Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 21.4 ° C

Gembira pada Hari Lebaran

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

ILUSTRASI.*/DOK. PR
ILUSTRASI.*/DOK. PR

SEHARI menjelang Lebaran dan pada malam Lebaran, saya benar-benar tidak main ke luar rumah. Di rumah banyak makanan. Ini yang membuat saya bahagia. Malam Lebaran, emak selalu membuat kue apem.

Apemnya warna kayas, merah muda pastel. Sekitar jam 19-an, apem mulai dikukus. Ketika ada yang matang, apem panas itu saya ambil satu, lalu pergi menghilang, dan ketika kukusan yang kedua diangkat, saya segera mengambilnya lagi dengan cepat.

Sore harinya, sekitar jam 16-an, ema membuat kue bugis. Bugis itu dibuat dari tepung ketan yang sudah dicampur air daun suji secukupnya, warnanya hijau, lalu diaduk-aduk, ditekan-tekan, tepung ketan itu lama-lama menjadi adonan yang pekat atau liat.

Adonan ini lalu dipotong-potong kecil seukuran satu ruas jempol kaki, ditekan-tekan oleh jempol tangan agar pipih. Di atasnya disimpan entén, lalu ditutup kembali hingga rapi, agar tidak ada yang bolong yang membuat entén bisa keluar.

Entén itu kelapa parut yang dicampur gula merah, lalu dipanaskan di atas hawu, tungku, sampai menyatu, warna parudan kelapa berubah menjadi merah-cokelat gula kawung. Rasanya tak ada bugis yang menandingi rasa bugis buatan emak.

Daun pisangnya selalu diolesi minyak keletik, minyak kelapa buatan sendiri, sehingga ketika daun pembungkusnya dibuka, tak ada sedikitpun bugis yang menempel di daun.

Selepas asar, anak-anak sudah mulai memukul bedug yang ada di samping masjid ajengan Idim. Kami menyebutnya ngadulag. Seorang berperan jadi pemukul kohkol, kentongan. Kalau sudah selesai giliran yang ngadulag, yang bertugas sebagai pemukul kohkol mendapat giliran menjadi yang akan ngadulag. Pemukul kohkol digantikan oleh yang lain.

Dari asar sampai menjelang magrib, tak berhenti, bedug terus berbunyi, mengabarkan kegembiraan, besok Lebaran. Kegembiraan setelah berpuasa sebulan lamanya, di udara Pameungpeuk yang panas dan kering, tapi kalau subuh, terasa dingin.

Pagi buta, anak-anak suah mandi di sungai atau di pancuran. Hari ini hari Lebaran. Solat idulfitrinya di alunalun Pameungpeuk. Yang akan solat berdatangan dari berbagai kampung atau masjid di Pameungpeuk dan sekiarnya.

Dari Cikoneng berjalan beriringan seperti pawai sambil bertakbir. Datang juga dari Selatan, dari Padengdeng, dari utara, dari Cigodég, dari Paas.

Takbirannya dipimpin oleh beberapa ajengan di Pameungpeuk secara bergiliran, bertakbir dengan suara syahdu, dibantu dengan pengeras suara, sehingga terdengar ke berbagai jamaah yang meluber ke jalan-jalan di seputar alunalun.

Setelah selesai pemimpin yang memandu takbir, giliran semua jamaah yang bertakbir. Pengeras suaranya dimatikan oleh pemandu takbir, sehingga hanya suara takbir para jamaah yang terdengar bergemuruh.

Setelah solat id selesai, sekelompok anak-anak dan orang dewasa berkumpul di masjid ajengan Idim yang dibangun di atas kolam. Di masjid ini, setiap tahunnya sehabis solat id, ada acara makan nasi tumpeng bersama.

Kalau tidak ada hari raya Lebaran, kapan anak-anak membeli baju? Baju yang dipakai setahun penuh, mendapat selingan diganti dengan baju baru di hari lebaran. Dengan baju barunya, anak-anak berjalan ke sana ke mari, bersalaman dengan teman-teman.
Kapan kami bisa makan daging kerbau kalau bukan Lebaran? Karena mang Deded hanya memotong kerbau untuk dijual dua hari menjelang Lebaran.

Anak-anak betul-betul merasakan perayaan setelah berpuasa sebulan lamanya. Makan dengan lauk-pauk segala ada. Boleh mengambil banyak sesuka kami memakannya.

Di keler beling yang tidak pernah di keluarkan, kini berisi peuyeum, tape ketan, yang kalau saya mengambil tak pernah cukup sekali. Ada opak, ranginang, apem, yang boleh diambil kapan saja selagi suka.

Sehabis solat id, makan besar di rumah. Dengan ikan mas besar yang tidak dipotong-potong. Ada lapis daging kerbau, sambal goreng kentang, dan kerupuk udang. Tahun 1960-an awal, di keluarga kami dan umumnya di Pameungpeuk, Garut, tidak ada tradisi makan dengan kupat saat Lebaran. Keluarga kami makan nasi biasa.

Selain masakan yang menjadi hantaran untuk saudara dan paraji, yang menolong persalinan, ema selalu membuat masakan dari ikan mas yang super besar wasa, kami menyebitnya bibit, dengan bumbu kuning yang gurih.

Sehabis bersilaturahmi bersama orang tua kepada tetangga dan handai taulan, saya segera bergabung dengan anak-anak untuk ngadulag. Sedang asyik ngadulag, tiba-tiba bi Énoy, istrinya mang Sar'i, ke luar rumahnya, yang jaraknya paling juga 10 meter dari madjid, melarang anak-anak ngadulag siang-siang. Terdengar berisik. Istirahat dululah barang sejenak. Begitu sarannya.

Pemukul bedugnya dirampas oleh bi Énoy. Kami membubarkan diri. Anak-anak yang datang kemudian untuk ngadulag, tidak tahu bahwa bi Énoy sedang marah, karena merasa tenganggu dengan suara dulag yang tiada henti. Panakol, pemukul bedugnya dirampas lagi oleh bi Énoy, dengan ancaman orangtuanya akan diberi tahu.

Anak-anak yang tidak tahu ada larangan itu datang kembali ke sana dengan membawa pemukul bedug sendiri, dan mulai ngadulag lagi dengan keras dan meriah.

Untuk ke sekian kalinya pemukul bedug dirampas bi Énoy yang perawakannya tinggi besar, apalagi bila dibandingkan dengan suaminya.***

Bagikan: