Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Umumnya cerah, 28.5 ° C

Klaim Boikot ala Bobotoh

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

ILUSTRASI boikot.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI boikot.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

ADA  yang tak biasa saat pertandingan Persib lawan Perseru Serui dalam lanjutan penyisihan grup Piala Presiden 2019 Selasa lalu. Tribun penonton kosong melompong. Saya perhatikan penonton yang hadir adalah mereka yang merangkap juga sebagai panpel dan petugas saja. Tampak beberapa orang di sudut-sudut tribun tapi tidak signifikan.

Menurut Budi Bram Rachman, General Coordinator Panpel Persib, tiket yang terjual tidak sampai 1.000 lembar. Tentu ini sangat kontras dengan pertandingan-pertandingan Persib pada umumnya, tiket begitu sulit didapat, calo merajalela dan diuntungkan karena merasa di atas angina, akibat animo penonton yang luar biasa.

Beberapa hari sebelumnya memang muncul ajakan untuk memboikot pertandingan Persib - Perseru Serui menyusul buruknya penampilan tim. Pemicu lainnya bisa kita kaitkan kepada pemilihan pemain dan pelatih oleh manajemen yang jauh dari ekspektasi bobotoh.

Lalu apakah kosongnya stadion adalah ekses dari suatu gerakan boikot? Jangan terlalu cepat menyimpulkan.

Boikot-boikotan

Dalam kolom ini saya pernah menulis tentang Persib yang tak akan pernah bisa diboikot oleh bobotoh, karena akan selalu ada bobotoh yang mencari tiket Persib dan ingin menonton pertandingan. Boikot yang dimaksud tentu boikot dalam konteks ideologis, di mana boikot merupakan bentuk protes atas suatu kebijakan yang dirasa tidak tepa. Suporter ingin “memberi pelajaran” bahwa kehadiran dan aspirasi mereka pun harus diperhitungkan karena jika tidak maka suporter bisa melakukan sesuatu yang berdampak buruk seperti anjloknya pendapatan utama klub dari sektor penjualan tiket pertandingan.

Kondisi inilah yang bisa menggambarkan bagaimana suporter memiliki daya tawar sebagai kelompok penekan, yaitu kelompok di luar sistem (struktur formil, namun mampu memengaruhi suatu kebijakan. Gerakan seperti ini tentu fokus di tuntutan, tanpa memilih-milih pertandingan. Sedangkan yang terjadi kemarin sungguh sangat lucu, sejak awal kebijakan manajemen dikritik bahkan dihujat sebagian bobotoh, namun tetap saja pertandingan dipenuhi suporter terutama ketika Persib menghadapi Persebaya.

Ajakan boikot muncul ketika Persib sudah tersingkir dari Piala Presiden dan menghadapi perseru serui dalam laga tak menentukan. Tambahan lainnya adalah Perseru Serui bukanlah tim elit bertabur bintang yang membuat penasaran, dan pertandingan pun digelar pada hari kerja. Maka sesungguhnya tanpa adanya ajakan aksi boikot pun tentu panpel takkan berharap banyak pendapatan dari penjualan tiket dalam laga kali ini. Karena tanpa seruan boikot pun pertandingan memang bisa diprediksi sepi penonton.

 Maka sesungguhnya aksi boikot kemarin tidak akan berdampak apa-apa, hanya membuat sepi pertandingan yang sudah dipastikan sepi. Jika tujuan boikot adalah membuat manajemen jadi “mikir” tentu saja aksi kemarin masih belum akan membuat manajemen “mikir”.

Saran saya kepada bobotoh penganut mazhab boikot, jika ingin melakukan boikot lakukanlah dengan serius dan konsisten tanpa memanjakan ego, misalnya saja melakukan seruan boikot pada laga besar seperti lawan Persebaya, ketika Persib masih memiliki peluang lolos, laga panas dan bergengsi. Karena aksi boikot itu ibaratnya akan menampar dan diperhitungkan oleh manajemen ketika manajemen sudah meyakini akan mendapat laba miliaran rupiah dari hasil penjualan tiket dalam suatu pertandingan, namun tiba-tiba sirna karena adanya aksi boikot dari suporternya sendiri. Nah jika kondisinya seperti itu, maka barulah manajemen dijamin bakalan "mikir".***

Bagikan: