Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Cerah berawan, 26.4 ° C

Selera Politik dan Nalar Netizen

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

Hoaks/CANVA
Hoaks/CANVA

JIKA kita ingin jujur, maka betapa menyenangkan untuk berbuat semaunya, berkata kasar, melakukan kekerasan dan hal lain yang dianggap tidak baik. Pada dasarnya itulah insting dan kecenderungan manusia untuk memuaskan diri dan mencapai tujuannya, namun atas nama moral dan untuk menjaga ketertiban, maka hal-hal yang menyenangkan itu dibatasi dalam konteks norma.

Dalam teori psiko analisis, Sigmund Freud mengatakan bahwa kita tidak bisa mengingkari bahwa manusia pada umumnya menggunakan standar yang keliru, mereka mencari kekuatan, kekayaan, kesuksesan, memuji diri sendiri dan apa yang dipujanya serta menganggap rendah orang lain.

Dalam konteks suasana pemilihan presiden yang masih sangat terasa, maka pembenaran atas standar keliru itu akan semakin menjadi. Banyak orang lepas kendali, berlaku bar-bar dalam kemasan lisan maupun sarana komunikasi digital. Semua merasa benar karena mencari pembenaran dari lingkungan yang homogen dan menurut seleranya sendiri.

Pengalaman empirik

Kita tak perlu mengingkari bahwa sebagai bangsa dalam konteks pilpres kita sedang terbagi menjadi dua, dan tak ada salahnya kita menggunakan istilah populer cebong-kampret dalam tulisan ini. Melalui akun instagram dan twitter, saya melakukan postingan berseri, dan setelah saya amati saya bisa melihat suatu kecenderungan dari netizen terkait suatu isu.

Postingan-postingan saya dalam media sosial pada intinya adalah netral, tak mendukung salah satu pasangan capres. Namun bisa dibayangkan ketika pada postingan yang satu saya mendapat dukungan dari pendukung 02, sementara pada postingan lainnya pendukung 01 lah yang banyak memberi komentar, yang intinya sepakat dengan apa yang saya posting.

Sebagai individu tentu saya tak mungkin melakukan postingan yang beraroma dukungan kepada dua pasangan yang berbeda, namun mengapa bisa ada reaksi positif dari pendukung pasangan 01 dan 02 sekaligus? Itu karena netizen yang mengikuti akun media sosial saya menafsirkan postingan sesuai selera dan kebutuhan mereka,  sekalipun sebenarnya postingan tersebut bersifat objektif.

Sebagai contoh, ada postingan saya terkait ketidak setujuan dengan gerakan bobotoh Jokowi, maka komentar-komentar dari netizen sangat terasa bahwa mayoritas adalah pendukung capres 02. Mereka menyatakan persepsi yang sama bahkan banyak yang melebar menyebut istilah umat, ulama dan hal lain yang identik dengan isu yang melekat diusung pasangan 02. Padahal saya hanya bicara bobotoh jokowi saja, tidak tentang agama dan hal lain.

Namun di lain kesempatan, postingan saya terkait surat pernyataan dasar kemenangan 02 ramai dibanjiri dengan caci maki dari pendukung capres 02 yang merasa saya menyudutkan jagoan mereka, padahal jika dilihat postingan saya itu sama sekali tidak menyebut nama capres manapun namun hanya mengkritisi kampus yang merilis surat tersebut, Sekeras apapun kritik saya itu jelas ditujukan kepada kampus yang saya anggap tidak memiliki reputasi dan saya anggap ngaco karena tak becus menulis surat dengan begitu banyak kesalahan redaksional, padahal surat itu ditandatangani pejabat kampus setingkat rektor.

Lucunya lagi komentar-komentar netizen membahas hal-hal yang lagi-lagi sebenarnya tidak berkaitan dengan postingan saya, ada yang menyebut umat, kekuatan Allah hingga indikasi kecurangan.

Berdasarkan fenomena ini maka saya berasumsi bahwa netizen hanya melihat postingan sebatas selera dan kepentingan mereka saja, sikap berpikir yang sejak awal telah berpihak membuat netizen takkan bisa berpikir jernih bahwa postingan saya adalah netral dan aman walau secara redaksional tampak berlebihan bagi sebagian orang. Sebagai seorang ASN tentu saya paham betul postingan mana yang netral dan berpihak secara politis, mana yang berasumsi secara subjektif dan mana yang berupa prediksi objektif berdasar argumen keilmuan.

Ego dan Echo

Ada tulisan menarik di www.pikiran-rakyat.com beberapa waktu lalu, tentang echo chamber, yang pada intinya orang akan merasa asyik dan terbuai dengan informasi-informasi yang didapat melalui dunia maya tanpa peduli realita. Orang akan membuat ruangnya sendiri dan akan terus menerus mendapat kebenaran karena yang dia lakukan memang mencari kebenaran versinya sendiri. Dan kebenaran yang dicari memang akan mudah didapatkan karena tersedia serta upaya penautan diri kepada hal-hal yang homogen.

Perilaku ini akan cenderung menolak informasi yang tak berpihak dengan selera dan komunitasnya, sehingga menjadi berbahaya serta sulit menerima kebenaran lain yang tak sesuai seleranya, karena dia hanya akan mendengar echo (gema) dalam ruang yang dibuatnya sendiri sebagai hasil dari suara-suara yang juga dia buat sendiri.

Silaturahmi anak bangsa terancam akan sulit terjalin erat dalam waktu dekat jika kita melihat dampak dari Echo Chamber dan teori Sigmun Freud sebagai suatu keniscayaan, energi negatif ini rentan membesar jika ada provokasi dan gestur pemimpin yang berpotensi memicu konflik.***

Bagikan: