Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Sedikit awan, 19.1 ° C

Ketika Malam Purnama

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

BULAN purnama/DOK. PR
BULAN purnama/DOK. PR

Olah raga di kampung kami, di Pameungpeuk, Garut bukan sekadar menggerakkan badan, tetapi lebih dari itu, menjadi tempat untuk berkumpulnya warga. 

Ketika di kampung kami belum ada lapangan bulutangkis, misalnya, siapa saja yang tertarik untuk bermain, datang untuk ikut bergotong-royong membangun lapangan, tak terkecuali anak-anak. Bila ada suatu kegiatan, mereka langsung mendekat dan belajar dengan cara melihat.
 
Lapangan bulutangkis dibangun di tanah yang luas sehingga di sekelilingnya masih dapat dibuat bangku-bangku dari batang bambu yang diberi tiang. Anak-anak senang melihat bagaimana para pemuda dan orangtua membuat lapangan badminton. 

Ada yang meratakan dan mengeraskan lahan dengan menyiramkan air secara merata, lalu dikeraskan dengan menggelindingkan batang kelapa sepanjang 1 meter. Di kedua ujungnya dipasangi pasak, lalu dua potong bambu yang sudah dilubangi ujungnya dimasukan ke pasak. 

Ketika dua potong bambu itu ditarik, batang kelapa yang sudah diratakan sampai membulat licin akan berputar. Ditarik mondar-mandir dari ujung ke ujung tanah yang akan dijadikan lapangan sampai rata dan keras. Yang lainnya memotongi dahan kayu seukuran jempol kaki orang dewasa sepanjang 15 cm, lalu ujungnya diruncingkan. 

Ada juga yang membelah batang bambu yang panjang sampai selebar 2,5 cm, dibersihkan sampai halus agar tidak membahayakan. Dua orang merentangkan tali bambu untuk mengukur panjang-lebar lapangan. 

Satu orang menancapkan pasak dengan cara dipalu. Ada juga yang memasang tiang bambu yang nantinya akan direntangkan net, dan beberapa tiang lampu pompa-patromaks. Selain sore hari, bermain bulutangkis pada bulan puasa sering dilakukan setelah tarawih.

Bila 34 pasak sudah menancap di titik yang sesuai ukuran, bilah bambu yang panjang itu dipaku ke pasak tadi sehingga tidak mudah lepas. Bambu itu kemudian dilabur dengan kapur bakar yang sudah dilarutkan.

Anak-anak terus melihat bagaimana orang dewasa membuat lapangan badminton. Sisa potongan bambu yang sudah tidak dipakai, segera diambil. Potongan yang pendek dipakai untuk bermain gatrik dan yang panjang untuk bermain pedang-pedangan. 

Kami menyebutnya sermen. Saat para pembuat lapangan badminton beristirahat, minum teh hangat, dan potongan gula merah, anak-anak membuat properti bermain gatrik dan pedang-pedangan, mungpung ada golok dan gergaji. Saat memotong, bambunya diberi alas kayu atau bambu lagi sehingga orang dewasa itu tidak akan marah. Namun kalau goloknya terkena batu, mereka bisa marah besar.

Kegembiraan dimulai

Malam berikutnya, lapangan sudah dipakai. Dua lampu pompa patromaks sudah menerangi lapangan. Orang yang pertama kali mencobanya adalah Mang Emud, Mang Amir, dan Mang Jaka. Memang, ketiganya satu kantor, karyawan rumah sakit Pameungpeuk yang jago badminton dan menggagas pembuatan lapangan itu.

Raketnya dibeli di Kota Garut yang jaraknya 84 km dari kampung kami. Raket dibeli secara kolektif bila ada petugas rumah sakit yang ke kota. Saat itu raketnya, bulatannya, batang, dan pegangannya, semuanya terbuat dari kayu ringan. Hanya tali-talinya yang dari tali plastik. Pegangannya dibalut kain kasa supaya tidak licin. 
Bila sudah bermain, raket kayu itu, di bagian bulatannya ditekan dengan alat khusus yang dibeli sepaket dengan raketnya.

Malam yang ramai. Para pemuda dan orangtua bermain badminton sedangkan anak-anak asyik dengan permainannya yang beragam. 

Bagi anak-anak, tidak akan kekurangan permainan untuk melewatkan malam purnama yang terang benderang, sebelum kantuk datang. Anak-anak yang agak besar dibagi menjadi dua kelompok, lalu bermain gurila. Permainan satu lawan satu, adu cepat untuk menyentuh lawan dengan tangan kosong. Permainannya harus gesit, cepat, pandai menentukan kapan harus menjangkau tubuh lawan dan kapan harus menghindar agar jari lawan tidak menyentuh tubuh. 

Kadang tak terhindarkan, saking cepatnya gerakan, terkena ke tubuh lawan, atau sebaliknya, menjadi keras.

Mereka yang tidak bisa ikut bermain gurila, ada yang bermain galah. Lapangannya dibuat sendiri di lahan yang luas milik Pak Patih, hanya 30 meter dari masjid. Pola garis-garis batasnya dibuat dengang menggariskan ranting ke tanah, lalu yang lainnya menaburkan abu putih yang diambil dari pembakaran sekam padi yang sudah dingin. 

Kelompok yang satu berusaha agar anggota kelompok lain tidak lolos dari penjagaannya. Hal yang paling susah adalah kalau yang mengecoh yaitu dua orang atau lebih. Satu orang di ujung kiri dan yang lainnya di ujung kanan, akhirnya memilih mana yang paling harus dijaga, yang satunya dipersilahkan lolos dari penjagaan. 

Anak-anak yang lebih kecil, yang tidak bisa ikut bermain galah dan gurila, bermain turih oncom. Permainanya, jumlah anak dibagi dua atau tiga kelompok. Masing-masing kelompok langsung pergi ke tepas, teras tak berpintu, yang ada di sekitar lapangan kosong milik Pak Patih. 
Satu orang menjadi pimpinannya, bertugas mengatur teman-temannya agar segera membentuk formasi lutut dan telapak tangannya ditegakan di atas lantai, rapat berjajar, berdempetan tiga atau empat orang. Lalu, punggung dan seluruh tubuhnya ditutupi dengan sarung milik masing-masing anggota kelompok.

Ketua kelompok yang lain, sesuai kesepakatan, kelompok mana yang pertama kali akan datang ke kelompok lain untuk menebak siapa saja yang ada di balik tutupan sarung tersebut. 

Aturannya, boleh hanya meraba punggungnya sekali saja, lalu segera menebak. Orang yang di dalam sarung tak boleh tertawa walau geli karena dipegang. Pimpinan regu yang sudah meraba masing-masing punggung yang akan ditebaknya, lalu segera menyebutkan siapa nama yang berada di posisi yang ditunjuknya. 

Semua tebakannya harus benar, baru menang. Setelah menyebutkan semua tebakannya, sarung diangkat, agar diketahui benar tidaknya jawaban tadi.

Bulan terhalang awan hitam yang tebal. Terang berubah menjadi gulita. Anak-anak segera membubarkan diri, pulang ke rumahnya masing-masing. Nanti, pukul 2.00, akan dibangunkan orangtuanya untuk makan sahur.***

Bagikan: