Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Langit umumnya cerah, 17.1 ° C

Idiom Hadi

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

DALAM kumpulan sajak terbaru dari Hadi AKS, Tembang Matapoé (2018), kesunyian yang diam-diam melahirkan puisi dihinggapi dua hal yang paradoksal. Digambarkannya sekuntum bunga mekar di atas kuburan, gemetar kedinginan bersama kristal embun di ujung daun.

Dalam jerih payah menyampaikan bunyi dari sunyi, Hadi menemukan jalan sendiri. Ia tidak mempertentangkan keindahan dan kepahitan, kehidupan dan kematian. Ia menyatukan keduanya. Katanya, “seungit ngadalingding tur nyanyautan”. Lihat, ia memilih kata “tur” (dan), bukan “tapi”.

Impresi puitik itu sendiri, bagi Hadi, “eunteup rerencepan tanpa kekecapan” (diam-diam hinggap tanpa kata). Misi penyair memang berat, yakni mencari kata yang dapat dipercaya untuk berbagi impresi itu di halaman buku.

Kata-kata yang tersedia dalam kamus memang sering terlihat seperti kumpulan jasad dalam kuburan massal. Ada kalanya penyair harus membuka peti mati, mungkin kayak Yesus membangunkan Lazarus, atau sama sekali menjelajah ke luar kamus.

Dalam kamus bahasa Sunda baik terbitan Lembaga Basa Sunda (LBSS) maupun susunan almarhum R.A. Danadibrata, tidak kita temukan kata “matapoé”. Adapun dalam kamus Sunda-Inggris susunan R.R. Hardjadibrata, kata “mata poé” dikasih keterangan “rare” alias “jarang” atau “langka”.

Hadi cenderung memilih idiom yang jarang dipakai itu. Sebagaimana penyair Acep Zamzam Noor 26 tahun sebelumnya, ia memilih matapoé ketimbang panonpoé apalagi srangéngé. Itulah istilah Sunda buat “matahari”. Dari Acep kita mendapatkan “Dayeuh Matapoé”, sedangkan dari Hadi kita mendapatkan “Tembang Matapoé”.

Hadi, pengarang dan guru bahasa di Lembang, berasal dari Pandeglang. Sudah pasti, ia turut membaca Max Havelaar karya Multatuli, suara pahit dari Rangkasbitung. Ia pun ikut menyuarakan kerinduan Saijah kepada Adinda dengan dialek Banten, bahasa ibu sang penyair.

Saijah dalam sajak Hadi kembali ke kampung berselempang “koja”, tas hand-made khas Banten. Dengan sedih ia mengingat kekasih: “ku naeun dia teu datang nepungan?” (kenapa kamu tidak menemuiku?). Idiom “naeun” dan “dia”, yang lazim di Pandeglang, memang terasa lebih bertenaga ketimbang “naon” dan “anjeun” yang biasa dipakai di Lembang. 

Dalam “Karéta Nu Terus Kebat”, salah satu sajak yang cenderung prosais dalam kumpulan ini, ada idiom “lelemahcai”. Efeknya agak berbeda dari yang mungkin ditimbulkan oleh idiom “lemahcai” (tanah air) yang sudah terlampau sering dipakai orang.

Tanpa maksud membuat perbandingan, saya teringat pada salah satu sajak mendiang Kirjomulyo dalam Romansa Perjalanan. Di situ sang penyair naik kereta malam dan melihat pantulan wajahnya sendiri pada kaca jendela. Dalam sajak Hadi perjalanan dengan kereta malam kiranya jadi metafora bagi ketersingkiran sekelompok orang dari tanah kelahirannya sendiri, yang mendorong mereka mencari tempat baru yang alamnya belum terganggu. Pandangan si aku-lirik, dengan begitu, terarah ke luar jendela.

Dengan keprihatinan tematik yang seakan diwarisi dari para penyair tahun 1950-an, Hadi menggambarkan kerusakan ekologi dengan sedikit dramatisasi. Digambarkan, misalnya, “walungan mudal ku sarah, bangké orok jeung sirah tatangkalan...” (sungai meluap dengan limbah, bangkai orok dan tunggul pepohonan).

Sajak-sajak yang dihimpun dalam kumpulan ini berasal dari periode 1998 hingga 2018. Genap dua dasawarsa. Dalam beberapa di antaranya, tak terkecuali dalam sajak yang judulnya dijadikan judul kumpulan ini, kita mendapatkan gambaran tentang “lalampahan tanpa panungtungan” (perjalanan yang tiada akhir).

Saya sendiri merasa, pada kasus Hadi, perjalanan itu bakal terus berlangsung. Meski ada kalanya sang penyair bimbang, hendak ke mana ia bergerak, sebagaimana kebimbangan dalam perjalanan dengan kereta malam itu, satu hal yang pasti adalah kenyataan bahwa ia sedang bergerak terus. Terus, dan terus.***

Tags
Bagikan: