Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sebagian berawan, 17.7 ° C

Senja di Bulan Puasa

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

ILUSTRASI ngabuburit.*/ DOK PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI ngabuburit.*/ DOK PIKIRAN RAKYAT

SAYA berupaya menjelaskan arti ngabuburit kepada seorang sahabat dari Australia. Kami berbeda agama dan tinggal berjauhan. Komunikasi kami dijembatani oleh surat elektronik.

Salah satu materi korespondensi kami hari-hari ini adalah halaman khusus Ramadan dalam surat kabar Pikiran Rakyat. Anda pun tahu, salah satu rubrik di halaman itu dikasih tajuk “Ngabuburit”. 

Saya bertolak dari kata dasar burit. Tentu, itu istilah Sunda buat petang hari alias evening dalam bahasa Inggris. Salah satu hal yang ajaib dalam bahasa ibu saya adalah kemampuan membuat kata kerja dari kata keterangan waktu. Contohnya, itu dia, ngabuburit.

Pada dasarnya idiom ngabuburit berarti kegiatan menyongsong petang hari. Orang melakukan apa saja, kalau bisa hal ihwal yang dirasakan berfaedah atau penuh makna, alih-alih menunggu-nunggu tibanya waktu senja.

Matilah saya sekiranya saya harus mencari padanan yang tepat buat ngabuburit dalam bahasa lain. Jangankan dalam bahasa Inggris, malah dalam bahasa Indonesia pun tidak saya temukan.

Rasanya, hanya Chairil Anwar yang mampu menemukan kata kerja yang bertolak dari kata keterangan waktu. Itu pun karena saya beranggapan bahwa diksi “mempesiang” dari Chairil bertolak dari “siang”. Kita ingat salah satu baris sajaknya yang dahsyat: “kelam dan angin lalu mempesiang diriku”.

Dalam bahasa Inggris, tentu, ada ungkapan yang di telinga saya terdengar dramatis, yakni “kill (the) time”. Kalau saya tidak gagal paham, ungkapan itu berarti melakukan kegiatan yang tidak begitu penting selagi orang menunggu sesuatu. 

Kata “kill” buat saya terlalu keras. Bagaimana mungkin waktu bisa dibunuh? Kalaupun manusia memang keranjingan bunuh-bunuhan, justru waktulah yang bisa “membunuh” manusia.

Sang penyair ingin hidup seribu tahun, tapi waktu menghentikan hidupnya pada usia 26. Saya ingin tetap berada di tahun 1976 biar bisa naik oplet berkaroseri kayu bersama ibu, tapi waktu kan jalan terus hingga ibu lenyap dari landsekap.

Itulah sebabnya saya ragu jika saya harus menyepadankan ngabuburit dengan killing (the) time. Lagi pula, dalam kaitan dengan budaya keberagamaan di Indonesia, idiom ngabuburit hanya dipakai dalam bulan Ramadan.

Dalam bulan-bulan lainnya, komunitas Muslim di Indonesia seakan-akan tidak begitu mengistimewakan burit. Cahaya lampu neon di dalam mal yang terang-benderang seakan-akan merupakan upaya untuk menjadikan waktu selamanya terasa seperti siang. Sering kali orang baru sadar bahwa waktu sudah senja manakala ia melirik jam tangan atau keluar dari mal.

Senja di luar bulan Ramadan sering juga menimbulkan perasaan melankolis. Matahari terbenam, langit jadi suram, orang tambah sedih, ingat mati. Novel Mochtar Lubis tentang dekadensi politik di Jakarta pada dasawarsa 1950-an juga memakai idiom “senja”. Suram, gelap, dan kejahatan mengendap-endap. 

Ramadan, bulan kesembilan dalam kalender Islam dan kiranya bulan terpanas di jazirah Arab dan sekitarnya, seolah memperlihatkan senja yang tersendiri kepada komunitas Muslim di Indonesia. Ramadan adalah bulan ketika datangnya senja dielu-elukan. Orang merayakan senja dengan iftar, banyak takjil, buka puasa. Dengan kata lain, dalam bulan Ramadan datangnya senja menimbulkan kegembiraan.

Dikaitkan dengan harapan sepanjang siang akan tibanya senja yang riang gembira, ngabuburit kayaknya lebih tepat dimaknai sebagai kegiatan “mengisi waktu” ketimbang “menghabiskan waktu”.

Bermacam-macamlah cara orang mengisi waktu di antara subuh dan magrib. Ada yang pergi ke Hotel Horison di Bandung, mengikuti paket kajian Islam selama sepekan. Tidak sedikit yang bergabung dengan Tareqat Naqsyabandiyah di Bengkulu atau tempat lain, berzikir dan merenung di musala atau langgar, menjalankan “suluk”.

Saya sendiri hari-hari ini ngabuburit dengan banyak tidur, merenungi remuknya FC Barcelona akibat kelaliman Liverpool, dan menahan diri untuk tidak mudah jengkel dalam tugas membimbing penulisan skripsi. Sekuat tenaga, saya pun berupaya menghindari berita-berita politik sehabis pemilu.

Kepada sahabat saya nun di Clayton, sepatutnya saya ucapkan congratulation. Di kota itu, tentu, senja tiba lebih cepat ketimbang di Bandung.***

 

Bagikan: