Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Sebagian berawan, 19.7 ° C

Budaya Kritik Bobotoh Persib dan Sisindiran

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

Persib/DOK. PR
Persib/DOK. PR

TAK ada satu pun argumen yang bisa dibenarkan terkait aksi pemukulan yang dilakukan oknum bobotoh terhadap Pelatih Persib Miljan Radovic usai kekalahan dari Persebaya Surabaya dalam laga babak penyisihan Grup A Piala Presiden 2019.

Tindakan agresif tersebut menunjukkan hal buruk lebih dari sekadar kekecewaan suporter. Namun, bisa dimaknai lebih luas terkait rusaknya tatanan mental dan karakter pada suatu kelompok masyarakat.

Karakter pendukung klub sepak bola seringkali terkait dengan keseharian mereka dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

BOBOTOH Persib/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

Ada suatu kota yang pendukung tim sepak bolanya agresif, mudah tersinggung, pemarah, gemar melakukan kekerasan, dan menggandrungi kebrutalan karena ternyata mayoritas pendukung tim tersebut menjadikan sepak bola sebagai ajang pelarian dari kenyataan hidup  yang keras dan sulit serta rutinitas sosial-ekonomi yang membuat penat. Untuk bertahan, mereka terbiasa dengan tindakan-tindakan kasar yang mengenyampingkan dialog, nalar, serta logika.

Sudah terjadi sejak dulu

Tak pernah ada yang salah dengan kekecewaan suporter saat melihat tim kebanggaannya menuai hasil buruk di lapangan. Namun, lebih elok ketika hasil buruk tersebut disikapi dengan introspeksi dan autokritik untuk klub, bukannya menyalahkan lawan apalagi wasit.

Terkait budaya kritik ini, sesungguhnya bobotoh Persib telah memulainya sejak lama. Sering kita dengar cerita kisah masa lalu betapa malu dan takutnya pemain Persib keluar rumah jika gagal membawa Persib meraih kemenangan.

Tetangga akan melontarkan sindiran dan terus membahas kekalahan tim. Belum lagi koor bernada ejekan dan caci maki dari suporter jika Persib bermain buruk di stadion Siliwangi. Bahkan sempat ada insiden bus pemain yang tak bisa meninggalkan stadion karena tertahan aksi bobotoh yang menuntut perbaikan tim.

Bobotoh Persib/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

Jika itu semua belum cukup, boleh disimak betapa ganasnya kritik-kritik dari media massa Bandung kala Persib bermain buruk. Bahkan mantan pelatih Persib asal Moldova Arcaan Iurie sempat stres dan dilarikan ke rumah sakit akibat “tak kuat”  dengan isi pemberitaan koran-koran di Bandung yang memojokkan dia.

Sebelum insiden Kamis 7 Maret 2019, sekeras apapun kritik untuk Persib tidak pernah ada aksi kekerasan dan tindakan fisik. Hal tersebut menunjukkan bahwa kultur kritik sebagai pelampiasan kekecewaan di Bandung sudah berada dalam jalur yang benar. Semua bebas menilai dan bebas berpendapat, tetapi tetap dalam koridor yang sesuai porsi masing-masing.

Sehingga, aksi berlebihan yang menimpa Miljan Radovic bukanlah hal yang wajar dan perlu kita anggap sebagai suatu keanehan bahkan autokritik lebih tepat ditujukan kepada bobotoh secara keseluruhan. Ada apa dengan bobotoh belakangan ini? Fakta kekerasan masih jelas berceceran. Sebut saja tragedi tewasnya Ricko Andrean (bobotoh) dan Haringga Sirla (Jakmania) di stadion GBLA beberapa waktu lalu. 

Gunakan sisindiran

Bandung, Jawa Barat, dan kultur Priangan begitu lekat dengan kesantunan, keramahtamahan, dan mengedepankan dialog daripada konflik terbuka. Di sinilah tempat lahirnya para intelektual bangsa dan tempat berdirinya institusi-institusi pendidikan terkemuka di negeri ini.

Semuanya tentunya harus bisa memiliki dampak dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk sepak bola.

Dari dulu pendukung sepak bola dari Bandung dikenal sebagai kumpulan orang-orang yang memiliki gengsi, sungkan meminta, malu menyusahkan orang lain, dan memiliki jiwa humor yang tinggi.

Bisa dibayangkan betapa minimnya ancaman sosial (apalagi kekerasan) dari kelompok jenis ini. Mereka senantiasa heureuy dalam menikmati sepak bola. Celetukan yang mengundang tawa akrab di telinga jika kita hadir langsung mendukung Persib di stadion.

Kultur dan karakter verbal secara lisan ini berpengaruh dalam cara-cara berekspresi. Bandung banyak yang menjadi seniman, melahirkan band-band ternama, komedian dan penutur humor serta bintang radio yang diakui di zamannya.

Bahkan dalam konteks kritik serius, karakter khas ini mampu melahirkan seni khas yang bisa jadi tak akan ditemui di tempat lain yaitu seni yang disebut sisindiran.

Sisindiran bukanlah memaki atau mencaci secara vulgar dan menyakitkan, tetapi berupa kelihaian orang melontarkan kritik terkait suatu fenomena (politik, sosial, budaya, pendidikan) tanpa membuat orang yang dikritik tersinggung bahkan bisa jadi malah tertawa karena unsur humor yang dikemas dalam kritiknya.

BOBOTOH Persib.*/DOK. PR

Sejatinya, sisindiran memiliki filosofi yang sangat dalam dan tentu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan luas serta kecakapan untuk memformulasikan wawasan, humor, serta membaca karakter orang yang akan disindir.

Seiring kemajuan zaman dan keberanian berekspresi, sisindiran bisa saja berubah menjadi lebih vulgar tanpa melepaskan karakter humor dan santunnya.

Sebenarnya inilah ruang yang tetap terjaga untuk sebagian bobotoh. Di media sosial, seringkali berseliweran sindiran-sindiran terkait kebijakan manajemen Persib yang dirasa kurang pas tentang performa buruk pemain hingga fenomena selebgram perempuan yang dianggap hanya memanfaatkan pernak-pernik Persib untuk menambah follower dan memancing endorse.

Semoga sepak bola tetap menjadi isu untuk menjaga karakter khas urang Priangan dalam berekspresi dan mengemukaan pendapat yaitu melalui gaya yang santai, heureuy, tidak vulgar, tetap tajam, dan kritis.***

Bagikan: