Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Sedikit awan, 21.9 ° C

Wangi dan Lantis

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

ANAK-ANAK berenang saat banjir menggenangi Jalan Kyai Haji Zaenal Mustofa, Kota Tasikmalaya, Kamis 11 April 2019. Hampir setiap hujan turun, ruas jalan tersebut berubah menjadi sungai.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR
ANAK-ANAK berenang saat banjir menggenangi Jalan Kyai Haji Zaenal Mustofa, Kota Tasikmalaya, Kamis 11 April 2019. Hampir setiap hujan turun, ruas jalan tersebut berubah menjadi sungai.*/BAMBANG ARIFIANTO/PR

DALAM situs warta The Guardian (19 April 2019) kolomnis Hannah Jane Parkinson memperkenalkan kata petrichor. Kata itu dipakai untuk wangi tanah ketika turun hujan pertama. Parkinson juga memakai frase “earth perfume”.

Saya teringat pada deskripsi di halaman pertama novel Pulang (1972) karya Toha Mohtar. Tokoh utama pulang ke desa seusai perang. Ia mencium aroma tanah yang menyebar seusai hujan.

“Bau tanah yang naik oleh turunnya air hujan sepanjang hari, seperti terasa menjalari seluruh rongga dada, seperti kuasa menggerakkan pembuluh darah sekujur tubuh,” tutur pencerita dalam novel itu.

Saya tidak tahu padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia buat petrichor. Yang jelas, deskripsi dalam novel membantu saya untuk menyadari betapa khasnya wangi yang satu ini.

Buat saya, selain wangi tanah yang baru tersiram hujan, ada pula gejala lain yang dekat dengannya dan tak kurang menariknya. Itulah gejala ketika tanah yang sekian lama kering kemudian tersiram hujan hingga merata. Seluruh permukaannya jadi basah.

Dalam bahasa ibu saya, bahasa Sunda, untuk keadaan itu ada istilah tersendiri, yakni lantis.

Kamus bahasa Sunda dari Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS) menerangkan kata lantis sebagai “rata atawa walatra kakeunaan barang éncér” (terkena zat cair secara merata). Istilah ini sudah terserap ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Arti kata dalam KBBI daring untuk lantis senada dengan arti kata dalam kamus LBSS.

Salah satu peribahasa yang terkenal di kalangan penutur bahasa Sunda berbunyi, “Halodo sataun lantis ku hujan sapoé”. Istilah halodo berarti “kemarau”. Secara harfiah peribahasa itu mengatakan bahwa kemarau setahun lenyap oleh hujan sehari. Artinya, seperti yang tertuang dalam kamus LBSS, “pirang-pirang kahadéan leungit ku kasalahan sakali” (berbagai kebaikan lenyap oleh satu kesalahan).

Sebagai penutur bahasa Sunda, saya tidak tahu sebab-musabab kemarau dijadikan tamsil bagi kebaikan sementara hujan dijadikan tamsil bagi kesalahan. Saya cenderung memilih hujan sebagai tamsil bagi kebaikan dan kemarau sebagai tamsil bagi keburukan. Lagi pula, dalam perumpamaan qurani, tanah yang kering akibat kemarau melambangkan kematian sedangkan hujan yang menumbuhkan pepohonan melambangkan kehidupan.

Baiklah, anggap saja kecenderungan saya sebagai perkara selera. Saya cenderung lebih menyukai hujan ketimbang kemarau. Anda mungkin tinggal di daerah rawan banjir dan rawan longsor sehingga cenderung membenci hujan. Kita tidak perlu bertengkar tentang mana yang lebih baik di antara kemarau dan hujan. Lagi pula, namanya juga siklus, musim berputar silih berganti.

Kiranya ada dua kearifan. Pertama, jika kemarau dijadikan tamsil bagi kebaikan, peribahasa itu kiranya menekankan pentingnya waspada, awas, hati-hati. Sekali orang berbuat keliru, habislah sudah segala kebaikannya pada masa lalu.

Kedua, jika kemarau dijadikan tamsil bagi kesalahan sedangkan hujan yang cuma sekali dijadikan tamsil bagi kebaikan, kita dapat membayangkan sikap pemaaf. Kebaikan hari ini bisa saja memupus kekeliruan kemarin.

Tentu, berbuat baik, juga berbuat keliru, tidak seperti perputaran musim. Kalaupun ada bulan tertentu yang kita istimewakan sebagai semacam musim untuk berbuat baik, tidaklah berarti bahwa pada bulan-bulan lainnya kita boleh berbuat sembarangan.

Sang kolomnis di halaman suratkabar, juga sang patriot di halaman novel, begitu gembira ketika mencium petrichor. Hujan turun, dan permukaan tanah pun lantis. Wangi bumi itu seperti isyarat tersendiri bahwa kebaikan yang lama dinanti-nanti akhirnya menyebar secara merata.***

Bagikan: