Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Berawan, 21.6 ° C

Buku Puisi dari Ombudsman

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

BASISIR Langit/BUKALAPAK
BASISIR Langit/BUKALAPAK

DARI Surachman RM, kita membaca tiga kumpulan sajak Sunda yaituSurat Kayas (1967), Basisir Langit(1976), dan Di Taman Larangan (2012). Dua judul pertama terbitan Balai Pustaka di Jakarta sedangkan judul ketiga terbitan Kiblat Buku Utama di Bandung.

Kumpulan sajak Surat Kayas diperindah dengan sejumlah gambar ilustrasi karya seniman Yus Rusamsi, juga gambar jilid dari mendiang seniman Popo Iskandar. Kedua koleksi puisi sesudahnya tidak seartistik itu dalam reka bentuknya.

Surachman RM, penyair kelahiran Garut pada 1936, dikenal sebagai pakar hukum. Semasa Gus Dur jadi presiden, Surachman RM bergiat di Ombudsman, pejabat yang menangani pengaduan orang banyak.

Terbayang jauhnya jarak antara bahasa puisi dan bahasa hukum. Yang satu konotatif, yang lain denotatif. Orang yang mengenal keduanya kiranya punya perbandingan ungkapan yang sangat kaya.

Yang pasti, dalam kumpulan sajak Basisir Langit ada sajak “Sakitan” yang mengacu ke ruang pengadilan. Dalam sajak ini, seorang lelaki menyadap getah dari pohon karet milik orang lain. Ia miskin dan ia dihukum kurungan 15 bulan.

Lukisan penderitaan, sebagaimana gambaran kerusakan alam dan tatanan sosial, juga permenungan mengenai rapuhnya hidup dan mutlaknya maut, hadir dalam ketiga kumpulan ini.

Banyak idiom yang dipungut dari alam. Warisan tradisi lisan juga ikut mewarnai cara penyair memperdengarkan suaranya. 

Beberapa sajak berupa balada. “Balada Bapa Kolot” dalam Surat Kayas, misalnya, menyajikan lukisan penderitaan seorang lelaki tua yang berasal dari desa. Lelaki tua itu menggelandang di kota karena desanya tidak aman. Ia akhirnya tewas tergilas kereta.

Frase “basisir langit”, yang dijadikan judul buku kedua, terdapat dalam sajak terakhir dalam buku pertama. Sajak itu berjudul “Sisi Kawah”, yang baris-baris penghabisannya berbunyi, “Ayeuna teu eureun-eureun teuteupna/ka lebah di mana ayana basisir langit”.

Basisir” adalah istilah Sunda buat “pesisir”. Frase “basisir langit” kiranya menunjuk ke ufuk atau kaki langit. Dari kejauhan, laut dan langit terlihat seakan berpeluk-pelukan. Dalam sajak ini, gunung api mengalami personifikasi, juga sang aku-lirik mendapatkan cerminan dirinya pada figur gunung.

Dalam kumpulan Basisir Langit ada sajak “Kolécér”. Kolécér adalah istilah Sunda buat baling-baling, biasanya dari bambu.

Dalam sajak ini, hidup kaum tani dilukiskan seperti kolécér, berjalan membentuk siklus, berputar dari kesusahan ke kesusahan. Betapapun, kaum tani tidak sampai bosan, sebab putaran nasib sudah jadi jalan hidup itu sendiri:

Ladang teu ngimbangan késang
Hasilna ukur sacomot
Loba kasedot kacéot
Anéhna teu kapok-kapok
Gawokna henteu kapalang

Dalam koleksi Basisir Langit ada juga sajak “Di Hiji Leuweung Geledegan”. Dalam sajak ini, seorang penerjun payung menemukan akhir hidupnya di antara reranting pohon nun di pedalaman hutan.

Jasadnya seperti rangka layang-layang yang putus dan tersangkut. Sang patriot hilang tak tercatat, luput tak terdata di taman pahlawan.

Sebagian besar sajak yang terhimpun dalam Di Taman Larangan lahir dari perjalanan penyair di wilayah Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika.

Koleksi ketiga ini kiranya mewakili fase perjalanan hidup sang penyair pada masa-masa yang belakangan. Betapapun, dalam koleksi ini ada pula sajak dari tahun 1970, kiranya setelah disunting ulang.

Salah satu sajaknya,sebagaimana yang dikemukakan oleh penyair dalam catatan kaki, memperlihatkan jejak Chairil Anwar: “Mijah sakali/ti dinya tinemu pati”. Ya, “sekali berarti/sudah itu mati”.

Sajak-sajak dalam Di Taman Larangan seperti memelihara silaturahmi dengan pengalaman hidup sehari-hari, dengan tempat-tempat yang pernah dikunjungi, juga dengan sosok-sosok pribadi yang punya tempat di hati. Permenungan eksistensial sering kali lahir dari situ.

Sayang sekali, belum sempat saya bertemu muka dengan Prof. Surachman RM. Puisinya sih menimbulkan kesan yang kuat dalam hati saya. Terima kasih, Pak Ombudsman.***

Bagikan: