Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Sedikit awan, 22.6 ° C

Intrik Politik dalam Roman Sunda

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

NOVEL Rangga Malela/DOK. PR
NOVEL Rangga Malela/DOK. PR

DARI mendiang Olla Saléh Sumarnaputra (1929-1992), kita masih dapat membaca novel Rangga Maléla, bagian pertama dari trilogi. Buku ini pertama kali terbit pada 1965 dan terbit lagi pada 2011. Judul novel diambil dari nama tokoh utama, Rangga Maléla. Ia penerus tahta Kerajaan Kutamaya di Sumedanglarang.

Kisah ini menghadirkan latar tatar Sunda abad ke-14, zaman Prabu Niskala Wastu Kancana bertahta di Galuh. Waktu itu, kata si empunya cerita, di belahan barat tatar Sunda terdapat sejumlah kerajaan kecil yang tidak kompak, tercerai-berai, bahkan saling bertikai. Kerajaan Silalawi, yang berleluhurkan para bajo alias pembajak, menganeksasi Kerajaan Kutamaya.

Wangsa Maléla yang bertahta di Kutamaya selama tiga generasi nyaris punah karena gempuran Silalawi yang dipimpin oleh Prabu Ragadipati.

Prabu Gangga Maléla, cucu perintis Kutamaya, Prabu Jaya Maléla, gugur, begitu pula para pejabat istananya. Permaisuri dan para putri, sejalan dengan tradisi, melakukan béla pati, menikam diri hingga mati, turut suami.

Sebagaimana galibnya dalam kisah berdarah, pihak yang kalah tidak sepenuhnya musnah. Seorang pangeran yang masih kecil, di tengah pergolakan, masih sempat diselamatkan oleh pengawal kerajaan, dibawa pergi ke tempat aman. Seorang wanita kerabat kerajaan, yang tak sempat béla pati, dijadikan istri muda oleh penguasa baru. Lahir seorang anak perempuan yang dinyatakan bakal jadi penerus tahta di kemudian hari.

Jalannya cerita, yang diwarnai dengan intrik politik, persekongkolan, juga romansa, berkisar di sekitar titik pertemuan dua garis penerus wangsa Maléla. Di satu pihak, ada Rangga Maléla, sang pangeran yang tumbuh di Galuh, dan mengemban tugas dari Wastu Kancana buat menajajaki daerah baru di belahan barat.

Di pihak lain ada Retnayu Sekarwangi, putri raja dan penerus tahta yang terkucil di hutan. Dengan kata lain, kompleksitas kejadian dalam kisah ini difokuskan ke masa-masa sebelum dan sesudah kedua tokoh ini bertemu.

Olla menulis kisah ini dengan metode prosa modern tapi dia tidak meninggalkan sama sekali warisan tradisi lisan.

Sepotong rajah, bari-baris sakral yang ditujukan kepada leluhur, mendahului perkisahan. Jalan cerita dan penokohan, juga deskripsi latar dan berbagai insiden, bersifat realistis.

Rincian deskripsi sangat cermat, terutama deskripsi tentang derap barisan angkatan perang, baik infantri maupun kavaleri, lengkap dengan jenis senjata masing-masing barisan. Sayang, adegan pertarungan tidak mendapat ekplorasi—seakan hal itu hanya merupakan tugas para penulis cerita silat.

Kalaupun ada yang deskripsinya terasa luar biasa, dalam arti di luar kelaziman, paling-paling deskripsi tentang kesaktian Rangga Maléla. Ia dapat melesat secepat angin. Ia mampu menundukkan banteng dan macan tanpa harus bertarung sama sekali dengan kedua hewan buas itu. Singkatnya, dialah satria yang tiada bandingannya.

Genealogi pahlawan rupanya jadi motif tersendiri. Ada kalanya pahlawan perlu disembunyikan dulu buat sementara waktu. Ia mendapat didikan, tempaan, dan gemblengan dalam suaka di luar tanah kelahirannya.

Pada saatnya yang tepat, ia kembali ke tanah yang dirindukan olehnya dengan menyamar. Ketika segalanya sudah memadai, ia memperlihatkan jati dirinya seraya berupaya memulihkan tata kuasa yang sempat hancur. 

Intrik politik juga jadi motif yang tak kalah menariknya. Di lingkaran dalam (inner circle) kerajaan terjadi persekongkolan. Orang-orang dekat di sekitar penguasa membuat kesepakatan rahasia buat menggeroti atau merebut kekuasaan. Fitnah dibikin dan disebarluaskan untuk menyingkirkan saingan. Darah tertumpah demi ekspansi kekuasaan atau balas dendam.

Novel Rangga Maléla, hingga batas tertentu, seperti memelihara relevansinya dengan gelombang perubahan zaman. Novel ini terasa layak dibaca, juga buat hari ini.***

Bagikan: