Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Umumnya cerah, 19.6 ° C

Rebutan Pemilih Bandung dalam Pemilu 2019

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

Pemilu 2019/ANTARA
Pemilu 2019/ANTARA

BANYAK pihak mengatakan, siapa menguasai Jawa Barat maka dia akan menguasai politik Indonesia. Sebuah pernyataan yang terkesan spekulatif jika mengingat jumlah pemilih keseluruhan di Indonesia, namun memiliki arti filosofis mendalam jika kita menempatkannya tak hanya dalam konteks politik pragmatis.

Bicara Jawa Barat berarti bicara banyak dimensi dengan pengaruh kuat untuk Indonesia, tak hanya tentang 30 juta potensi suara. Namun juga pengaruh pekat terkait gagasan, ideologi, budaya, pendidikan, sosial, seni, hingga olah-raga.

Berebut pengaruh di Jawa Barat dengan karakteristik yang khas bak melewati ujian terjal yang paling menempa, siapa yang mampu melewatinya niscaya menggenggam kejayaan. Bicara Jawa Barat, maka sulit untuk tidak bicara dapil yang paling menyedot perhatian publik, ini tentang Dapil 1 Jabar...kota Bandung dan kota Cimahi.

Kotanya para tokoh

Pemilihan calon anggota legislatif yang dilakukan bersamaan dengan pemilihan calon presiden dan wakil presiden mau tak mau pasti akan menutup pesona para calon anggota legislatif, baik di tingkat daerah maupun pusat (DPR-RI). Semua mesin politik fokus untuk menggolkan kemenangan tingkat Pilpres, walau tentunya strategi ini pun secara tak langsung akan turut pula mendongkrak perolehan suara partai yang mendapat limpahan.

Kondisi di mana perhatian publik lebih tertuju kepada figur calon presiden beserta wakilnya, tentu berimbas kepada cara partai politik menempatkan jagoan-jagoannya dalam pemilu kali ini. Salah satu pakem yang masih dipertahankan adalah mengusung figur artis dan selebritis yang dianggap memiliki modal popularitas, serta nama yang melekat di benak masyarakat walau secara tren politik kekinian tentu tertutup oleh nama Jokowi-Prabowo dan Marif Amin-Sandiaga Uno.

Bandung yang identik sebagai kotanya selebritis tak lepas dari pertarungan para artis dalam memperebutkan kursi anggota legislatif di tingkat pusat. Tercatat ada 10 nama pesohor yang namanya akan menghiasi kertas suara untuk tingkat DPR RI dari dapil Jabar 1 (kota Bandung dan cimahi).

Bicara kota Bandung, tentu tak bisa pula kita bicara artis sekadar artis, hanya artis yang telah teruji dan benar-benar ngartis yang dianggap artis oleh warga kota Bandung. Maklum saja kota Bandung sendiri telah puas melahirkan banyak tokoh tingkat nasional termasuk para artis. Sehingga seorang artis pun memang perlu menjadi artis di antara para artis untuk bisa menarik perhatian para pemilih di kota Bandung.

Lalu ketika seorang artis sudah bisa melewati saringan “selera warga Bandung” apakah sudah bisa menepuk dada pertanda aman? Rupanya masih belum juga.

Karakteristik warga kota yang cenderung apatis, rasional, berpendidikan tentu tak mudah goyah dan jatuh cinta terhadap figur artis seperti lazim terjadi di daerah-daerah lain. Terlebih partai politik dengan basis massa tradisional akan tetap memberi sumbangsih signifikan, sehingga caleg bermodal asal terkenal namun diusung oleh partai tanpa basis massa kuat tentu saja takkan cukup untuk berjaya di kota Bandung.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tren dan selera pemilih yang mulai bergeser. Pemilih sudah tidak lagi memilih berdasarkan variabel popularitas belaka. Sehingga apa, siapa dan eksistensi sang caleg di luar dunia keartisan akan menjadi pertimbangan penting bagi calon pemilih.

Irisan ketokohan

Memenangkan hati pemilih Bandung diperlukan banyak syarat dan upaya ekstra. Popularitas pastilah penting namun itu tidak cukup. Menguasai basis massa tradisional partai besar jelas penting, namun itu belumlah aman.

Rekam jejak dan kapasitas calon menjadi faktor penentu untuk dipertimbangkan oleh pemilih kota Bandung. Hanya mereka yang komplit secara ketokohan yang akan memenuhi selera warga Bandung. Tak hanya populis secara keartisan, namun juga teruji sebagai kader partai dan memiliki kiprah istimewa secara nasional.

Berdasarkan kriteria tersebut, maka kita dapat memunculkan dua nama yang memiliki irisan ketokohan di segmen keartisan dan grass root partai. Keduanya dikenal luas sebagai pesohor senior dan juga politisi dari dua partai besar yang memiliki basis massa tradisional di Jawa Barat.

Pertama adalah Junico Siahaan dari PDI-P, artis sekaligus presenter yang lolos ke senayan dengan perolehan suara terbanyak dari dapil Bandung-Cimahi dalam pileg sebelumnya. Nama berikutnya adalah sosok yang pernah menoreh sejarah sebagai perempuan pertama yang maju dalam ajang pemilihan walikota Bandung, Nurul Arifin, caleg pemilik nomor urut 4 sesuai dengan nomor urut partainya. Selain dikenal sebagai artis senior, Nurul Arifin telah dikenal sebagai kader Golkar sejak lama. Keuntungan lain Nurul Arifin yang tak dimiliki caleg artis lainnya adalah bahwa dirinya masih memiliki popularitas dan investasi elektoral yang tinggi pasca pilwakot Bandung baru-baru ini.***

Bagikan: