Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Sebagian berawan, 19.4 ° C

Asterix dari Kawali

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

BUKU Carios Si Urat Emas (2018) karya Godi Suwarna menghimpun sembilan cerita pendek. Kecuali satu, semua cerpen dalam buku ini berasal dari periode 1997- 1998, yakni fase genting dalam sejarah politik Indonesia modern.

Dengan kata lain, cerpen-cerpen tersebut ditulis pada zaman reformasi. Dengan caranya sendiri, cerpen-cerpen itu juga memberikan tanggapan literer terhadap situasi Indonesia menjelang runtuhnya autokrasi Soeharto.

Tanggapan Kang Godi, pada dasarnya merupakan tanggapan lokal, terutama dalam kaitannya dengan latar cerita dan penokohan. Tema-tema menyangkut krisis ekonomi, arogansi kekuasaan, dan korupsi diangkat dalam latar kota kecil, desa, atau lingkungan rumah tangga, dengan tokoh-tokoh yang lazim berperan dalam latar tersebut, semisal walikota, kuwu alias kepala desa, atau mama dan papa beserta anak-anaknya.

Dalam kaitan itu, medium bahasa sudah pasti penting artinya. Kang Godi adalah penulis Indonesia yang sangat setia kepada bahasa ibunya. Sulit mencari bandingan bagi bahasa Sunda yang klasik sekaligus kontemporer. Daya ungkapnya mewarisi jejak-jejak carita pantun tapi juga mampu menjangkau atmosfer mutakhir.

Bahasanya bisa terasa intim, genit, seru, kurang ajar, juga jenaka. Bahkan ada bagian-bagian cerita, entah berupa dialog ataukah rincian deskrispi, yang kayaknya mustahil diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Bahasa Sunda kiranya sudah jadi tubuh pengarangnya sendiri.

Matilah saya sekiranya harus menerjemahkan ungkapan demikian: “Nu tarung pagulung-gulung. Nu perang pagalang-galang. Sora gugur di kapitu. Sora gelap kadiliman. Ngetuk lindur handaruan...” atau “Tutulak bayu tutulak. Tulak tanggul tebéh kidul. Tulak condong tebéh kulon. Tulak sangkéh tebéh kalér. Tulak sungsang tebéh wétan...”

Latar cerita pada umumnya kayak panggung drama lengkap dengan ornamen dan sekian insiden. Insiden biasanya dihadirkan dengan kalimat-kalimat pendek yang sering terasa meneror pembaca, atau menghanyutkan pembaca dengan deskripsi melodius.

Jalan cerita dibangun dengan mengikuti konsekuensi dari insiden yang dihadirkan pada awal cerita. Seringkali perkembangan insiden melintasi batas-batas antara realisme dan surrealisme, nyata dan maya, eling dan mimpi.

Di garis batas itu sedikitnya ada dua hal yang berlangsung. Di satu pihak, tokoh-tokoh mitologi mengalami desakralisasi. Tindak-tanduk figur-figur kahyangan jadi manusiawi. Para pahlawan mitologi bisa nakal atau cunihin, jagat para pohaci alias bidadari bisa seperti klub mahasiswi semester empat.

Di pihak lain, tokoh-tokoh dari dunia sehari-hari mengalami mitifikasi. Mahasiswa yang sedang bingung bisa terbang ke kahyangan, kerani kecil di kantor kelurahan bisa bertemu dengan figur-figur ajaib dari dunia lain. Kedua kategori karakter itu bisa bertemu dalam satu cerita.

Salah satu, kalau bukan satu-satunya, cerpen yang realistis dalam koleksi ini adalah “Dongéng Si Ujang sareng Asterix”. Cerpen ini, kiranya, dapat dijadikan contoh paling representatif dari cara Kang Godi menanggapi situasi Indonesia zaman reformasi.

Ia melihat gerakan mahasiswa pro-reformasi seperti anak-anak melihat perjuangan bangsa Galia (Gaul) melawan tirani Romawi (Rome) dalam komik Asterix karya René Goscinny dan Albert Uderzo yang termasyhur.

Narator dalam cerpen ini menempatkan diri dalam jagat anak-anak. Bahasanya pun diselaraskan dengan bahasa anak-anak yang bersahaja, childish dan innocent.

Deskripsinya antara lain seperti ini: “Ujang ngadeg. Tapi kalah teras naplok na kaca jandéla. Nu di jalan katingali tambih seueur. Sapertos siraru nu nuju ngagembrong bumi Bapa Walikota, nu hérang
sareng harurung. Dalmasna tambih seueur ... Dalmasna ngabaris sapertos prajurit Roma na komik Asterix koléksi Ujang. Galiana nuju alajrag-ajragan kénéh. Nuju paridato kénéh. Aya Asterix. Aya Obelix. Idefix. Panoramix. Aya sadayana ogé. Nuju ngaheureuyan Romawi.”

Dalam cerpen ini pertentangan antara kaum reformis dan kalangan status quo digambarkan sebagai percekcokan keluarga, antara anak dan orang tua, di dalam rumah juga pertentangan antara mahasiswa demonstran dan walikota korup beserta kroninya di luar rumah.

Kedua latar dibuat berdekatan, sehingga si anak pencinta Asterix dapat mengikuti percekcokan keluarga dari celah pintu kamar seraya menyaksikan demonstrasi di jalan melalui kaca jendela.

Si anak ingin ikut berada di luar rumah, bukan untuk ikut kakaknya berdemonstrasi, melainkan untuk bermain hujan-hujanan. Betapapun, di matanya, para demonstran tak ubahnya dengan para pejuang Desa Galia. 

Ketika si anak ikut merasakan kezaliman di dalam rumah, ia tidak menangis, melainkan sebatas mendengar suara Asterix mengamuk di luar rumah.

Begitulah Kang Godi, Asterix dari Astana Gede Kawali, dalam fase yang kritis itu turut menyuguhkan alegori Sunda yang pahit mengenai situasi Indonesia yang tengah berubah.***

Bagikan: