dari yang sekadar opini dan gerutu warganet hingga yang paling serius tentu saja pernyataan Presiden Jokowi yang berkeinginan mengundang maskapai asing untuk “bermain” di ceruk segmen penerbangan rute domestik Indonesia.

Alasan logisnya tentu saja agar bisnis penerbangan lokal menjadi semakin sehat dan kompetitif sehingga berimbas kepada harga tiket.

Tulisan ini menyoal pengalaman-pengalaman buruk saya selama menggunakan jasa beberapa maskapai, dari penundaan penerbangan berjam-jam, kerusakan mesin, ganti pesawat, hingga pembatalan penerbangan.

Saya ingin menyampaikan pesan bahwa sekompetitif apapun harapan kita terhadap bisnis penerbangan, hanya maskapai-maskapai mapanlah yang boleh bermain di segmen ini karena kinerja mereka tak hanya berdampak kepada waktu banyak orang, tetapi juga nyawa manusia.

Waktu dan kenyamanan

Alasan mengapa memilh pesawat dibanding moda transportasi lain tentunya karena pesawat memiliki waktu tempuh paling cepat dan dianggap lebih nyaman.

Persoalan waktu itu pula yang terkadang menjadi tabu ketika berhadapan dengan penundaan keberangkatan. Karena, tak ada alasan sepenting apa pun di dunia ini yang bisa membuat seorang penumpang mendesak pilot menerbangkan pesawat sipil sesuai kehendak si penumpang.

Keterlambatan sudah menjadi fenomena yang sangat biasa dalam penerbangan domestic. Dalam konteks ini, jika bicara keterlambatan, asumsi orang akan tertuju kepada maskapai yang memang cukup populer dengan keterlambatan terbang.

ILUSTRASI kenaikan tiket pesawat.*/DOK PIKIRAN RAKYAT

Dari sekian pengalaman keterlambatan bersama maskapai ini, yang paling membuat saya selalu ingat adalah pengalaman penerbangan dari Bali ke Jakarta.

Ketika itu, seluruh penumpang diminta masuk ke dalam pesawat. Namun, pesawat tak jua terbang hingga berjam-jam lamanya. Parahnya lagi, AC di dalam pesawat tampaknya tidak menyala. Karena udara begitu panas, bayi menangis, anak-anak merengek, dan orang dewasa berteriak-teriak. Mereka marah.

Baru kali itu saya menyaksikan penumpang pesawat murka di dalam kabin karena mereka diperlakukan tidak layak sebagai konsumen bahkan sebagai manusia.

Di antara para penumpang itu, bisa jadi ada yang sedang mengejar urusan sangat penting, entah itu menemui orangtua yang sekarat atau kesepakatan bisnis milliaran rupiah.

Sungguh kerugian waktu yang tak bisa diganti, apalagi oleh maskapai yang petugasnya seringkali memilih untuk saling tuding dan lempar tanggung jawab.

Sudah tak berkomitmen terkait waktu keberangkatan, mengapa pula ada maskapai yang memilih dicaci maki para penumpang dan pemberitaan buruk di media dengan memasukkan penumpang ke dalam pesawat yang takkan terbang?

Dugaan saya adalah karena maskapai itu menghindari kewajiban mereka untuk membayar kompensasi kepada penumpang sesuai ketentuan yang diatur Peraturan Menteri Perhubungan.

Kewajiban kompensasi itu adalah bedasarkan waktu keterlambatan. Kewajibannya mulai dari menyediakan makanan ringan hingga membayar penumpang samai senilai ratusan ribu rupiah untuk keterlambatan yang tergolong parah.

Terkait tanggung jawab maskapai itu, saya ingin membandingkannya dengan apa yang saya alami beberapa waktu lalu ketika akan berangkat ke Athena, Yunani untuk menjadi pembicara di acara konferensi  internasional.

Untuk penerbangan, saya memilih maskapai terkemuka yang menjadi sponsor klub Manchester City. Ketika itu, penerbangan yang seharusnya tanggal 12 Mei 2019 diundur menjadi 13 Mei 2019. Berarti tertunda sehari penuh.'

Selama penundaan tersebut, para penumpang ditempatkan di hotel berbintang hingga penerbangan hari berikutnya.

Tentu saja kompensasi yang maskapai berikan tak ada apa-apanya jika dibandingkan reputasi mereka di dunia penerbangan.

Satu hal penting yang perlu saya ceritakan, bahwa kabarnya penerbangan kami batal “hanya” karena pilot tak ingin mengambil risiko sekecil apa pun.

Sebelumnya memang sempat diberitakan adanya kerusakan pesawat. Namun, para penumpang tetap melakukan boarding dan masuk pesawat karena kerusakan dianggap sepele dan tak terlalu signifikan. Jika kerusakannya parah, tidak mungkin ada boarding dan tidak mungkin penumpang dimasukkan ke dalam pesawat.

Keterangan itu saya peroleh dari penumpang lain yang katanya berprofesi sebagai pilot juga. Dia mengatakan bahwa keputusan akan terbang memang ada di tangan pilot. Bisa saja secara umum pesawat dianggap layak tetapi pilot merasa kurang sreg, seperti adanya lampu indikator yang mati atau gelembung di kaca jendela.

Keselamatan, keselamatan, dan keselamatan

Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam penerbangan. Pertama adalah keselamatan, kedua adalah keselamatan, dan ketiga adalah keselamatan.

Hal itu menunjukkan bahwa keselamatan adalah hal paling utama yang wajib dijamin dalam bisnis penerbangan sipil. Percuma memiliki nilai plus dalam aspek lain tetapi tak mementingkan keselamatan.

Oleh karena itu, ketika penerbangan saya dibatalkan dan ditunda sehari dengan alasan keselamatan. Saya bisa menerima, apalagi maskapai internasional bereputasi tersebut  bertanggung jawab dengan menyediakan makan dan penginapan yang layak.

PETUGAS Inspektur Kelaikudaraan DKPPU Kementerian Perhubungan dan tekhnisi Lion Air melakukan pemeriksaan seluruh mesin dan kalibrasi dengan menggunakan alat simulasi kecepatan dan ketinggian pesawat pada pesawat Boing 737-Max 8 milik Lion Air di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa, 12 Maret 2019.*/ANTARA

Sesuatu yang saya bayangkan justru bagaimana jika maskapai lokal yang mengalami kendala kerusakan yang dianggap “sepele”. Apa mereka tetap memaksakan terbang? Mengingat kompensasi yang harus diberikan kepada penumpang sangatlah menguras biaya. Terlebih, dengan menyewa ratusan kamar hotel berbintang.

Sementara untuk mengakali dan menghindari memberi kompensasi makanan ringan saja, maskapai lokal kita enggan dan lebih memilih “menyiksa” penumpang dengan memasukkannya ke dalam pesawat yang tidak terbang-terbang.

Soal mempertaruhkan nyawa penumpang dan mengabaikan faktor keselamatan, pernah saya alami pula dalam penerbangan dari Bandung ke Surabaya saat akan menyaksikan pertandingan Persib Bandung.

Ketika itu saya menggunakan jasa maskapai Adam Air yang sekarang sudah bubar. Penerbangan tertunda karena kabarnya pesawat mengalami kerusakan mesin.

Tak berapa lama, perbaikan dinyatakan selesai dan kami masuk ke pesawat. Namun apa yang terjadi, pesawat gagal lepas landas karena ternyata masih mengalami kerusakan. Hampir saja kami mati konyol andai pesawat lepas landas dalam keadaan rusak karena pesawat yang sudah akan mengudara tiba-tiba berguncang hebat dan direm mendadak oleh pilot. Akhirnya kami terbang dengan pesawat pengganti.

Belakangan, tak lama setelah insiden itu, pesawat Adam Air mengalami kecelakaan yang mengakibatkan seluruh penumpangnya tewas. Adam Air lantas berhenti beroperasi tak lama kemudian.

Sejak saat itu, saya memiliki pemikiran bahwa bisnis penerbangan memang bisnis yang mahal dan keselamatan adalah hal yang tak ternilai. Oleh karena itu, para pemainnya haruslah mereka yang bonafide dan bermodal besar agar tak banyak berhitung untung-rugi ketika memutuskan hal terkait keselamatan penumpang.*** 

Bagikan: