Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sedikit awan, 25.5 ° C

Beduk dan Kawanan Burung

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

GEUS Surup Bulan Purnama.*/DOK. PR
GEUS Surup Bulan Purnama.*/DOK. PR

KUMPULAN cerita pendek Geus Surup Bulan Purnama (Terbenam Sudah Bulan Purnama) karya Yous Hamdan (1947-2016) terbit pada 2005 dan memenangi Hadiah Sastra Rancagé tahun 2006.

Tentang pengarangnya, banyak ingatan baik. Ia menulis prosa dan puisi dalam bahasa Sunda. Sekali pernah, semasa dia jadi Kepala Desa Sayati, Pak Haji—sapaan buatnya—berkunjung ke kantor kami di dekat Buahbatu, naik sepeda motor Honda Win. Orangnya ramah, suaranya lembut.

Ada satu sajak Godi Suwarna tahun 1983 yang berjudul, “Surat keur Yous Hamdan”. Si penulis “surat” mengagumi pertautan antara suara pengarang dan pesan Tuhan. Kata-katanya dirasakan seperti untaian melati yang turut menyampaikan wangi surgawi.

Nuansa keagamaan, khususnya yang digali dari tarikh Islam, memang merupakan salah satu ciri karangan Yous Hamdan. Cerpen “Geus Surup Bulan Purnama”, yang judulnya dijadikan judul kumpulan itu misalnya, menuturkan kesedihan Bilal sepeninggal Sang Rasul. Pada 1996, cerpen itu diangkat ke panggung drama oleh Teater Tujuh Damar arahan sutradara Asep Supriatna.

Cerpen sejenis dalam kumpulan itu adalah “Dilingkung Nyiruan Tugur”. Cerpen itu menuturkan serpihan kisah dari sejarah, khususnya dari periode sehabis Perang Uhud dan Perang Badar.

Kalau tidak menggali kisah dari tarikh Islam, Yous Hamdan mengemas pesan keagamaannya dalam kisah sehari-hari rekaannya sendiri.

Contohnya adalah cerpen “Simpé di Makam” (Sepi di Makam) yang menceritakan pertobatan seorang preman pensiun yang sudah gaek setelah ditinggal sang penerus, cucu kesayangannya.

Bagi saya, “Bedug” (Beduk) adalah cerpen keagamaan yang paling menarik. Dalam cerpen ini, ajengan—sebutan bagi kiai di tatar Sunda—terjun ke kancah politik, pergi ke kota meninggalkan desa, jadi anggota parlemen. Pesantren di desa jadi terbengkalai, sepi ditinggalkan para santri.

Tinggallah penduduk setempat yang dengan kebersahajaannya mesti merealisasikan agama dalam kerumitan hidup sehari-hari.

Beduk adalah salah satu hasil kecerdasan setempat dalam upaya menyelenggarakan ritual keagamaan.

Beduk lahir dari inovasi kultural. Bagi ahli masjid di desa yang bersahaja, beduk sudah identik dengan panggilan atau seruan untuk mendirikan salat. Apa yang terjadi tatkala, tanpa kehadiran Kersa Ajengan, konflik kecil antarwarga desa menyebabkan beduk jadi rusak disayat senjata tajam?    

Dari cerpen itu sebetulnya terlihat juga ciri khas lain, yang tak kalah pentingnya, dari cerpen Yous Hamdan yakni gambaran realitas sosial.

Sebagaimana cerita-cerita pendeknya yang bernuansa keagamaan, cerita-cerita pendeknya yang mengangkat gejala sosial dikemas dalam bahasa figuratif yang liris dan sarat metafora.

Salah satu contohnya, dan barangkali layak disebut cerpen paling menarik dalam kumpulan ini, adalah “Pileuleuyan Tangkal Cangkring” (Selamat Tinggal Pohon Cangkring).

Dalam cerpen itu, satu keluarga burung manyar mencoba bertahan tinggal di atas pohon cangkring ketika lingkungan hidup mereka sedang beralih fungsi akibat industrialisasi.

Personifikasi yang diolah pengarang memungkinkan kita melihat, dari perspektif korban, gejala marginalisasi warga setempat dan kerusakan ekologi oleh pertumbuhan industri yang mengubah lahan sawah jadi pabrik tekstil dan menumbangkan pohon-pohon demi tembok beton.  

Cerpen itu, dengan caranya sendiri, juga menggambarkan siapa yang disebut “pribumi” dan “pendatang”.

Di satu pihak, selain keluarga Manyar, ada keluarga Bondol, Eusing, Galatik, Kuntul, Buka Upih, Jalak, dan Tikukur yang sudah empat hingga lima generasi beranak-pinak di lingkungan persawahan.

Di pihak lain ada rombongan Galéjra yang datang bersama berdirinya bangunan-bangunan pabrik. 

Demikianlah, pesan keagamaan dan sketsa realitas sosial menemukan wadahnya dalam Geus Surup Bulan Purnama.***

Bagikan: