Pikiran Rakyat
USD Jual 14.540,00 Beli 14.240,00 | Umumnya berawan, 25.5 ° C

Pencuri yang Shaleh

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

Peneliti Komunikasi Politik, Dosen FPIPS UPI


ILUSTRASI pencurian barang di gudang.*/ANTARA
ILUSTRASI pencurian barang di gudang.*/ANTARA

PENCURI telah banyak menginspirasi cerita. Dalam khasanah film Hollywood kita mengenal Robin Hood dan Zoro, dua ksatria pembela rakyat kecil. Mereka mencuri bukan untuk memperkaya diri. Mereka merampas kekayaan kaum aristokrat penindas rakyat untuk dibagikan kepada kalangan duafa.

Dalam dunia film tanah air, tidak kurang heroisme mirip kedua tokoh Hollywood tersebut. Si Pitung salah satunya. Tokoh legenda Betawi tersebut mengambil harta orang kaya untuk memberi makan kalangan Bumi Putera yang dililit kelaparan.

Di Subang, Jawa Barat, tercetus cerita dari mulut ke mulut tentang heroisme Ki Lapidin. Dia berjuang dengan cara mencuri kekayaan tuan tanah, atau konglomerat pro kompeni lalu membagikan logistik hasil curiannya  kepada para pejuang di hutan-hutan. Meski kematiannya di tiang gantungan dihubungkan dengan asal-usul lagu Kembang Gadung, sosok Ki Lapidin tetap dikenal sebagai pejuang pembela kepentingan rakyat.

Di luar ketiga kisah tadi, ada cerita pencuri yang sesungguhnya tidak mengambil sesuatu. Alih-alih merampas barang, dia memberi korbannya kearifan. Tidak mengherankan, karena sang pencuri, Abu Wahib Buhlul ibn Umar ibn al-Mughirah al-Majnun, atau orang gila dari Kufah, sejatinya bukan pencuri.

Seperti diceritakan Abu Al-Qasim An-Naisaburi dalam Kitab Kebijaksanaan Orang-orang Gila, atau dalam bahasa aslinya judul tersebut berbunyi ‘Uqala ‘al-Majanin, sudah tiga hari Buhlul tidak makan. Lalu setan menggoda dan membisikinya.

“Di sampingmu ada orang yang memiliki banyak harta. Panjatlah pagar rumahnya, lantas ambil uangnya, kemudian bertobatlah kepada Allah.”

Setan membisikinya lagi. “Bukankah engkau diperlihatkan bahwa Allah tidak mengampuni dosamu ?”

Bahlul kembali memanjat pagar rumah tetangganya, lalu mengambil kantung uang dan membawanya, kemudian dia menenangkan diri. Sambil memegang janggutnya, Bahlul berkata kepada setan, “Sialan, kau”.

Bahlul pun berteriak, “Ada maling”

Pemilik rumah langsung loncat, sontak keluar, dan bertanya “Di mana malingnya ?”

Bahlul menjawab, “Sayalah maling itu”

Tuang rumah dan tetangganya datang membawa lentera, dan mendapati Bahlul yang tadi berteriak.

Bahlul berkata kepada mereka, “Tangkap aku dan bawa aku kepada sultan”

Pemilik rumah menjawab, “Naudzubillah, apa yang mendorongmu melakukan ini ?”

Bahlul menjawab, “Rasa lapar selama tiga hari dan godaan setan”.

Pemilik rumah berkata, “Sungguh berat dosaku bila orang  seperti engkau lapar, padahal engkau tetanggaku”. Bahlul pun diberi uang.

Bahlul dan pemilik rumah saling mengenal. Bahkan sang pemilik rumah tahu betul kesalehan Bahlul, yang membuatnya dicap sebagai orang gila. Karena itu, ketika mengetahui Bahlul mengaku pencuri dengan sekantung uang di tangannya, tidak membuat pemilik rumah percaya begitu saja.

Di sinilah poinnya. Sang pemilik rumah yang kaya raya, yang mendapati tetangganya mencuri uang miliknya dengan barang bukti di tangan, tidak dengan gampang memidanakan. Dengan nada kontemplatif, dia menyelidiki dengan saksama motif apa yang melatari tetangganya yang soleh tersebut mengambil barang miliknya.

Bahkan ketika Bahlul meminta untuk ditangkap dan diserahkan kepada sultan sebagai representasi penegak hukum saat itu, sang pemilik rumah tidak terkecoh. Bukan Bahlul yang jahat, tetapi dirinya yang lalai. Dia termanjakan kekayaan hingga alfa mengenali tetangganya yang kelaparan.

Inilah kearifan Bahlul. Itulah kerendahan hati seorang kaya yang dermawan.

Lalu apa makna syair yang kerap dilantunkan Bahlul, yang kerap didengar Ibnu Abi Nashr berikut ini:

Apabila pemimpin dan sekretarisnya berkhianat,

apabila hakim di dunia menipu.

Maka celaka dan sungguh celaka,

Karena dunia akan dihakimi oleh hakim akhirat.

Bahlul yang lapar bisa terpapar pengaruh setan. Namun ketiadaan niat memperkaya diri menahannya dari tindakan merampas harta tanpa hak. Bahlul tidak benar-benar berniat mencuri. Bahlul hanya mengingatkan tetangganya dengan bergaya pencuri. Karena itu, hanya keterpedayaanlah yang akan menjerumuskan Bahlul, seperti terpedayanya orang kaya yang gila harta, atau penguasa yang gila kuasa, lalu menuduh orang lain gila, dan dengan gampang menjebloskannya ke penjara.***

Bagikan: