Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Sedikit awan, 21.9 ° C

Disambar Elang

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

Dukacita/DOK. PR
Dukacita/DOK. PR

WAKTU itu, awal tahun 2000-an. Saya ikut mengelola Cupumanik, majalah bulanan berbahasa Sunda yang terbit di Bandung. Sebagai pemimpin redaksi, saya membuat kebijakan bahwa majalah Sunda mesti menjemput dan bukan menunggu naskah. Naskah perlu dicari, potensi penulis baru harus digali.

Selagi mencari naskah, saya mendapatkan naskah cerita pendek berjudul “Heulang” (Elang) karya seorang pengarang bernama Iday. Naskah itu saya dapatkan dari Kang Tatang Sumarsono, pengarang dan wartawan Sunda terkemuka.

Katanya, naskah cerpen itu pernah dikirim ke majalah Manglé, tapi rupanya tidak lolos seleksi. Teronggoklah naskah itu sekian lama.

Saya tertarik oleh cerpen itu. Tema dan gaya penulisannya, menurut saya, dapat disebut tidak lazim dalam sastra Sunda. Ceritanya tentang seorang lelaki pengendara sepeda motor besar.

Ia melihat dirinya sebagai elang, sanggup menempuh jalannya sendiri dengan sikap mandiri, tidak merasa perlu abring-abringan. Gaya penulisannya seakan menggabungkan prosa dan balada.

Nama Iday waktu itu tidak saya kenal. Tidak pernah pula saya temukan dalam berkala Sunda sejauh itu. Saya tanya beberapa rekan, tapi mereka pun tak tahu. Untunglah, dari alamat surat yang tercantum dalam naskah, saya mendapatkan nomor telefon.

Saya kontak, dan tersambung dengan seorang ibu. Dialah ibu kandung sang pengarang. Kepadanya saya titip pesan untuk bertemu dengan Iday.

Beberapa hari kemudian datang seorang pemuda ke kantor kami di dekat Buahbatu. Wajahnya kasép, posturnya tegap, sikapnya ramah. Dia hanya beberapa tahun lebih muda daripada saya. Istri ada, anak dua. Pekerjaan sehari-hari freelance saja. Dialah Iday, nama pena Anton Hidayat. Kami ngobrol ngalér-ngidul, akrab sekali.

Anton alias Iday bercerita bahwa dia memang pernah punya minat menulis karangan dalam bahasa Sunda. Namun, rupanya, dia jadi putus asa dan melupakan saja minatnya itu. Saya berupaya meyakinkan dia bahwa dia punya potensi besar untuk menciptakan cerpen atau puisi yang keren.

Cerpen “Heulang” pada gilirannya kami muat dalam Cupumanik. Keterangan singkat mengenai pengarangnya kami sertakan. Alhamdulillah, sekian waktu kemudian, cerpen tersebut mendapatkan penghargaan dari Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS).

Cerpen yang sama juga dimuat ulang dalam antologi karya sejumlah pengarang Sunda sezaman.

Sejak itu kami sering bertemu. Saya kenal istrinya, anaknya, juga keluarga besarnya di Margahayu, Kopo. Sekali pernah kami beserta keluarga pergi ke Subang, saling berkunjung ke kerabat masing-masing.

Salah seorang gurunya dalam kebuduyaan Sunda, yakni almarhum Hidayat Suryalaga, juga bukan nama asing buat saya.

Seingat saya, sejak publikasi “Heulang”, Iday menulis lagi dan menghasilkan beberapa cerpen lainnya. Bahkan pada gilirannya ia mau saya ajak mengelola Cupumanik, menangani divisi usahanya.

Kuliahnya di fakultas teknik Universitas Islam Bandung yang cukup lama tertunda, kemudian diteruskan lagi hingga hatam.

Setelah mengelola Cupumanik selama 5 tahun, saya berhenti dan memusatkan kegiatan di kampus sambil meneruskan kuliah. Iday pun begitu. Pernah sekian bulan ia bekerja di bidang pertambangan di luar Jawa. Pernah pula, lebih kurang setahun lamanya, dia bekerja di Jepang.

Sejak itu, lama kami tidak bertemu. Jarang kami berkomunikasi, seakan tersedot oleh kegiatan masing-masing. Saya di Bandung, Iday di Bogor. Hanya satu-dua kali kami saling kontak melalui media sosial.

Pagi hari, baru-baru ini, sepulang saya dari kunjungan singkat ke Singapura dan Malaysia, saya kaget bukan main begitu menghidupkan kembali ponsel. Lewat kanal Whatspp ada pesan pribadi dari akun Iday, tapi yang mengirimnya Rennie, istrinya tercinta.

“Seja ngawartosan, Kang Anton parantos ngantunkeun ping 22 April, tabuh 23.07 WIB, di RS Dharmais, Jakarta,” tulis Rennie.

Saya merasa terpukul. Saya tidak percaya. Saya tidak mau percaya. Begitu muda. Begitu cepat. Saya tidak tahu apa itu leukemia. Saya hanya tahu bahwa Anton Hidayat alias Iday sudah saya anggap adikku sendiri.

Saya ingin pergi ke Margahayu, ke tempat almarhum berkubur.***

Bagikan: