Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Berawan, 22.1 ° C

Hantu Swing Voters

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

Peneliti Komunikasi Politik, Dosen FPIPS UPI

Pilpres 2019.*/DOK. PR
Pilpres 2019.*/DOK. PR

SWING voters (pemilih yang masih mengambang) atau belum menentukan pilihan (undecided voters) selalu disebut setidak-tidaknya dalam dua momen, yakni saat rilis hasil survei dan ketika debat akan digelar.

Swing voters disebut dalam hasil survei mewakili mereka yang tidak menjatuhkan pilihan kepada opsi yang ditawarkan.

Sementara dalam debat kandidat, swing voters disebut-sebut sebagai pihak yang paling banyak menerima manfaat, tepatnya mereka yang disasar oleh dampak debat. Benarkah demikian?

Tiga bulan menjelang Pilpres 2019, jumlah pemilih mengambang disebut-sebut berkurang. Mereka ada yang sudah menjatuhkan pilihannya kepada Jokowi-Ma’ruf Amin, selain ada juga yang sudah memutuskan akan memilih Prabowo-Sandiaga Uno.

Laporan Detiknews 16 Januari 2019 yang mengutip hasil survei beberapa lembaga yang mengumumkan hasilnya bulan Januari 2019 menyebutkan jumlah pemilih mengambang sekitar 14,6% (Y Publica), 9,2% (Indikator), 10,6% (Alvara Research Center), 15,2% (LSI Deni JA), dan 16,8% (Median).

Dengan selisih dukungan terhadap pasangan calon nomor urut 01 dan 02 yang berkisar 20%, hasil survei tersebut seolah ingin menegaskan bahwa secara statistik, jika Pilpres 2019 dilakukan hari ini, pemenangnya sudah jelas, alias tidak berbeda dengan hasil survei mereka.

Dalam situasi ketika ikatan emosional calon pemilih dengan partai (partisansif) lemah, di tengah iklim kampanye yang minus substansi dan tidak memberikan diferensiasi yang tegas dan karakter kandidat yang kerap dipertanyakan, jumlah pemilih mengambang yang disebut-sebut beberapa lembaga survei tadi tergolong rendah.

Apalagi mengingat realitas ketika Anda bertemu orang-orang dan bertanya kepada mereka siapa calon presiden yang akan dipilih 17 April 2019 mendatang, kebanyakan mereka akan menjawab belum punya pilihan atau masih memegang opsi “gimana nanti”.

Manusia dari unicorn

Schill dan Kirk (2016) yang menulis Courting the Swing Voters: “Real Time” Insights Into the 2008 and 2012US Presidential Debates mengajukan pertanyaan mendasar tentang pemilih mengambang ini: siapa pemilih mengambang, apa yang mereka ingingkan, bagaimana bentuk kampanye yang menarik bagi mereka, dan bagaimana mereka pada akhirnya memberikan suara?

Schill dan Kirk seakan hendak melukiskan kesulitan mendeskripsikan pemilih mengambang, Schill dan Kirk (2016) mengutip pendapat Dan Frank Cerabino dari Palm Beach Post (2012) yang menyebut pemilih mengambang sebagai “manusia dari unicorn”, sebuah mitologi yang berkembang antara lain di Jerman 350 tahun lalu.

Analogi ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan pemilih mengambang sebagai kelompok yang ajaib dan sulit dipahami.

Kesulitan tadi terjadi di Amerika Serikat, negara dengan identifikasi kepartaian yang tegas, tempat calon pemilih sudah mengidentifikasi diri sebagai pendukung salah satu calon presiden jauh-jauh sebelum hari pemilihan.

Di sana tidak ada cerita tim sukses bagi-bagi poster atau diam-diam menempel stiker di pintu rumah orang karena pemilik rumah akan menempel sendiri sebagai ekspresi pilihan politiknya.

Ironisnya, di Indonesia, negara dengan identifikasi kepartaian yang lemah, tempat lebih banyak pemilih yang membuat keputusan pada detik-detik terakhir, justru menggambarkan kelompok pemilih mengambang dengan amat mudah.

Bahkan, beberapa lembaga sudah mengabaikan peran mereka karena jumlahnya lebih kecil ketimbang perbedaan dukungan terhadap kedua kandidat presiden yang tengah bertarung.

Boleh jadi, estimasi yang terlalu optimistik seperti ini yang menyebabkan mengapa hasil polling selalu berbeda dengan hasil raihan suara dalam pemilu.

Berkaca pada Pilgub Jabar

Dalam Pilgub Jabar misalnya, berbagai lembaga survei menggambarkan tingkat dukungan terhadap pasangan Hasanudin-Anton dan Sudrajat-Saikhu selalu rendah. Karena selalu meraih hasil yang rendah, sempat tersiar ada tim sukses yang berencana menggugat lembaga survei.

Meski  kalah, raihan suara kedua pasangan cagub ini tidak sejebok yang digambarkan hasil survei. Bahkan, pasangan Sudrajat-Syaikhu yang selalu ditempatkan sebagai pasangan underdog, dengan raihan hasil survei selalu merangkak di bawah tiga kandidat lainnya, mampu bertengger di urutan kedua dengan meraih 28,74%, atau hanya terpaut sekitar 4.14 % dari pemenang Pilgug Jabar.

Rendahnya identifikasi kepartaian di tanah air bukan hanya akan berpengaruh terhadap mereka yang belum memutuskan pilihan saat survei digelar, tetapi mereka yang sudah menyebut pilihannya saat survei digelar pun sangat mungkin berubah ketika mereka masuk tempat pemungutan suara.

Realitas ini terkait fakta tidak ada tali pengikat antara kandidat atau partai politik dengan pemilih yang benar-benar kuat, seperti garis ideologi,  plarform partai, atau tradisi dan preferensi kebijakan yang diusung.

Jumlah mereka yang bisa mengubah pilihannya saat pencoblosan diyakini jauh lebih banyak dibanding mereka yang benar-benar telah yakin dengan keputusannya.

Dua hal hal terakhir mengirim pesan agar kita hati-hati membaca hasil survei. Terlepas dari kemungkinan kesalahan metodologis, rendahnya identifikasi kepartaian dan pandangan terlalu optimistik tentang mudahnya pemilih mengambang memutuskan pilihannya berpotensi mengaburkan hasil polling dengan apa yang terjadi 17 April 2019 mendatang.

Jangan mudah percaya hasil survei. Jumlah pemilih mengambang sama misteriusnya dengan hasil pilpres mendatang.

Karena itu, alih-alih bersandar kepada survei orang lain, sebaiknya coba tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah kehidupan saya hari ini sudah lebih baik dibanding lima tahun yang lalu?”***

Bagikan: