Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Sedikit awan, 21.7 ° C

Demokrasi Religius

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

Peneliti Komunikasi Politik, Dosen FPIPS UPI

MURAL bertema Pemilu dibuat di salah satu sudut jalan di Ciracas, Serang, Banten, Sabtu 6 April 2019. Mural yang dibuat secara sukarela oleh Komunitas Suara Rakyat tersebut bertujuan mendorong warga agar menggunakan hak pilihnya pada Pemilu serentak 17 April 2019 mendatang.*/ANTARA
MURAL bertema Pemilu dibuat di salah satu sudut jalan di Ciracas, Serang, Banten, Sabtu 6 April 2019. Mural yang dibuat secara sukarela oleh Komunitas Suara Rakyat tersebut bertujuan mendorong warga agar menggunakan hak pilihnya pada Pemilu serentak 17 April 2019 mendatang.*/ANTARA

ADA kejadian menarik ketika penyuluhan pemilu digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bandung, Kamis 11 April di Hotel Oasis.

Ketika sesi tanya jawab berlangsung, salah seorang peserta paling senior menghampiri narasumber. Sang kakek, yang kemudian diketahui bernama Hanafiah, tidak bertanya. Salah seorang alim ulama yang rendah hati tersebut, dan tidak menonjolkan tampilan keulamaan seperti yang sering tampak di media, menyerahkan secarik kertas.

Di sudut kanan kertas tertulis nama Hanafiah. Di bawahnya tertera dua pesan yang ditulis tangan. Sebagian ditulis dengan huruf latin dan sebagian lainnya ditulis dalam huruf Arab.

Tulisan tersebut membawa dua pesan penting. Pertama, siapa pun yang terpilih adalah ketetapan Allah subhanahu wa ta'ala. Kekuasaan adalah rahmat sekaligus cobaan.

Kedua, jadikan pedoman bagi pemilih, apa pun hasilnya, hadis qudsi di bawah ini. Kutipan hadis qudsi tersebut mengandung arti, “Sesungguhnya Allah rida kepada kalian akan tiga hal: (1) agar kalian menyembah kepada Allah dan jangan menyekutukan sesuatu pun dengannya; (2) berpegang teguh kepada tali agama dan jangan terpecah-pecah; dan (3) saling menasihati (dengan penguasa), yang kepadanya Allah menguasakan urusan kalian”.

Saya membacakan sepucuk surat tersebut di depan forum (dan keesokan harinya, saat saya menghadiri undangan siaran langsung di Kabar Khusus Jelang Debat Pamungkas Pilpres di Tvone). Itulah substansi, sekaligus kesimpulan serangkaian penyuluhan kepemiluan bagi pemilih.

Pemilu 2019/ANTARA

Pesan yang tersurat dalam hadis qudsi tersebut cukup gamblang, namun legacy yang dikirimkan Pak Hanafiah lebih dari itu. Pertama, di tengah tarikan berbagai kekuatan yang bersaing meraih simpati, diperlukan kesadaran untuk meletakkan rezim pemilu sebagai bagian dari ikhtiar mendatangkan kebajikan.

Agar ikhtiar ini mendatangkan hasil, “iman politik” tidak boleh merusak kualitas peribadatan kepada Allah, memecah belah umat, dan memutuskan tali silaturahmi.

Kedua, salah satu ciri kontestasi demokratis adalah adanya kesamaan di dalam kesempatan (untuk menang). Inilah asas pemilu yang adil, dan keadilan adalah pangkal kedamaian. Ini berarti, setiap kontestan dapat melakukan apa saja sejauh tidak dilarang undang-undang dan kepatutan demi meraih kemenangan. Namun ketika suara sudah dihitung, takdir bicara.

Pepatah Arab yang mengatakan “Keinginan yang kuat tidak bisa merobohkan dinding takdir” amat relevan untuk menyikapi hasil pemilu 17 April.

Bila dalam bulan-bulan terakhir dua kekuatan berlomba-lomba menggembalakan asa, merancang siasat, dan memelihara optimisme, begitu kotak suara dibuka, takdir akan bicara.

Saat itu teka-teki akan terjawab. Iktiar dan doa berbuah takdir. Pahit manisnya takdir adalah keputusan terbaik Tuhan yang tidak bisa dibantah.

Ketiga, meski teori-teori politik mutakhir menghubungkan pemilu dengan sekularisasi politik, praktik pemilihan presiden dan anggota legislatif di Indonesia tidak benar-benar sekuler.

Meski keyakinan hasil tidak akan mengkhianati proses terus dihidup-hidupkan sebagai pemacu spirit, keyakinan bahwa kemenangan adalah “berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” terus hidup, baik secara personal maupun sebagai norma sosial. Tak heran, ikhtiar politik selalu diletakkan dalam kerangka basmalah dan hamdalah.

Dalam konteks ini, demokrasi (yang sebagian ajarannya diimpor dari Barat) telah bersenyawa dengan keyakinan teologis yang dianut masyaraka Indonessia. Doktrin “demokrasi religius” teramati bukan hanya dalam memandang makna kekuasaan dan cara-cara meraihnya, tetapi juga mencerminkan jiwa kepemimpinan (soul of  the leader) masyarakat Indonesia.

Pemimpin yang terpilih secara demokratis bukan hanya mereka yang mendapat persetujuan rakyat, melainkan juga mendapat rahmat–sekaligus cobaan–dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Itulah sebabnya, keputusan yang diambil bukan hanya tidak boleh bertentangan dengan kemanusiaan, tetapi juga harus dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah yang Maha Kuasa.

Karena itu, pemilu adalah kontes kebajikan. Pemenangnya adalah mereka yang memiliki kebaikan lebih banyak dibanding kandidat lainnya.

Jika ada kandidat yang tidak terpilih bukan karena jelek, tetapi karena kebaikannya tidak lebih banyak dibanding kandidat lainnya.

Kita tidak sedang menanti datangnya pemimpin setengah dewa. Kita hanya sedang mencari sosok terbaik dari calon yang ada, yang bukan hanya satu di antara kita, tetapi mereka yang terbaik dan memiliki lebih banyak kebajikan di antara kita.***

Bagikan: