Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 17.7 ° C

Erik Pemandu Wisata Sungai

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

AIR terjun Waimarang., Nusa Tenggara Timur.*/ ISTIMEWA
AIR terjun Waimarang., Nusa Tenggara Timur.*/ ISTIMEWA

SAYA terkesan oleh seorang remaja di Desa Ummalulu, Kecamatan Ummalulu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, namanya Erikson Hapu Hamapinda (15 tahun), putra dari pasangan Dominggus Laki Ruda dan Alvina Kanga Naha.

Eriklah yang pertamakali “menemukan” Waikanabu Lawinnu, Airterjun Lawinnu. La berarti di atau tempat, sedangkan winnu berarti pinang. Pinggiran sungai yang banyak ditumbuhi pohon pinang. Sekarang, nama Airterjun Lawinnu ini kalah populer oleh nama yang diberikan para pengujung, yaitu Airterjun Waimarang.

Setelah air terjun dengan kolam yang membundar berwarna hijau kebiruan itu diunggah ke media sosial facebook oleh Erik, penemu airterjun itu, hanya dalam waktu yang singkat pada tahun 2015 itu, pengunjung mulai berdatangan.

Pengunjung yang berdatangan ke air terjun itu terkesan oleh warna toska airnya, kemudian mereka mengunggah foto-fotonya di media sosial, sepeti facebook dan instagram, dengan memakai nama lokasi yang ada di google map saat itu adalah Waimarang. Maka terkenalah nama air terjun itu menjadi Air Terjun Waimarang. Padahal, nama geografi Waimarang, yang berarti air yang dicari itu terletak jauh dari lokasi airterjun, berada jauh sebelum Desa Ummalulu.

Untuk menuju air terjun itu melewati lahan milik kakeknya Erik yang bernama Huki Radandima dan neneknya Rambu Paji Njera. Begitu pun lahan yang dijadikan tempat parkir kendaraan. Memasuki kawasan wisata air tejun tidak dipungut biaya. Di tempat lain di Sumba, ada buku tamu yang harus diisi oleh ketua rombongan. Itulah cara agar wisatawan membayar uang yang sudah ditetapkan oleh kelompok masyarakat di sana. Ya, buku tamu itu sama dengan karcis yang harus dibayarkan, tapi mereka belum berani memungut memakai karcis, karena secara hukum belum ada ketetapan dari Bupati, atau dari dinas terkait.

Pada saat mengunjungi Air Terjun Kakarukloka di Desa Tanggedu, Kecamatan Kanatang, Kabupaten Sumba Timur, NTT, di sini ada buku tamu, namun tidak ada yang memantau keadaan air di lokasi, terutama pada saat musim penghujan seperti saat ini, dan jalan untuk evakuasi sulit.

Sementara di Air Terjun Lawinnu, ada inisatif dari Erikson Hapu Hamapinda. Pada saat pengunjung bergembira berenang, berloncatan dari atas batu, Erik segera naik ke puncak tertinggi dari tebing sungai, untuk memantau apakah air sungai itu ada tanda-tanda akan banjir atau tidak.

Ketika hujan mengguyur sangat lebat, dan air dari berbagai sisinya menggelontor memasuki aliran sungai. Namun Erik tidak memerintahkan untuk segera ke luar dari sungai. Selang setengah jam, Erik memberikan kode, pengunjung harus segera mengevakuasi diri karena banjir akan segera datang.
Pengunjung bergegas untuk meninggalkan sungai menuju ke tempat parkir. Hujan kembali besar, katika beres makan siang di sana. Setelah hujan reda, terlihat ada beberapa orang pengunjung beserta pemandu yang turun ke air terjun. Tapi mereka kecewa, karena air sungai sudah membesar dengan warnanya yang bukan lagi toska, tapi sudah seperti tanah.

Di sinilah peran Erik yang tadi menjadi pemantau kemungkinan akan terjadi banjir atau tidaknya, merupakan mitigasi, upaya mengurangi risiko yang mungkin terjadi, yang diakibatkan oleh terjangan banjir pada saat pengunjung bergembira berenang.

Seperti pada umumnya sungai di Sumba, aliran sungainya berada jauh di bawah permukaan. Untuk mencapainya harus berjalan menurun sampai di airterjun. Jalan untuk menyelamatkan diri bila terjadi hal yang tidak diinginkan, memerlukan beberapa menit untuk berada di atas luapan banjir.

Erikson Hapu Hamapinda sudah menunjukkan insiatif yang luar biasa untuk tujuan menyelamatkan warga.***




 

Bagikan: