Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Umumnya berawan, 25.6 ° C

Menuju Masyarakat Jabar Tangguh Bencana

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

GEMPA bumi.*/DOK. PR
GEMPA bumi.*/DOK. PR

DALAM situasi tenang, aman, nyaman, serta tidak terjadi hal yang mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat, seringkali faktor penyebab ancaman dan gangguan terabaikan.

Bahkan sering tidak dipersiapkan dengan baik serta tidak diutamakan. Baru ketika bencana terjadi, apalagi berdampak pada kehancuran lingkungan yang dahsyat, adanya korban manusia, dampak psikologis yang dalam, serta kehilangan harta benda, barulah disadarkan kembali bahwa masyarakat tinggal di kawasan yang rentan bencana.

Selama ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat lebih berperan sebagai “Pemadam kebakaran”. Ketika terjadi bencana, BPBD beserta komponen bangsa lainnya segera bertindak cepat terjun menanganinya.

Mulai tahun ini, seperti disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Supriyatno dalam rapat tim teknis bertajuk Jabar Resilience Culture Province, 7 Februari 2019 di Bandung, BPBD Jabar menegaskan akan lebih menitikberatkan upaya memperkuat ketangguhan masyarakatnya. Program yang akan diperkuat adalah edukasi, sosialisasi, dan simulasi.

PRESIDEN Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan) meninjau simulasi terjadinya gempa bumi saat menghadiri pelaksanaan Program Tagana Masuk Sekolah dan Kampung Siaga Bencana di SDN Panimbang Jaya 1, Pandeglang, Banten, Senin 18 Februari 2019/ANTARA FOTO

Supriyatno berpendapat, penguatan masyarakat Jawa Barat menjadi masyarakat tangguh bencana sangat strategis karena upaya edukasi, sosialisasi, dan simulasi merupakan upaya kemanusiaan dalam upaya mempertahankan hidup manusia.

Inilah nilai penting dari pengurangan risiko bencana yaitu terbentuknya masyarakat Jawa Barat yang mengetahui potensi ancaman bencana dan siaga dalam meminimalkan risiko yang akan menimpanya.

Supriyatno mengemukan bahwa ketangguhan itu akan tumbuh dan dilatihkan bersama masyarakat. Sudah terbukti bahwa lebih dari satu per tiga warga selamat dari bencana karena mereka secara individu sudah siap. Keluarganya sudah siap, sudah terbentuknya empati dan kegotongroyongan dengan para tetangga.

Peran yang lainnya relatif kecil. Bila sudah terbentuk pribadi-pribadi yang tangguh, akan terbentuk keluarga yang tangguh, masyarakat desa yang tangguh, masyarakat kota yang tangguh, dan akhirnya terwujudnya masyarakat provinsi yang tangguh.

Bahaya yang masih tertidur di Jawa Barat selatan

Sumber yang menjadi ancaman bencana di Jawa Barat sangat tinggi seperti gempa bumi dan tsunami. Jawa Barat selatan berbatasan dengan Samudra Hindia yang di dasarnya terdapat zona penunjaman dua lempeng bumi seperti yang sudah disimulasikan oleh peneliti BPPT Widjo Kongko. Dia memaparkannya dalam seminar yang diadakan BMKG di Jakarta, 4 April 2018.

Hasil simulasi tsunami dari megathrust segmen Selat Sunda-Selatan Jawa Barat menghsilkan temuan adanya ancaman gempa bumi dengan magnitudo 9 (gempa bumi Aceh tahun 2004 bermagnitudo 9,2).

Demikian juga hasil penelitian Danny Hilman Natawijaya dari Puslit Geoteknologi LIPI. Dia mengatakan, dari data seismisitas terlihat jelas bahwa segmen megathrust dari wilayah Selat Sunda sampai Jawa Barat selatan merupakan wilayah yang seismisitasnya sepi. Artinya, masih tidak, belum, atau baru sedikit mengeluarkan akumulasi energinya.

WARGA Desa Gendangsari, Kab. Gunungkidul, DIY bergotong royong membersihkan material longsor, Kamis, 7 Maret 2019. Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu sore hingga malam, menyebabkan air Sungai Iya meluap yang berimbas beberapa jembatan dilaporkan rusak dan terjadi tanah longsor di beberapa titik.*/WILUJENG KHARISMA/PR

Keadaan ini, menurut Hilman Natawijaya, berpotensi menjadi gempa megathrust yang akan datang di zona subduksi Sunda.

Demikian juga dalam disertasi Nuraini Rahma Hanifa seperti dikutip Danny Hilman Natawijaya, dengan menggunakan pemodelan data GPS. Menurut Rahma Hanifa, Jawa Barat Selatan saat ini dalam kondisi terkunci (mengakumulasi energi) dan menurut perhitunga dia, akan menghasilkan gempa berkekuatan magnitudo maksimum 8,7. Kapan waktu terjadinya, inilah yang masih menjadi misteri.

Jawa Barat berselimut ancaman bencana

Soal ancaman letusan gunung api, di Jawa Barat terdapat tujuh gunung api aktif atau gunung api tipe A yang tercatat meletus sejak tahun 1600.

Di Kabupaten Tasikmalaya ada Gunung Galunggung, di Kabupaten Garut ada Gunung Guntur dan Gunung Papandayan, di Kabupaten Kuningan-Majelengka-Cirebon ada Gunung Ciremai, di Kabupaten Bandung-Subang ada Gunung Tangkubanparahu, di Kabupaten Cianjur-Bogor-Sukabumi ada Gunung Gede, dan di Kabupaten Bogor-Sukabumi ada Gunung Salak.

Ancaman tanah longsor di Jawa Barat akan semakin kuat karena lahan-lahan dengan kemiringan yang sangat curam sudah banyak beralih fungsi menjadi kebun bawang dan kentang.

Bahkan di kawasan konservasi seperti saat longsor yang terjadi beberapa waktu yang lalu di Kabupaten Sukabumi, ada lahan hutan yang berubah menjadi lahan budidaya yang sangat rentan longsor. Kekeringan dan banjir adalah dampak turunan karena kondisi lingkungan yang semakin kritis.

Di perkotaan, penurunan muka air tanah dalam yang berdampak pada penurunan muka tanah akan semakin meluas, sejalan dengan kehancuran lingkungan sebagai kawasan tangkapan hujan dan penyedotan air tanah di bawah perkotaan yang sangat tinggi.

Bencana yang bersumber dari hidrometeorologi mulai menguat seperti putting beliung, curah hujan yang tinggi, badai laut, dan abrasi.

Letak geografi Jawa Barat dekat dengan Jakarta, maka dampak positif dan negatif akan cepat menjalar.

Dampak negatifnya dapat berubah menjadi bencana sosial bagi masyarakat seperti bila terjadinya konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat dan terorisme.

Jawa Barat kini menjadi kawasan industri berteknologi sehingga perlu pemantauan yang ketat. Bila terjadi kelalaian, dapat berubah menjadi bencana gagal teknologi. Hal yang harus diwaspadai selain bencana alam, sosial, dan teknologi di Jawa Barat itu bencana epidemi, wabah penyakit, dan kebakaran hutan.

Dalam rapat tim teknis Jabar Resilience Culture Province, pakar Geodesi dari ITB Irwan Meilano mengemukakan, mulai tahun 1996 sampai 2017 ada perubahan pola bencana di Indonesia. Saat ini yang tertinggi adalah gempa bumi, berikutnya banjir, kebakaran hutan, dan letusan gunung api.

Sejalan dengan upaya menuju masyarakat Jawa Barat tangguh bencana, Irwan Meilano mengajukan pertanyaan retoris, sistem sosial yang bagaimana yang mampu merespons dan memulihkan dirinya saat bencana? Kondisi internal yang bagaimana yang bisa menyerap dampak saat dan sesudah bencana? Proses adaptasi seperti apa yang bisa dilakukan untuk mengorganisasi, mengubah, dan dipelajari saat adanya ancaman?

Menurut dia, Jawa Barat sudah memiliki modal sosial yang kuat yaitu sosial dan komunitas.

Sampai Maret 2019, BPBD Jawa Barat terus menggodog cetak biru Jawa Barat sebagai provinsi tangguh bencana.

Semoga langkah itu menjadi jalan kemanusiaan dalam pengurangan risiko bencana di Jawa Barat. Aamiin.***

Bagikan: