Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Umumnya berawan, 25.6 ° C

Ekologi Bocah Sunda

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

Salah satu pohon berusia ratusan tahun di Pulo Majeti
Salah satu pohon berusia ratusan tahun di Pulo Majeti

SEORANG teman, dosen Universitas Padjadjaran, sedang mencari prosa Sunda tentang lingkungan. Dari deretan karangan lawas, saya usulkan satu judul dari almarhum Min Resmana (1941-1988), pengarang dan guru dari Bandung. Bukunya berjudul Hujan di Girang Caah di Urang (1973). 

Judul buku ini, lebih kurang, berarti hujan di hulu banjir di hilir atau hujan di gunung banjir di kampung. Buku ini merupakan bacaan anak-anak. Tebalnya hanya 46 halaman. Ilustrasinya oleh almarhum Nana Banna. 

Judulnya mencerminkan isinya. Inilah cerita yang mengandung edukasi di bidang ekologi.

Sungai meluap di musim hujan, menerjang jembatan. Kampung kebanjiran, lumpur hanyut dari gunung. Itu pertanda tanah di bukit longsor, tak bisa lagi menyimpang hujan, tak kuat lagi menyerap air. Longsor timbul karena bukit jadi gundul akibat penebangan liar. 

Singkatnya, rusak di hulu susah di hilir. Sakit di gunung, merana di kampung. Tiada jalan buat mengatasinya, kecuali dengan memulihkan hutan.  

Bagaimana caranya? Inilah yang digambarkan oleh pengarang dengan menyuguhkan kisah keteladanan guru sekolah dasar di desa yang diramu dalam kisah petualangan sejumlah bocah di dalam hutan. 

Latar cerita menghadirkan Tatar Sunda. Di situ mengalir Sungai Citarik dan Citanduy yang di sekitarnya terletak sejumlah desa seperti Sukamaju, Sirnasari, Cinangka, Cikondang, Babakan, Cilebak, dan Mandé.

Terbayang sasak alias jembatan Leuwiorok yang hancur diterjang banjir hingga beberapa bocah terlambat ke sekolah. Terbayang pula Pasir Cipait yang pokok-pokok kayunya bertumbangan oleh liarnya penebangan. 

Gegedéna mah pasir téh geus lénang pisan. Ti kajauhan mah taneuhna semu beureum. Ukur léngkob-léngkobna nu masih kénéh réa tatangkalanana téh. Masih kénéh mangrupa leuweung (Sebagian besar lahan bukit itu sudah betul-betul gundul. Dari kejauhan tanahnya terlihat kemerah-merahan. Hanya lembah-lembahnya lah yang masih ditumbuhi banyak pohon. Masih berupa hutan),” begitu antara lain gambaran kerusakan ekosistem dalam cerita ini.

Caah alias bah jadi bahan pengajaran di sekolah. Bencana itu juga jadi pendorong kegiatan di luar sekolah. Anak-anak diajak oleh guru mereka melihat langsung dahsyatnya bencana alam. Anak-anak diajak oleh guru mereka bertindak langsung buat merawat keseimbangan alam. 

Guru teladan dalam cerita ini adalah Pak Maman. Kepada Warsa dan teman-teman sekelasnya, Pak Guru tidak hanya memberikan pengetahuan tentang erosi. Ia juga mengajak murid-muridnya berwisata ke hutan, menabur biji-bijian, menyelamatkan kehidupan.

Jauh di dalam hutan, di lahan-lahan gundul sekitar pencelut (puncak bukit), mereka menanam biji peuteuy sélong, albasiah, surian, kapuk, dan sebagainya. Tangan-tangan mungil melakukan kerja besar. 

Pék geura jadi, geura héjo. Mangké kami datang deui, hayang nénjo (Lekaslah tumbuh, lekaslah hijau. Kelak aku datang kembali, ingin melihatmu),” ucap salah seorang anak, murid Pak Maman, seraya menanam biji di hutan, seperti mengucapkan jampi.

Buku ini hanya salah satu di antara begitu banyak karangan Min Resmana. Karya-karyanya yang lain adalah Kabungbulengan (1965), Néangan Bapa (1966), Imah Nu Réa Kamarna (1966), Napsu Nu Matak Kaduhung (1966), Rusiah (1966), Si Kabajan Ngandjang ka Pagéto (1966), Si Kabajan Kasurupan (1966), Si Kabajan Tapa (1967), Sersan Major Maman (1967), Japati jeung Inten (1982), Damar Cingcin: Kumpulan Carita jeung Dongéng Sunda (1983), dan Peré di Lembur (1989). 

Min Resmana menulis Hujan di Girang Caah di Urang di Cimaung pada 1973. Awal tahun 1970-an, ketika cerita ini ditulis, di Provinsi Jawa Barat sedang berlangsung program Rakgantang, akronim dari Gerakan Gandrung Tatangkalan.

Tatangkalan adalah istilah Sunda buat pepohonan. Ketika itu, Gubernur Solihin GP mengimbau segenap masyarakat agar menanam berbagai pohon seperti albasiah, turi, dan sebagainya supaya hutan hijau lagi. 

Barangkali dalam suasana umum seperti itulah, sang pengarang, dengan caranya sendiri, turut menyuarakan pentingnya reboisasi (reforestation). Sebagai guru, ia mengarahkan pesannya ke jalur yang amat penting, yakni pendidikan dasar. 

Dengan kata lain, menurut saya, buku ini turut mengingatkan kita bahwa edukasi di bidang ekologi memang perlu dimulai sejak dini. Itulah sebabnya saya mengusulkan buku ini untuk dimasukkan ke dalam daftar bacaan teman saya.*** 

Bagikan: