Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Umumnya cerah, 19.6 ° C

Bobotoh Tak Akan (Pernah) Bisa Memboikot Persib

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

TAK perlu kita bahas lagi tentang betapa beruntungnya Persib memiliki basis suporter yang besar dan loyal seperti bobotoh. Dengan karakteristik yang khas, bobotoh menjadi aset istimewa yang mampu memberi dampak signifikan terhadap 4 sumber pemasukan utama klub profesional yaitu tiket pertandingan, merchandise, hak siar TV, dan sponsorship.

Tulisan ini bicara terkait isu seruan boikot pertandingan yang cukup marak di dunia maya beberapa waktu terakhir. Isu ini merebak menyusul kegagalan Persib menggelar laga sesuai jadwal dalam lanjutan Piala Indonesia. Konon bobotoh banyak yang kecewa dan merasa mengundur jadwal bukanlah pilihan yang maksimal.

Terlepas dari berbagai pemahaman untuk mencerna argumen terkait pengunduran laga tersebut, ada hal lain yang menarik untuk diperbincangkan, tentang ancaman boikot itu, memangnya bobotoh bisa?

Gagal sepakat

Boikot sebagai gerakan kritis untuk menyatakan sikap sebenarnya selalu menjadi isu strategis dalam bidang apapun. Tentu saja aksi boikot yang dilakukan secara benar, terorganisir dan dengan tujuan yang jelas biasanya akan memberikan efek kejut dan dampak terkait sebuah kebijakan.

Variannya bisa dalam berbagai bentuk, mogok massal, aksi demonstrasi ataupun tak menghadiri dan bersikap apatis terhadap suatu event. Boikot dalam konteks suporter sepak bola pun bisa dalam berbagai bentuk.

Bisa tidak membeli produk resmi klub karena harga yang dianggap terlalu mahal, tidak menonton siaran langsung klub tertentu karena alasan tertentu hingga memengaruhi rating, ataupun berhenti berlangganan saluran TV berbayar yang berhubungan dengan klub tertentu.

Namun yang akan jelas terasa tentunya boikot jenis terakhir, yaitu boikot dengan aksi tidak menghadiri suatu pertandingan kandang. Stadion akan terasa lengang tidak hiruk pikuk seperti biasanya, pemain merasa kehilangan atmosfir, dan tentu saja klub akan kehilangan banyak uang karena penjualan tiket yang anjlok.

Namun tentu itu harus dilakukan secara masiv dan serentak, dengan pemahaman yang sama, tujuan yang sama serta bersama-sama pula. Karena dampak takkan terasa jika hanya dilakukan oleh segelintir pihak saja. 

Apalah artinya kehilangan ratusan penonton jika puluhan ribu yang lain tetap hadir ke stadion. Alasan masiv, bersama dan serentak pula yang membuat saya memastikan bahwa sebenarnya aksi boikot takkan pernah ada untuk Persib Bandung. Karena bobotoh begitu heterogen, dengan banyak bendera, banyak pemahaman, banyak selera, dan banyak motivasi untuk mendukung Persib, terlebih tak ada satu komando yang bisa diacu secara tegas dan wajib dipatuhi untuk melakukan aksi tersebut.

Dalam banyak kasus gerakan di media sosial sebenarnya bisa menjadi pemicu, namun tentu saja takkan cukup memadai untuk menggerakkan bobotoh terkait aksi boikot. Hal ini dipengaruhi dua hal, pertama karena tak semua segmen bobotoh tersentuh media sosial, kedua karena pemantik isu boikot di media sosial pun bukanlah pihak-pihak yang bisa menjelaskan secara jelas apa, bagaimana dan dampak dari gerakan boikot ini, semua hanya terlontar secara sporadis dan emosional.

Rekreasi

Motivasi ideologis untuk datang ke stadion tentu tak dimiliki banyak suporter. Banyak di antara mereka yang datang ke stadion karena memiliki waktu, hanya ingin hiburan, atau iseng semata.

Sebenarnya isu boikot ini malah akan menguntungkan suporter jenis ini, karena mereka akan merasa bahwa saingan untuk mendapatkan tiket akan berkurang, bahkan bisa jadi mereka lebih menikmati suasana stadion yang lebih lengang.

Belum pula kita perhitungkan jumlah suporter kategori fanatik yang merasa harus terus ada untuk Persib saat pertandingan kandang. Karakter fanatik yang bisa kita artikan sebagai penerimaan terhadap suatu hal tanpa daya kritis tentu takkan relevan dengan berbagai dialektika terkait boikot pertandingan. 

Justru segmen inilah yang paling menguntungkan klub dan akan mudah dieksploitasi dalam kondisi apapun.

Isu boikot bukan kali ini saja. Pernah ada masa ketika seorang pentolan suporter mengatakan bahwa dirinya takkan pernah hadir jika sosok tertentu masih menjadi manajer Persib. Pernah juga ada masanya ketika prestasi Persib terpuruk dan suporter menganggap penyebabnya adalah ketidakbecusan pengurus dalam merekrut pemain, wacana boikot pun menyebar, tujuannya untuk “memberi pelajaran” agar pengurus Persib lebih becus.

Namun apa yang terjadi, stadion tetap ramai jika dibandingkan rata-rata jumlah penonton pertandingan kandang klub lain. Jikalau benar-benar ada yang melakukan mogok nonton ke stadion tentu jumlahnya tidak seberapa dan tak terasa apa-apa, boro-boro dampaknya.

Periode 2000-an awal justru saya cukup sedikit “diuntungkan” keadaan ketika Persib dianggap kurang greget. Posisinya sulit beranjak dari papan tengah, pemain biasa-biasa saja tanpa nama-nama besar, ketika itu stadion Siliwangi seringkali tak terisi penuh.

Terlebih Persib mulai hobi bermain imbang dan jarang menang di kandang. 
Ketika itu saya tak perlu bersusah payah mencari tiket karena animo penonton yang anjlok. Beli di calo pun masih dengan selisih yang wajar. Datang ke stadion pun bisa mepet waktu kick-off.

Bayangkan saja, dalam kondisi tengah “diboikot” pun stadion bisa terisi lebih dari setengah. Oleh karena itu, sekali lagi saya katakan, bobotoh takkan pernah bisa melakukan aksi boikot pertandingan Persib.***

Bagikan: