Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Umumnya berawan, 27.7 ° C

Ging yang Gembira

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

BANGUN tidur, dalam sebuah bus turis dari Pangandaran ke Bandung, saya membuka ponsel. Ada missed calls dari Teten Masduki, dua kali. Lewat WA, dia pun mengirim chat yang singkat sekali: “Ging meninggal.”

Lewat kaca jendela terlihat pemandangan malam yang suram. Hujan deras, jalan basah, dan mobil-mobil merayap menjelang tanjakan Gentong. Saya mengontak adik Ging, Dewi Ratna Damayanti. Ia membenarkan berita itu.

Maut, pada 20 Januari malam itu, memperlihatkan diri dalam puluhan bahkan ratusan pesan medsos yang cepat merambat. Dari menit ke menit kian banyak kabar tentang Ging. Ya, Ging — sapaan yang mudah diucapkan dan enak didengar, seperti bunyi genta, buat Gin Gin Ginanjar.

Belum lama saya kebetulan bertemu dengan Ging di sebuah kedai di Cikini, Jakarta. Dia sedang memesan makan siang bersama seorang temannya. Kami berpelukan, lalu mencoba berbahasa Indonesia buat menghargai teman. “Sudahlah, kalian pakai bahasa Sunda aja,” ujar temannya seraya tersenyum.

Dengan Ging, saya memang selalu bercakap dalam bahasa Sunda. Kalaupun sesekali ada rembesan bahasa lain, yang muncul adalah ungkapan-ungkapan ajaib semacam “neither hir nor walahir” yang maksudnya, tentu, “teu hir teu walahir” .

Ging berusia 55 tahun, terlalu muda untuk meninggalkan begitu banyak teman. Ia sahabat yang enak diajak bicara, piawai bercerita, bodor pisan. Rautnya kasép, sosoknya jangkung. Sering saya menyebutnya “petinggi” atau “pembesar” dengan mengingat tinggi badan atau nomor sepatunya. Ada kalanya saya menyapanya “Aa Ging” sebab tak jarang ia mencairkan percakapan dengan ucapan-ucapan yang dia parodikan dari para penceramah.

Saya kenal dia sejak tahun 1990-an. Waktu itu, sebagai mahasiswa jurnalistik yang naif, saya sedang belajar menulis dan menyiarkan berita. Tulisan Ging, terutama ulasan teater dalam Pikiran Rakyat, sering saya baca. Sering pula saya lihat dia menenteng kamera sambil mengumpulkan bahan tulisan. Ia memang jago memotret selain piawai menulis. Tulisannya jujur, sikapnya merdeka.  

Waktu pers Indonesia mulai mengalami konglomerasi, Ging bekerja untuk suratkabar Gala di Bandung. Tidak lama, dia keluar dari situ. Kemudian dia jadi koresponden Bandung buat tabloid politik DeTIK terbitan Jakarta. Pada 21 Juni 1994 DeTIK diberangus oleh pemerintah Soeharto sebagaimana majalah Editor dan Tempo. Gelombang demonstrasi anti-Soeharto menguat di sejumlah kota.

Ging ikut melawan. Dia bergiat dalam Forum Wartawan Independen (FOWI), kemudian jadi presidium Aliansi Jurnalis Independen (AJI). AJI menandingi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), satu-satunya asosiasi jurnalis yang diamini oleh penguasa waktu itu. Ging dan sekian wartawan lain melawan lewat publikasi majalah bawah tanah. Ia antara lain memimpin Suara Independen, Cibeureum Pos, dan berkala lainnya.

Bukan hanya jurnalisme yang dia andalkan sebagai medium perlawanan. Ia pun bergerak lewat seni, tentu. Dia kan pernah kuliah di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI yang kini jadi ISBI). Salah satu hasil kerjanya adalah lakon teater “Ruang Tunggu Bapak-bapak” yang dipentaskan di Bandung, Jakarta, dan kota lainnya.

Pada 1997, atas nama International Federation of Journalist (IFI), Ging ikut bicara tentang tirani di Indonesia dalam Sidang Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia di Jenewa.  Buat menandingi Sidang Umum MPR 1998, Ging turut memprakarsai Kongres Rakyat Indonesia di Ancol, Jakarta.

Pada 10 Maret 1998, sehari menjelang pelantikan kembali otokrat Soeharto sebagai presiden, Ging ditangkap dan ditahan. Namun, bui tidak menghalanginya untuk melancarkan jurnalisme. Dari ruang tahanan, untuk Radio SBS (Special Broadcasting Service) Australia, dia mewawancarai Andi Arief, salah seorang pentolan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Kiprahnya turut terekam dalam film dokumenter, Tahanan-tahanan Politik Terakhir Soeharto, arahan sutradara Bernard Debord yang diproduksi oleh Amnesty International.  

Setelah lebih dari 2 bulan, persisnya 70 hari, Ging dibebaskan. Esok harinya, 20 Juni 1998, Soeharto jatuh juga setelah 32 tahun berkuasa. Tirani berakhir, Indonesia lebih leluasa.

Sebagai jurnalis, juga sebagai seniman, Ging senantiasa menunjukkan kesanggupan untuk menempuh jalan yang tidak mudah. Dia menyiarkan kabar seraya memperjuangkan nilai-nilai yang dia yakini. Dia berkesenian bukan untuk seni itu sendiri.

Pada masa pasca-Soeharto, selama beberapa waktu, Ging bekerja di Jakarta buat mingguan politik DeTAK, reinkarnasi dari DeTIK. Saya sendiri ikut membantu tabloid itu, mula-mula di Bandung, kemudian di Jakarta.

Suatu hari, sewaktu dia masih membujang, saya berkunjung ke tempat tinggalnya di Jakarta. Seingat saya, tidak ada tata letak yang lebih kacau daripada ruangan tempat Ging tinggal. Laptop, kamera, tape recorder, tumpukan buku dan dokumen, pakaian, sepatu, cangkir, termos, asbak, dan entah apa lagi berserakan di atas lantai. Sulit sekali saya melangkah di ruangan itu.

Anjir, Ging, ieu mani kacow pisan,” komentar saya.

“Pokona mah, mun ilaing rék hirup di Jakarta, nu pangheulana kudu dipigawé téh meuli kulkas,” katanya seraya mengambil minuman dingin dari salah satu pojok ruangan.

Ketimbang membeli kulkas, saya sendiri lebih suka kembali ke Bandung. Ging orangnya bisa tahan, untuk bergiat bukan hanya di Jakarta melainkan juga di kota-kota besar lainnya, tak terkecuali di Eropa.

Setelah mengundurkan diri dari DeTAK, Ging bekerja sebagai penulis lepas untuk sejumlah media. Sempat dia jadi editor untuk jaringan radio Kantor Berita 68 H. Pernah pula dia bekerja untuk Common Ground Indonesia, organisasi non-pemerintah yang berpusat di Belgia dan Amerika Serikat. Seterusnya, dia melanglang buana, mula-mula bekerja untuk Radio Deutsche Welle di Bonn, Jerman, kemudian untuk BBC Indonesia hingga akhir hayatnya.

Siapa pula yang tidak kaget dengan kepergian Ging? Sungguh peristiwa yang mengguncangkan hati di tengah suasana umum ketika sisa-sisa Orde Soeharto, rezim yang dia tentang sedemikian rupa, seperti sedang mendapat peluang buat bangkit lagi di tahun politik yang bising ini.

Yang pasti, kepergian Ging telah menghimpun berbagai kalangan, baik di Jakarta maupun di Bandung. Di Cimahi, pada saat jasadnya hendak dikebumikan, saya ikut melihat kelimun itu: para aktivis, jurnalis, seniman, dan banyak lagi, dari dalam dan luar negeri, bersama keluarga besar almarhum. Pak Yahya Ganda, ayahnya, tiada hentinya menangis seraya memegang peti jenasah. Bu Inne Badriani, ibunya, beserta anak dan cucu menerima ungkapan bela sungkawa dari hadirin. Anak almarhum semata wayang, Luan, bersama ibunya, Laurance, yang baru tiba dari Brussels, turut melepas jenasah.  

Di Pekuburan Cipageran, 22 Januari petang, kami berkumpul, bukan untuk mengucapkan perpisahan dengan Ging, melainkan untuk memastikan bahwa Ging bakal abadi dalam ingatan.***

Bagikan: