Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 28 ° C

Hoaks, Halusinogen, dan Jimat Layang Jamus Kalimusada

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

Peneliti Komunikasi Politik, Dosen FPIPS UPI

Dawala/DOK. PR
Dawala/DOK. PR

KABAR bohong atau hoaks bisa menerkam siapa saja. Lalu, apa jadinya jika pemimpin termakan berita bohong atau terpedaya data abal-abal?

Pemimpin yang termakan kabar bohong atau terpedaya data abal-abal lalu menyebarkannya kepada warga tak ubahnya seseorang yang menyuntikan halusinogen.

Penerimanya akan dimabuk kesenangan palsu dan berhalusinasi tentang berbagai ragam kebahagiaan.  

Menyerukan perang terhadap hoaks sambil membiarkan operator data abal-abal menyebar virus dari dalam tak ubahnya orang yang meneriakan toleransi sambil merusak tempat ibadah.

Kekacauan sistem informasi seperti ini akan memancing turbulensi politik dan memorak-porandakan sikap saling percaya antarwarga, sebuah sikap yang menjadi pilar penting demokrasi. 

Hoaks Jimat Layang Jamus Kalimusada

Turbulensi politik akibat terjangan hoaks pernah terjadi di Amarta. Arjuna yang tengah dipusingkan oleh raibnya Jimat Layang Jamus Kalimusada, yang merupakan lambang kebesaran negara, menerima laporan bahwa pusaka kerajaan tersebut telah dicuri keluarga Lurah Semar Badranaya.

Sang pelapor, Guru Dorna, adalah mentor politik Arjuna sekaligus orang paling berpengaruh dan sangat dihormati.

Kesilauannya pada sang Guru membuat Arjuna nanar. Tak heran, Putra Panengah Pandawa tersebut menerima informasi tanpa kecurigaan sedikit pun.

Tidak mengecek ulang atau melakukan konfirmasi, dia langsung menginterogasi keluarga Semar Badranya bahkan membunuh Dawala.

Keluarga Semar tidak kuasa menentang kesewenang-wenangan Arjuna. Sebagai warga negara yang loyal, keluarga Semar berusaha menerima perlakuan tersebut meski hati kecilnya merintih perih seperti diiris keris berkarat.

Dengan dalih demi kehormatan bangsa dan negara, Arjuna melakukan kekejaman terburuk.

Nyatalah kekuasaan dapat mewujudkan apa saja termasuk mendirikan istana bara api.

Dawala tidak dendam. Putra kedua Lurah Semar tersebut ingin mengembalikan pusaka milik negara Amarta yang dicuri orang sekaligus membuat Arjuna tersadar: tidak mudah dihasut dan dibuai berita bohong.

Dawala menemukan titik terang untuk mewujudkan keinginannya berkat pertolongan Sang Hyang Tunggal, yang tidak lain adalah kakeknya.

Dengan kesaktiannya, Sang Hyang Tunggal mengubah wujud Dawala menjadi seorang ksatria tampan yang gagah berani.

Untuk menyempurnakan kesaktiannya, Sang Hyang Tunggal meragasukma ke dalam tubuh sang ksatria, yang kini bernama Bambang Surya Ningrat.

Ksatria jelmaan Dawala tersebut berhasil mengalahkan Prabu Purba Sakti (penguasa tertinggi di Kerajaan Purba Kencana) yang telah mencuri Jimat Layang Jamus Kalimusada dan mengubah wujudnya menjadi putri cantik bernama Dewi Purba Ningrum.

Bambang Surya Ningrat dapat membuat Arjuna tak berdaya dan bertobat, meminta maaf kepada keluarga Semar.

Arjuna menyadari, kabar bohong atau data abal-abal bukan hanya menyesatkan dia tetapi menyengsarakan rakyat yang dipimpinnya.

Kabar bohong dan data abal-abal seperti kanker yang menggerogoti tubuh dan menyerang sistem kekebalannya.

Setua peradaban manusia

Kisah di atas tersaji dalam suguhan wayang golek lakon Bambang Surya Ningrat. Dalang Asep Sunandar Sunarya menyuguhkan lakon tersebut dengan nada menghibur.

Lewat hiburan yang disuguhkannya, Asep Sunandar Sunarya mengajak semua penonton bersikap arif atas semua informasi yang didapat. Tidak mudah terpedaya data abal-abal. Tidak mudah tertipu kabar palsu. Disiplin konfirmasi atau tabayun menjadi ritual wajib ketika seseorang melahap kabar atau mengkonsumsi data.

Kisah Dawala jadi korban kemurkaan Arjuna selain mengisyaratkan usia berita bohong atau hoaks yang sama tuanya dengan peradaban manusia, juga menegaskan pentingnya kehati-hatian dan akurasi.

Apalagi bagi penguasa, yang “mati-hidupnya” rakyat ada di tangannya, kecermatan dalam membaca keadaan, akurasinya dalam mengelola data, dan kesungguhannya melandaskan keputusannya pada data yang benar menjadi keniscayaan.

Mengambil keputusan berdasarkan data yang benar, meski data tersebut berbeda bahkan mungkin tidak disukainya, merupakan salah satu bauran yang menentukan kesejatian seorang pemimpin.

Lebih dari itu, di tengah kepanikan politis, keberadaan seseorang yang independen dan tetap berpikir bening menjadi kebutuhan bagi penyelematan negara.

Ketika Arjuna dan para eksekutif terseret arus partisan, Batara Kresna tetap tenang dan independen.

Independensi Kresna bisa menyelamatkan Amarta dari pertarungan politik yang memecah-belah sekaligus melindungi rakyat jelata dari kesewenang-wenangan penguasa dan memastikan kewarasan menang melawan hasrat berkuasa yang membara.

Berita bohong bisa menjadi penyempurna jebakan dilema partisan. Sementara kecermatan dalam mencerna informasi yang masuk dan komitmen untuk tetap tegak lurus di tengah turbulensi politik menjadi panacea (obat mujarab)-nya.  

Sebagai manusia biasa, pemimpin negara bisa saja salah. Meski bisa salah, pemimpin dilarang berbohong.

Selain tunduk kepada norma umum, seorang penguasa ditakar kepatutannya oleh norma khusus yang melekat pada jabatannya. Karena itu, meski bisa lupa, seorang penguasa tidak boleh menyembunyikan kejujurannya di balik doktrin umum kealpaan seorang manusia biasa.***

Bagikan: