Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 17.7 ° C

Kamerekaan Saat Buka Puasa

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

Puasa/VECTORSTOCK
Puasa/VECTORSTOCK

Puasa bagi anak-anak di Kaum Kaler, Pameungpeuk, Garut, pada tahun 1960-an hampir tak ada bedanya. Sehari-hari diisi dengan bermain seperti hari-hari saat tidak berpuasa.

Hanya, permainannya diberi nama ngabeubeurang bila bermain dari pagi sampai zuhur, dan nanti ngabuburit mulai pukul pukul 16.00 sampai magrib.

Ngabeubeurang

Ngabeubeurang dilakukan agar tidak jenuh melewati siang hari saat puasa Ramadan. Anak-anak berkelompok 3 sampai 5 orang, lalu jalan-jalan dari pagi buta sampai menjelang zuhur. Cirinya, kalau bedug sudah dipukul, anak-anak tidak berani bermain lagi karena panasnya minta ampun dan takut kesambet.
Jalan-jalan ngabeubeurang-nya tidak tanggung-tanggung. Kadang bermain sepak bola di lapangan Darma Bakti di daerah Paas. Jalan pulangnya tidak melewati Cigodeg dan Alun-alun, tetapi memotong melewati Kampung Segleng.

Sebelum melintasi Cipalebuh, sungai yang besar saat itu, anak-anak langsung nyebur. Air membawa sukacita yang tak terhingga. Melewati siang hari tak terasa sedang puasa. Anak-anak bisa mandi berjam-jam. Dari satu, permainan berganti ke permainan yang lain yaitu membuat bola pasir seukuran apel merah paling besar di Sarakan.

Aliran Cipalebuh terbagi dua, di tengahnya ada pulau kecil yang disebut Sarakan. Aliran sisi barat berbelok di tebing cadas yang membentuk leuwi, lubuk. Cara membuat bola pasir adalah pasir halus dibentuk membulat lalu dihaluskan dengan menggosoknya dengan memutarkan bola pasir yang mengeras itu di antara dua telapak tangan. Setelah bulat sempurna dan cukup kuat, bola pasir diadu, digelundungkan di tempat yang sengaja digali dan dibuat cekung.

Panjangnya 60 cm, dalamnya 30 cm di bagian tengah. Bola pasir akan menggelundung dan beradu di bawah cekungan. Bola pasir yang pecah, itulah yang kalah.

Bila punggung terasa panas terbakar, kami segera berlari dan menceburkan diri di leuwi. Setelah tak terasa panas, kembali bermain di pinggir leuwi. Begitu terus berulang. Patokannya, bila punggung sudah terasa panas.

Di Leuwi Kuning, nama tempat itu, batuan dindingnya berupa batu cadas putih, tapi bertekstur kasar. Kuat tapi mudah dibentuk.

Di leuwi itu anak-anak membuat kotak dengan lebar sekira 50 dengan tinggi 100 cm, dan dalamnya sekira 50 cm.

Di singgasana itulah berdiri seorang presiden. Kami menyebutnya pepersidénan, persiden-persidenan.

Tiba-tiba saja ada seorang anak yang berinisiatif berdiri di tempat itu. Tak ada aturan yang ribet, anak-anak menerimanya, mereka segera mendekat ke singgasana. Aliran air di sekitar tempat itu deras sekali, tetapi ada sedikit area untuk berpegangan. Tujuan utamanya adalah menurunkan teman kami yang jadi presiden.

Caranya macam-macam. Ada yang menarik kakinya. Ada yang mendekat, lalu menarik tangannya, mendorong badannya, dan lain-lain, sendiri-sendiri atau bersama-sama, sampai dia yang menjadi presiden terlempar ke dalam air.

Presiden yang kuat dan cerdik selalu punya cara untuk bertahan. Bagi presiden yang lemah, hanya satu tarikan sudah membuatnya tercebur. Belum tentu yang berhasil menarik atau mendorong presiden itu yang jadi presiden berikutnya. Siapa saja yang dengan segera berdiri di singgasana itu, dialah presiden.

Bosan dengan permainan itu, tak terasa sudah berganti dengan permainan yang lain. Tak ada yang bisa menghentikan permainan kami di leuwi, kecuali saat bedug berbunyi.

Anak-anak segera mengambil baju dan celana, memakainya dalam kondisi badan masih basah dan segera pergi dari leuwi.

Anak-anak percaya, di sana ada dua mahluk halus yang menakutkan. Yang satu perempuan dan yang satu lagi kakek-kakek. Terkena angin kentutnya saja bisa membuat sakit panas.
Anak-anak berbelok dahulu ke rumah untuk mengambil sarung, lalu berlari ke masjid terdekat yang diimami oleh ajengan Idim.

Usai salat, udara di luar kering menyengat dan membuat anak-anak tak berani bermain di luar. Anak-anak memilih tidur-tiduran di masjid dengan alas takar pandan sampai bedug asar. Tak ada larangan tidur di masjid.

Menjelang azan asar, ada yang membangunkan anak-anak. Kalau ada yang tidur sangat pulas, salah satu orangtua akan menarik tikar yang ditidurinya agar tidak menghalangi orang yang akan salat. Kalau masih terlelap saat digusur, akan terus digusur ke arah pintu, lalu diceburkan ke kolam.

Ngabuburit

Usai salat asar, anak-anak pergi ngabuburit menanti bedug magrib. Ngabuburitnya dilakukan di jalan sekitar Nangoh, 1,5 km dari rumah.

Di sepanjang jalan aspal itu, di kiri-kanannya terdapat astana atau kuburan. Di situlah ratusan anak-anak bermain. Ada yang memancing di sungai, ada yang bergerombol saja, ada juga yang sosorodotan, pelorotan di tanah merah yang menurun curam.

Bila langit sudah berubah warna menjadi kuning kemerahan, anak-anak segera menuju rumah masing-masing.

Waduh, saya baru ingat belum mandi sore. Segera saya mencelupkan kepala ke kolam atau pancuran, lalu diusap dikibas-kibas agar kelihatan sudah mandi. Saya yakin emak tahu bahwa saya tidak mandi. Betisnya belang dan aroma badannya bau ayam.

Saatnya berbuk

Bedug azan magrib tak lama berkumandang. Ada 4 masjid yang berjauhan yang bunyi kentongan dan bedugnya jelas terdengar. Saya selalu memilih mana yang paling dulu dipukul. Masjid di Cikoneng selalu paling dahulu memberi tanda untuk berbuka. Yang lainnya berbunyi setelah saya habis meneggak segelas air.

Buka puasa di rumah, segala makanannya dibuat di rumah karena saat itu belum ada yang menjual mangakan untuk takjil dan berbuka puasa.

Kepandaian emak memasak membuat saya bahagia karena berbuka puasa menjadi berbeda dengan makan sehari-hari.

Kalau buka puasa, pasti ada makanan manis seperti kolak, candil, calangarén, dan cendol yang digilir setiap hari. Mana pernah bosan, karena makanan manis itu sangat langka dibuat. Boleh jadi, hanya pada bulan puasa emak membuatnya.

Di samping yang disediakan orangtua, kadang saya punya makanan sendiri yang terbayang untuk disantap sejak siang. Makanan itu sudah dijajarkan, ada jambu batu dan mangga muda.

Bila sudah bedug magrib, makanan yang dikumpulkan dari siang itu tak pernah tersentuh. Calangarén saja sudah membuat perut kenyang. Belum lagi makan nasi yang menggiurkan ditambah sambal terasi yang digoreng, lalapan matang, dan ikan goreng.

Terkadang makannya keterlaluan. Lebih seperti balas dendam dan akhirnya kamerekaan, kekenyangan yang melebihi batas nyaman.

Saya mencelupkan telunjuk di kapur sirih yang basah lalu dioleskan menyilang di perut yang melendung seperti ikan buntal. Tidur telentang berguling-guling, lalu berjalan mondar-mandir.***

Bagikan: