Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 21.4 ° C

Dari Hilir ke Udik

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

Kemacetan/IRWAN NATSIR/PR
Kemacetan/IRWAN NATSIR/PR

KOTA itu semacam hilir, sedangkan kampung sejenis udik. Setidaknya, begitulah arus hidup yang saya alami selama ini. Saya berasal dari kampung, pindah ke kota mengadu untung, dan setahun sekali ikut melawan arus dalam arti ikut mudik.

Anak-anak kami sih lahir dan besar di Bandung. Boleh jadi, pandangan mereka tentang kampung samar-samar saja. Paling-paling, kampus menugaskan mereka ikut “kuliah kerja nyata” di desa. Yang pasti, tiap liburan Lebaran mereka ikut mengunjungi tempat leluhur baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu.

Pernah beberapa kali kami melaksanakan salat Idulfitri di kota. Selalu ada tetangga yang bertanya, kapan mudik? Saya dan istri saya sebetulnya sudah berpuluh tahun jadi warga kota. Pertanyaan itu seakan ikut mendorong kami untuk memelihara narasi tentang kampung, desa, udik, atau dunia kehidupan sejenis.

Waktu anak kami baru satu dan masih kecil, kami mudik naik sepeda motor. Ketika anak bertambah, dan keinginan pun demikian, kami mudik naik bus. Setelah punya mobil, meski tidak sampai mentereng, kami mudik dengan cara seperti menggerakkan ruang keluarga dari satu ke lain tempat.

SEJUMLAH kendaraan dari arah Jakarta antre memasuki Gerbang Tol Cikampek Utama, Cikampek, Jawa Barat, Selasa, 4 Juni 2019. Pada H-1 arus mudik kendaraan yang melintas di Tol Trans Jawa terpantau lancar.*/ANTARA

Transformasi ekonomi semacam itu mengajarkan kami untuk tidak ikut-ikutan menciptakan semacam hubungan saling benci di antara jenis dan golongan kendaraan. Sepeda motor mestinya jadi teman baik bus umum. Bus umum mestinya jadi teman baik mobil pribadi. Mobil pribadi mestinya berteman baik dengan sepeda.

Kendaraan boleh beda, jalannya toh sama. Semua bayar pajak, semua punya hak. Kita mesti berbagi atau setidaknya mengolah seni bernegosiasi. Kalau ada barisan sepeda motor menyusul kami dari kanan dan kiri, dalam waktu bersamaan, saya tidak harus mengumpat. Kalau ada bus menyalip jalan di tengah iring-iringan kendaraan, saya tidak boleh jengkel.

Memang tidak selalu berhasil, apalagi jika Kamu mesti menyetir lebih dari 6 jam. Kakimu pegal, kepalamu pening. Kata-kata buruk sering terlontar dalam situasi buruk. Solusi terbaik adalah istirahat sejenak, di musala atau kedai pinggir jalan.

Dalam ceramah tarawih, Ustaz Wawan, tetangga kami mengingatkan bahwa kata-kata spontan dari mulutmu buruk melulu, kelak di alam kubur Kamu bakal gelagapan ketika ditanya oleh sepasang malaikat pelaksana registrasi akhirat. Kata-kata Kang Ustaz tentu tidak persis begitu. Yang pasti, menurut saya, gaya ceramahnya boleh juga buat mengurangi bad language di ruang publik.

Istri saya punya istilah yang hebat buat melukiskan para pemudik, tak terkecuali diri kami, yakni “pejuang silaturahmi”. Untuk melangsungkan silaturahmi tahunan dengan kerabat di tempat asal, dengan menempuh jarak ratusan bahkan ribuan kilometer, jelas memerlukan kesanggupan berjuang. Itulah pejuang yang sangguo berpanas-panasan dan bermacet-macetan.

Ada yang berjuang memodifikasi sepeda motor dengan suku cadang bikinan sendiri dari papan kayu atau batang bambu. Ada yang berjuang meminjam mobil kantor. Ada pula yang berjuang membongkar pasang mesin mobil tua.

Semuanya berjuang demi eksodus akbar dari kota buat menyampaikan semacam narasi keberhasilan atau kisah sukses kepada kampung halaman masing-masing.

Sesampainya di kampung, sedapat mungkin, kesulitan hidup sehari-hari dipendam dalam-dalam. Di atas panggung keluarga besar, dalam atmosfer Lebaran, narasi yang dikemukakan adalah narasi yang senang-senang saja.

Kampung, desa, atau udik pada Hari Raya Idulfitri pada dasarnya adalah tempat yang gembira. Kalaupun ada kesedihan, biasanya itu timbul dari rasa terharu anak di depan ayah atau ibu.

Bahkan di kuburan, beberapa saat setelah salat Idulfitri, saya ikut melihat begitu banyak orang mengenakan baju baru, warna-warni, seperti sedang merayakan kenduri.

Pada gilirannya, sudah pasti, para holiday makers seperti kami akan memungkas reuni udik tahunan ini dengan pergi lagi ke kota. Semua akan hanyut lagi ke hilir, ke berbagai kota, buat mengumpulkan bahan-bahan narasi keberhasilan untuk tahun-tahun berikutnya.***

Bagikan: