Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya berawan, 27.8 ° C

Penanda Jejak Sejarah di Kota Bandung

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

Bandung/DOK. PR
Bandung/DOK. PR

KAWASAN di selatan Alun-alun dan Pendopo Kabupaten (sekarang Kota) Bandung punya nama geografi yang lazim disebut Pungkur—yang bermakna belakang—karena  kawasan itu berada di belakang (di selatan) kantor Kabupaten Bandung pada awal pembentukan dan perkembangan kota.

Kantor, pendopo, dan rumah dinas bupati menghadap ke utara, ke Alun-alun dan ke Jalan Raya Pos (sekarang Jalan Asia Afrika).

Jalan di kawasan Pungkur yang melintang dari barat mulai Pangeran Sumedangweg (sekarang Jalan Oto Iskandardinata) sampai ke timur di kawasan Ancol, dinamai Jalan Pungkur.

Di sebidang lahan di Jalan Pungkur yang diapit Jalan Dewi Sartika dan Jalan Mohamad Toha dibangun Pasar Pungkur atau Pasar Kebon Kalapa.

Dalam perkembangannya, di bagian depan (sebelah utara pasar) dibuat Terminal Abdul Moeis atau Terminal Kebon Kalapa.

Pengubahan terus berlanjut. Karena secara ekonomi dinilai sangat strategis, terminal dalam kota itu dialihfungsikan menjadi pusat perbelanjaan dengan nama International Trade Centre (ITC) Kebon Kalapa. Terminalnya, ya, mepet-mepet di pinggir jalan Dewi Sartika, Jalan Mohamad Toha, dan Jalan Pungkur.

Bila kawasan Pungkur atau Kebon Kalapa dijadikan titik pusatnya, bukan dari Alun-alun atau Pendopo Kabupaten Bandung, kediaman para tokoh pergerakan kemerdekaan umumnya berada di sekitar Jalan Pungkur dan jalan-jalan lainnya dalam radius 2-3 km dari sana, kecuali kediaman Dr. EFE Douwes Dekker yang lebih ke utara.

Kawah candradimuka

Jalan-jalan yang paling banyak disebut bila membahas para tokoh pergerakan kemerdekaan adalah Jalan Gardijati/ Jalan Pasirkaliki, Jalan Suniaraja, Jalan Jaksa, Jalan Pungkur, Jalan Dewi Sartika, Jalan Oto Iskandardinata, Jalan Kebonsirih, Jalan Ciguriang-Keboncau, Jalan Banceuy, Jalan Setiabudhi, dan Sukamiskin.

Para tokoh pergerakan kemerdekaan yang tinggal di Bandung itu adalah H Sanusi, Soekarno, Inggit Garnasih, dr. Tjipto Manungkusumo, Dr. EFE Douwes Dekker, Suwardi Surjaningrat, Mr. Sunario, Drs. Sosrokartono, Gatot Mangkupradja, Ir. Anwari, Mr. Maskun Sumadireja, Mang Marhaen, Abdoel Moeis, Sutan Syahrir.

Mengapa bukan Batavia (Jakarta) yang dijadikan pusat penggodokan gagasan dan pergerakan kemerdekaan? Mengapa di Bandung? Ada konstelasi politik apa yang menyebabkan Bandung menjadi pusat berkumpulnya tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan, bahkan sebelum Soekarno muda berkuliah di Bandung?

Di kota ini para tokoh menggodok gagasannya dan melaksanakannya dalam praktik berpolitik. Hanya ada satu tujuan, yaitu Indonesia bersatu dan berdaulat sebagai negara yang merdeka.

Pada 2019, Indonesia sudah 74 tahun merdeka. Banyak nama yang dijadikan nama jalan tapi warga kotanya masih banyak yang tidak mengetahui biografi tokoh yang jadi nama jalan tersebut.

Warga tidak mengetahui mengapa nama itu yang menjadi nama jalan di kotanya. Atau nama tokoh itu sudah dikenal oleh warganya, tapi mereka tidak mengetahui perjuangannya di kota itu sehingga layak dijadikan nama jalan. 

Bagaimana agar nama-nama tokoh pergerakan kemerdekaan dan tempat tinggalnya, nama pahlawan yang menjadi nama jalan, atau tokoh lainnya lebih mempunyai makna bagi warga kotanya?

Perlu ada usaha yang sungguh-sungguh untuk memperkenalkannya. Misalnya, bila ada kelompok pelajar yang ingin menelusuri jejak para leluhurnya, para pemikir, dan para pejuangan kemerdekaan Indonesia yang bergerak di kotanya, harus pergi ke lembaga mana agar mendapatkan informasi dengan baik dan rinci?

Kalau lembaganya sudah ada, apakah informasinya sudah tersedia dengan baik? Kalau sudah tersedia dengan baik, apakah dapat dimasuki dengan mudah?

Jangan nama sekadar plang berdebu

Ada beberapa tindakan yang harus dilakukan agar warga Bandung tidak pareumeun obor, tidak kehilangan jejak leluhur yang bergiat dalam pergerakan kemerdekaan dan pahlawan bangsa, agar nama-nama jalan tidak sekadar plang berdebu tak bermakna.

Pertama, memberikan tanda lokasi di dalam peta digital di dunia maya yang paling banyak digunakan saat ini, yaitu dengan cara mamasang simbol tempat/lokasi dengan presisi yang baik di setiap lokasi penting dalam perjalanan sejarah kota.

Harus ada cek lokasi beberapa kali, karena sering kali ada penyimpangan jarak yang cukup jauh.

Setelah diketahui lokasi persisnya, tersedia juga tautan yang bila dibuka (diklik) akan masuk ke dalam informasi yang lebih luas tentang tempat itu, mengapa tempat itu menjadi penting dalam pergerakan kemerdekaan.

Dengan diketahuinya lokasi dalam peta digital, seseorang yang sedang melacak jejak pergerakan kemerdekaan di kota itu akan dengan mudah dipandu secara mandiri dan akan mendapatkan informasi lebih luas yang diharapkannya.

Kedua, setelah ditandai lokasi tepatnya dalam peta digital, perlu dibuatkan penanda di lokasinya langsung.

Penanda itu tidak perlu besar, dapat dibuat dalam bentuk persegi 30 x 30 cm dari marmer yang ditempelkan di dinding gedung. Atau berbentuk silinder dengan diameter sebesar tiang listrik, tingginya cukup semeter ditambah setengah meter yang ditanam, dibuat dari besi tahan karat yang ditancapkan di pinggir gedung, walau gedung itu sudah berubah bentuk dan fungsinya.

Yang sangat penting, dalam penanda itu wajib ada uraian yang menjelaskan siapa dan apa peran tokoh yang berada di lokasi itu dalam pergerakan kemerdekaan.

Dalam penanda itu dituliskan pula:

1. Tautan bila ingin membaca sejarahnya secara lebih luas atau dibuatkan kodebatang (barcode) yang dapat dipindai oleh para pemilik telefon genggam yang ingin mendapatkan informasi lebih luas.

2. Dituliskan pula buku biografi dari tokoh itu sehingga mereka yang ingin membaca lebih dalam dapat dengan mudah mencarinya di perpustakaan.

Itulah beberapa tindakan yang harus dilakukan agar warga kota menjadi warga kota yang cerdas, yang dapat memaknai apa yang ada di kotanya. Aamiin.***

Bagikan: