Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 31.1 ° C

Persib, Atep, Vanessa Angel, dan Kongres PSSI

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

Atep/DOK. PR
Atep/DOK. PR

JANUARI selalu istimewa. Bagi banyak orang, bulan pertama ini menjadi penanda awal harapan sekaligus kepastian tentang apa yang akan dilewati selama 11 bulan mendatang. Dari sekian banyak peristiwa penting, saya menangkap paradoksial tentang harapan dan kepastian.

Kejutan yang terprediksi

Ada beberapa follower saya di media sosial yang mengapresiasi tulisan saya di kolom Pikiran Rakyat sekitar dua bulan lalu (18 November 2018). Tulisan berjudul A Man Called Atep itu dianggap futuristik dan relevan dengan kondisi sepekan terakhir ketika pencoretan Atep dari skuat Persib musim depan menimbulkan gejolak emosional di kalangan bobotoh.

Persib dianggap tak menghargai pengabdian seorang pemain yang telah 10 tahun loyal berbaju Persib, Juga, pemutusan kontrak melalui telefon yang dianggap tidak etis.

Rasa emosional yang berbalut argumen tak terukur mendadak menjadi tren seakan mengingkari harapan banyak bobotoh yang menganggap Atep tak lagi pantas berbaju Persib. Padahal, bisa jadi mereka yang sekarang berharap Atep tetap dipertahankan adalah orang yang sama dengan orang yang pernah begitu bersemangat menyuarakan agar Atep tak dipertahankan beberapa waktu lalu.

Atep/DOK. PR

Viralnya video wawancara Atep yang begitu sentimental dan menguras hati melanjutkan drama pada Januari. Beredar kabar bahwa Persib justru akan menggelar laga perpisahan untuk Atep, suatu apresiasi luar biasa yang belum pernah dilakukan bahkan untuk legenda-legenda besar semacam Robi Darwis maupun Ajat Sudrajat.

Lagi-lagi inilah paradoks. Padahal, beberapa hari sebelumnya Persib dianggap tak menghargai Atep. Fenomena seperti inilah yang sebetulnya saya prediksi dua bulan lalu bahwa ada karakter khas yang mewarnai kebanyakan kita yaitu baper alias mudah terbawa perasaan.

Baper biasanya memang akan menggeser persepsi rasional. Sehingga, mau tidak mau memang perlu ada langkah elok dari Persib untuk tetap nyaman walau hal itu adalah pilihan.

Atep/DOK. PR

Di satu sisi, Persib tentunya harus menyesuaikan skuat dengan kebutuhan tim dan ketika Miljan Radovic mengatakan bahwa dia tak membutuhkan Atep, tentu hal itu harus diakomodasi manajemen klub sebagai konsekuensi kepercayaan terhadap orang yang mereka percaya menukangi Persib.

Akan tetapi, di sisi lain, perlu juga dipertimbangkan aspek historis dan sosiologis bahwa dalam era sepak bola modern yang meniscayakan perpindahan pemain secara pragmatis, loyalitas Atep selama 10 tahun berbaju Persib adalah sebuah pembeda yang sangat sayang jika dianggap biasa saja.

Dalam perspektif komunikasi dan pemasaran, momen ini justru bisa dimanfaatkan untuk menunjukkan bahwa Persib memang klub istimewa karena bisa membuat seorang pemain tetap betah dan loyal berbaju Persib selama sedekade.

Atep dan Kim Jeffrey Kurniawan/DOK. PR

Bisa “dijual” juga faktor hebatnya Persib seperti gaji tidak pernah telat, rasa nyaman, suasana kota Bandung sebagai kandang, maupun popularitas bagi pemain. Juga, kesempatan untuk membuktikan bahwa di balik penggenjotan sisi komersial dan laba, ternyata Persib adalah klub yang mampu menghargai pituin, anak asli binaannya, dan menegaskan bahwa modernitas klub bisa diimbangi sisi ”kearifan lokal”.

Diapat pula ditonjolkan, misalnya, penarikan kembali garis tebal bahwa Persib akan selalu menjadi mimpi besar bagi anak kecil di bumi Priangan yang bermimpi menjadi pesepakbola.

Sementara itu, gagasan menggelar laga perpisahan untuk Atep mungkin bisa dianggap sebagai upaya yang tidak buruk.

Terkejut walau diprediksi

Lain Atep lain juga Vanessa Angel. Artis yang terjerat kasus prostitusi daring ini memiliki kisah yang takkan berujung apresiasi apapun. Status Vanessa Angel ditingkatkan menjadi tersangka setelah sebelumnya hanya diperiksa sebagai saksi.

Saya dan beberapa kawan sudah memprediksi bahwa Vanessa Angel takkan lepas begitu saja karena ditangkapnya dia saja sudah menunjukkan bahwa otoritas hukum memang akan serius dengan kasus ini.

Prediksi kami hanya sebatas itu tetapi masih meraba pasal apa yang akan diterapkan terhadap Vanessa Angel. Sudah jelas, jika yang diterapkan adalah pasal pelacuran dalam KUHP, Vanessa Angel tak akan terjerat.

ARTIS berinisial VA (kedua kiri) berjalan keluar usai menjalani pemeriksaan terkait kasus prostitusi daring di Gedung Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (6/1/2019). Polda Jatim memeriksa artis berinisial VA dan AS dan menetapkan tersangka kepada dua orang yang berperan sebagai mucikari berinisial ES (37) dan TN (28) asal Jakarta dalam kasus tersebut.*/ANTARA

Perlu ada kondisi khas yang bisa membuatnya tetap terikat dalam kasus ini. Ternyata kondisi khas itu terpenuhi ketika polisi menemukan bukti bahwa Vanessa Angel terkait dengan foto dan video-video asusila yang berhubungan dengan kegiatan prostitusi daring. Vanessa Angel tidak dijerat dengan KUHP melainkan UU ITE pasal 27.

Dalam konteks sepak bola nasional, khususnya seputar pemberantasan mafia sepak bola, sesungguhnya akan ada banyak orang yang bernasib seperti Vanessa Angel yaitu penangkapan dan proses hukumnya akan tetap membuat kita semua terkejut walau sudah memprediksi sebelumnya.

Orang-orang yang sudah ditangkap itu jelas tak akan dilepaskan begitu saja karena akan selalu ada hukum yang relevan untuk diterapkan. Karena, political will dari pimpinan memang serius untuk membasmi pengaturan skor di jagat sepak bola.

Nama-nama kakap seperti Johar L Eng dan Vigit Waluyo sudah dalam genggaman. Pemeriksaan intensif kini menyasar para pengurus aktif seperti Iwan Budianto, Joko Driyono, Ratu Tisha.

PENGATURAN skor sepak bola.*/DOK. PR

Menarik untuk menunggu episode berikutnya apalagi kali ini berlangsung kongres PSSI di Bali. Kongres biasa dengan nuansa luar biasa karena kondisi kekinian. Kini tiap-tiap personal federasi menjadi individu yang terus diawasi dan berpotensi diproses hukum.

Beberapa kawan berseloroh bahwa bunyi sirine apapun di luar gedung kongres pasti akan terdengar seperti ancaman bagi orang-orang yang mengikuti kongres walaupun sebenarnya itu sirene mobil ambulans ataupun mobil pemadam kebakaran.

Bagaimanapun, kita berharap agar kongres berjalan lancar karena kongres itu menerbitkan harapan untuk sepak bola Indonesia yang lebih baik. Hanya, harapan tetap harus diiringi upaya serius agar menjadi sebuah kepastian.***

Bagikan: