Pikiran Rakyat
USD Jual 14.235,00 Beli 13.935,00 | Berawan, 24.4 ° C

Kitab Sunda Terkini

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

Buku Sunda 2018/HAWE SETIAWAN
Buku Sunda 2018/HAWE SETIAWAN

SEJAUH yang dapat saya catat, ada 30 judul buku berbahasa Sunda yang terbit pada tahun 2018. Info dari Geger Sunten, penerbit di Bandung, menyebutkan bahwa pada tahun yang baru lewat perusahaan itu memproduksi pula 32 judul buku cerita bergambar. Lini produk itu disebut “cargam”, kontraksi dari carita nu digambaran. Total jenderal 62 judul.

Perhatian saya terarah ke kelompok bahan bacaan yang saya sebutkan lebih dulu. Untuk memudahkan pembacaan, dari 30 judul buku itu, saya bikin sepuluh kelompok dengan nomenklatur mengikuti istilah yang dibuat oleh produsennya sendiri.

Tak sanggup saya bahas satu demi satu di sini. Cukup kiranya saya sebutkan kompartemennya: 1) kumpulan sajak; 2) kumpulan cerpen; 3) novel; 4) kumpulan dongéng; 5) teks drama; 6) kumpulan fikmin; 7) buku cerita untuk anak-anak; 8) cerita silat; 9) kumpulan esai; dan 10) karya terjemahan.

Panorama

Kumpulan sajak terdiri atas empat buku, yakni Sérah karya Éris Risnandar, Tembang Matapoé karya Hadi AKS, Lolongkrang Haté Indung karya Kurotuaéni, Kelir Wanci karya E. Suhartini, dan Ngaderes dina Gerentes karya Nanang Sos.

Karya Kurotuaéni mengandalkan bahasa Sunda dialek Banten. Dalam karyanya terdapat sejumlah kata khas semisal kula, kotok, doang, dst. Inisiatif serupa pernah diupayakan oleh Hadi AKS. Kali ini Hadi mengumumkan sajak-sajak yang sebagian besar digubah dalam kurun 18 tahun terakhir. Sebagaimana karya Hadi, Sérah karya Éris Risnandar meneruskan tradisi lirik Sunda. Tanggapan penyair terhadap kenyataan sosial terkandung pula dalam beberapa sajak.  

Dalam kelompok cerpen terdapat Carios Si Urat Emas karya Godi Suwarna, Lalakon Kadalon-dalon karya Déri Hudaya, Kembang Mayang karya Emha Ubaidillah, dan Dina Tetelar Kawaas karya Nanang Sos. Judul buku Déri, kiranya kebetulan saja, sama dengan judul salah satu cerpen Godi. Dalam Carios Si Urat Emas, yang judulnya dipetik dari judul salah satu cerpen di dalamnya, terdapat sembilan cerpen  dari akhir dasawarsa 1990-an, tepatnya tahun 1997 dan 1998, akhir zaman Orde Soeharto.

Kelompok novél meliputi Sabobot Sapihanéan Sabata Sarimbagan karya almarhum Mh. Rustandi Kartakusuma, Absur karya H.D. Bastaman, Kapahung di Luhur Panggung karya Nanang Sos.

Karya Rustandi mengemukakan gambaran ideal mengenai cinta sejati di antara suami dan istri di tengah rongrongan dari lingkungan keluarga dan masyarakat yang masih cenderung membeda-bedakan manusia berdasarkan harkat sosial, ekonomi, dan asal-usulnya. Adapun karya Bastaman mengemukakan permenungan metafisik mengenai raung dan waktu dalam hidup manusia dengan menggali gejala psikologis seputar pengalaman mimpi.

Dongéng tetap hidup, dan pada 2018 terbit dua judul. Salah satu di antaranya sudah klasik, karya mendiang Moh, Ambri, Dongéng-dongéng Sasakala, yang menghimpun 40 dongéng. Edisi baru dikasih ilustrasi oleh Ayi R. Sacadipura. Karya baru dalam kelompok ini adalah karangan Usép Romli H.M., Ganjaran Kahadéan. Buku ini memuat sepuluh cerita teladan, bahan pencerminan.

Drama juga meliputi dua buku: Hutbah Munggaran di Pajajaran karya Yus Rusyana dan Ciung Wanara karya Bambang Arayana Sambas. Buku Hutbah Munggaran di Pajajaran memuat dua naskah, yaitu  “Hutbah Munggaran di Pajajaran” dan “Cahaya Maratan Waja”. Keduanya adalah karya tahun 1960-an. Adapun buku Ciung Wanara tidak hanya mengandalkan bahasa Sunda. Pengantar dan instruksi pementasannya memakai bahasa Indonésia.

Dalam kelompok fikmin terdapat Koruptor Sajati karya Gaus Firdaus, Siluman Buhaya karya Yuyun Yulistiani, Kandaga Serat Rucita karya Achiel Syam dan kawan-kawan. Buku yang disebutkan terakhir menghimpun 90 judul cerita dari sejumlah pengarang, hasil sebuah sayembara.

Buku cerita untuk anak-anak adalah Pohaci Nawang Wulan karangan Ai Rohmawati dan Piala keur Ema karangan Santi Susanti dan kawan-kawan. Buku yang saya sebutkan belakangan menghimpun karangan sejumlah pengarang. Adapun buku karya Ai merupakan karya utuh. Bukunya menyampaikan pesan pendidikan kepada anak-anak melalui carita réalistis mengenai kehidupan sehari-hari gadis kecil Pohaci alias Cici di rumah dan sekolah serta lingkungan sekitarnya. Inilah cerita tentang anak yang rajin belajar, getol mengaji, gemar menabung, menurut kepada orang tua, dan hati-hati dengan jajanan di sekolah.

Dalam kelompok buku terjemahan ada Mutiara terjemahan Atép Kurnia dari The Pearl karya John Steinbeck dan Prabu Anom terjemahan Syauqi Stya Lacksana dari Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupéry. Keduanya karya klasik. Mutiara terjemahan Atép sebelumnya diumumkan sebagai cerita bersambung dalam mingguan Galura pada 2013. Prabu Anom disertai aksara Sunda. Satu cerita, dua tipografi.

Dalam kelompok esai hanya ada satu buku yang penerbitannya diupayakan oleh Komunitas Ngejah. Begitu pula cerita silat. Pajar Sidik, pengarang dari Bandung Barat, membikin debut dengan cerita silat Wangsa Suta.

Catatan

Produsen buku Sunda bukan hanya pemain lama seperti Pustaka Jaya, Geger Sunten, dan Kiblat Buku Utama, yang semuanya berada di Bandung. Ada pula individu dan komunitas, baik di Bandung maupun di luarnya, yang memproduksi buku. Kuningan, Ciamis, Tasikmalaya, dan kota lainnya di Jawa Barat turut punya andil. Bahkan ada buku Sunda yang terbut di luar Jawa Barat: satu di Banten, satu lagi di Bantul.

Di antara ke-30 judul buku itu tadi, sebagian besar merupakan buku baru. Istilah “baru” di sini juga meliputi beberapa tulisan lama yang baru sekarang dibukukan, di antaranya ada satu yang pengarangnya telah tiada. Hanya ada satu buku klasik yang dicetak ulang.

Pujangganya tua dan muda. Dari jajaran penulis geledegan, antara lain terdapat H.D. Bastaman dengan novel, Yus Rusyana dan Bambang Arayana Sambas dengan drama, dan Godi Suwarna dengan cerpen. Mereka tetap produktif.

Dari jajaran penulis generasi baru, khususnya yang tumbuh di zaman digital, ada sejumlah nama yang tak kurang produktifnya, terutama dengan menghasilkan “fiksimini” alias “fikmin”. Sumbangan mereka menunjukkan bahwa pemanfaatan media digital tidak sampai melupakan media cetak. Adapun Pajar Sidik, penulis dari Bandung Barat, membikin debut dengan cerita silat.  

Terbitnya teks drama patut disambut. Naskah drama kan biasanya tidak jadi prioritas dalam produksi buku. Siapa pula pembacanya? Yang pasti, sudah lama orang mengeluh tentang kelangkaan naskah drama berbahasa Sunda. Pada 2009, misalnya, Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) menyelenggarakan sayembara penulisan naskah drama bahasa Sunda, kiranya berangkat dari keprihatinan serupa. Siapa tahu terbitnya kedua buku drama tersebut bakal mendorong produksi serupa di kemudian hari.

Demikian pula halnya dengan terbitnya kembali cerita silat. Ada harapan genre cerita yang satu ini bisa bangkit lagi di kemudian hari. Siapa tahu.***

Bagikan: