Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 13.985,00 | Sedikit awan, 21.4 ° C

Inggit Garnasih Selundupkan Buku ke Penjara Banceuy

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

SOEKARNO di depan gedung yang sekarang dinamai Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 5, Babakan Ciamis, Sumurbandung, Kota Bandung.*/DOK. PR
SOEKARNO di depan gedung yang sekarang dinamai Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 5, Babakan Ciamis, Sumurbandung, Kota Bandung.*/DOK. PR

KARENA keadaan keuangan, akhirnya Inggit Garnasih memustuskan tidak menyertai Bung Karno ke Yogyakarta dan Solo akhir Desember 1929. Bung Karno menemui kerabatnya, bertemu dengan banyak tokoh pergerakan di sana. 

Seperti biasa, Bung Karno berpidato menyampaikan gagasan kemerdekaan. Karena sudah dimata-matai sejak awal, ke mana pun Bung Karno pergi, akhirnya polisi kolonial menangkapnya lalu dimasukkan ke penjara orang sakit ingatan. 

Dari penjara itu, Bung Karno dan rombongan dizinkan pulang ke Bandung menggunakan kereta api dengan pengawalan yang sangat ketat. 

Bung Karno dan tokoh pergerakan lainnya diturunkan di stasiun Cicalengka, sekitar 30 km dari Bandung, baru melaju dengan iring-iringan mobil hitam dengan pengawalan yang sangat ketat menuju Rumah Penjara Banceuy. 

Hal itu dimaksudkan untuk menghindari ketegangan, agar para simpatisan Bung Karno tidak bisa menyambutnya di stasiun Bandung, termasuk istrinya, Inggit Garnasih. 

Selama 40 hari, Bung Karno benar-benar diisolasi di kamar tahanan yang gelap, pengap, dan tak berjendela atau jeruji untuk lubang angin dan memandang ke luar. 

Dinding dan atapnya terbuat dari batu, di salah satu sisi tembok terdapat pintu dari pelat besi tebal yang berat. 

Penjara Banceuy untuk kelas pepetek

Dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (Cindy Adams, 1966), Bung Karno menggambarkan bahwa Penjara Banceuy adalah penjara untuk kelas pepetek, analog untuk rakyat jelata. 

Pepetek adalah ikan laut berukuran sekira 2-3 jari orang dewasa, ikannya sangat tipis, banyak duri, dan biasanya diawetkan dengan cara diasin. Ikan asin pepetek banyak dimakan oleh rakyat saat itu karena harganya terjangkau. 

Dalam buku itu ditulis, Penjara Banceuy sangat kotor. Ada ranjang besi dengan alas keras yang dilapisi tikar, menghabiskan separuh ruangan yang lebarnya 1,5 meter, panjangnya sama dengan peti mayat. Di kolong ranjang besi itu ada kaleng untuk menampung kotoran yang setiap pukul 5.30 harus dibersihkan.

Bung Karno dan semua yang akan masuk Penjara Banceuy dicukur gundul terlebih dahulu, lalu pakaiannya diganti dengan seragam biru.

Bung Karno dimasukkan ke dalam bangunan di Blok F, sel nomor 5. Sementara para sahabat seperjuangan Gatot Mangkupraja di sel nomor tujuh, Maskun Sumadiredja di sel nomor sembilan, dan Supridinata di sel nomor sebelas.

Setelah 40 hari, baru diperbolehkan untuk dibesuk, tetapi tetap dengan pengawalan ketat. Ketika Inggit Garnasih besuk, disediakan meja dan dua kursi berhadapan yang dibatasi jaring kawat. 

Dua petugas berdiri di dekatnya, satu orang Belanda dan satu lagi penduduk asli yang bertugas memegang kunci penjara. 

Ketika bertemu dengan istrinya, Bung Karno tidak diperbolehkan berpegangan. Bicara harus keras, dan tidak diperkenankan menggunakan bahasa Sunda. 

Petugas mencatat semua yang dikatakan. Bila berbicara perlahan, petugas akan menegur agar mengeraskan suaranya. 

Saat itu Bung Karno menyerahkan oleh-oleh kain batik dari istri Mr. Ali Sastroamijoyo.

Penyelundupan melahirkan Indonesia Menggugat

Waktu besuk hanya 5 menit. Selama dalam tahanan, Bung Karno membina hubungan baik, bahkan mengadakan pembinaan untuk Indonesia merdeka. 

Dengan cara itu, ada petugas yang berempati. Salah satunya adalah Bung Sariko. Melalui orang itulah Bung Karno mendapatkan surat kabar yang disimpan dalam lipatan handuk atau buku yang diselundupkan sampai di sel Bung Karno.

Melalui orang kepercayaan yang bekerja di dalam penjara itulah Bung Karno menitipkan surat yang sangat rahasia untuk istrinya, Inggit Garnasih. 

Surat itu sampai kepada istrinya. Di depan rumahnya, kini dibuat warung-warungan, yang sesungguhnya merupakan penyamaran karena sesungguhnya adalah pos untuk memata-matai Inggit Garnasih sehari-hari. 

Isi surat itu adalah agar Inggit Garnasih meminjam buku kepada Mr. Sartono, karena Bung Karno akan membuat pembelaan beberapa minggu ke depan. Inggit Garnasih bingungnya setengah mati. Lalu Inggit Garnasih menulis surat untuk Mr. Sartono, yang isinya menyatakan ingin meminjam buku. Namun, buku apa yang diinginkan Bung Karno, oleh Andjar Any, penulis buku Bung Karno, Siapa yang Punya, tidak disebutkan judulnya.

Setelah mengatur siasat, Inggit Garnasih hanya berjalan-jalan di sekitar rumahnya dan mata-mata tak lepas mengawasinya. Namun, akhirnya surat itu sudah berpindah tangan kepada orang kepercayaannya untuk disampaikan kepada Mr. Sartono. 

Buku tebal yang dipesan Bung Karno sudah didapat. Menyampaikannya kepada Bung Karno melahirkan kebingungan yang menguras pikiran. Bagaimana cara menyelundupkan buku itu ke dalam penjara? 

Akhirnya Inggit Garnasih menemukan jalan. Inggit Garnasih tidak makan nasi selama tiga hari sehingga tubuhnya yang langsing itu, perutnya semakin kempleng, kempis. 

Buku pesanan Bung Karno itu dibelit kemben dengan ikatan yang kencang, sedikit tersamarkan di balik kebayanya. Agak terlihat gemuk, memang, tapi Inggit Garnasih lolos dari penjagaan. 

Untuk melepaskan buku dari belitan kemben lalu menyerahkannya memerlukan cara yang tidak mencurigakan petugas yang tak lepas mengawasi. Namun akhirnya buku itu beralih tangan di kolong meja. Tak ada petugas yang mengetahui.

Dengan caranya, Bung Karno akhirnya mendapatkan kertas dan pensil yang cukup dari petugas yang bersimpati, seperti Bung Sariko. 

Catatan dalam penjara itulah yang dibacakannya sebagai pembelaan di hadapan sidang Landraad yang ke 27 kali. Uraian pembelaannya itu kini dapat dibaca dalam buku yang berjudul Indonesia Menggugat.

Gedung tempat Bung Karno membacakan pembelaan kini dinamai Gedung Indonesia Menggugat yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 5, Babakan Ciamis, Sumurbandung, Kota Bandung.***

Bagikan: