Pikiran Rakyat
USD Jual 14.311,00 Beli 14.011,00 | Sebagian berawan, 21.8 ° C

Mahugi dalam Percintaan Awal Abad ke-19

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

Apakah kini seorang laki-laki suka memberikan sesuatu kepada perempuan yang diidamkannya? Pada masa lalu, setidaknya ini yang terjadi pada awal abad ke 19, sudah lazim, seorang laki-laki yang sedang ngebet kepada gadis pujaannya, memberikan sesuatu, yang dalam bahasa Sunda disebut mahugi.

Yang diberikannya itu umumnya barang atau uang. Mahugi, pahugi, dalam Kamus Basa Sunda karya R Satjadibrata (Kiblat, 2005), artinya méré nao-naon ka awéwé (lain pamajikan), nandakeun bogoh. Memberi sesuatu kepada perempuan (bukan istrinya), sebagai penanda cinta.

Apa yang dipahugikeun, yang diberikan seorang laki-laki kepada pujaannya, inilah contoh mahugi pada masa itu, seperti dalam kisah cinta antara (Haji) Sanusi dengan (ibu) Inggrit Garnasih kepada Ramadhan KH dalam buku Kuantar ke Gerbang, Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno (Sinar Harapan, 1981).

Ibu Inggit, lahir di Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung. Bersama orang tuanya, ibunya bernama Asmi dan ayah bernama Jipan, kemudian tinggal di Jl Java Veem, yang menurut Muhammad Ryzki Wiryawan, lokasinya di sekitar Hotel Kedaton sekarang. Rumahnya berada 50 meter sebelah timur Ci Kapundung. Pada Tahun 1900-an, Ci Kapundung airnya masih ngagenclang herang, masih jernih bersih berkilau.

Ketika warga di sekitar Jl Suniaraja, Babakan Ciamis, Jl Braga, pada awal abad ke 19 masih mandi di aliraran Ci Kapundung. Pada saat itu belum dibangun viaduck di atas Ci Kapundung dan jalan raya di bawahnya. Di Bandung ada dua viaduck, yaitu viaduck di Jl Pasirkaliki, dibangun pada tahun 1890, dan viaduck Kebonjukut, yang dibangun pada tahun 1939.

Dalam buku Kuantar ke Gerbang, Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno, ibu Inggit mengisahkan, ketika mandi di Ci Kapundung, dari hulu ada buah kawista yang hanyut namun diikat benang. Dari kejauhan, itulah buah kawista yang diapungkan (H) Sanusi, atau Kang Uci. Isi bagian dalam buah kawista sudah dikerok, dikosongkan, tinggal batok kawistanya yang keras.

Bagian yang telah cekungan itu kemudian diisi uang logam beberapa picis. Batok kawista disatukan kembali sehingga bentuknya bulat kembali, kemudian diikat dengan benang, dan diapungkan dengan kendali benang yang panjang. Ibu Inggit mengambil buah kawista itu, ternyata setelah dibuka ikatan benangnya, di dalamnya berisi uang logam.

Gayung bersambut. Mereka membina cinta, saling memperhatikan dan saling jatuh cinta. Namun setelah cinta itu bermekaran di antara keduanya, H Sanusi dinikahkan oleh orang tuanya, H Abdulrahim, dengan gadis dari keturunan kaya-raya yang bernama Danéngsih (Énda).

Dari pernikahannya ini, dalam buku Ramadhan KH, dituliskan, keluarga ini dikaruniai satu anak. Tapi yang ditulis dalam buku Himpunan Silsilah (Stamboom) Keluarga Pasar Baru Bandung karya Syamsuri (1972-1975), keluarga ini dikaruniai satu orang putra bernama Bakri (Engkik).

Panas hati karena cemburu yang membara melihat pujaan hatinya dinikahkan, ibu Inggit langsung menerima lamaran dari Kopral Nataatmadja.

Pernikahan H Sanusi dengan ibu Danengsih menemui jalan buntu, akhirnya bercerai, demikian juga pernikahan antara ibu Inggit dengan Kopral Nataatmadja berakhir dengan perceraian. Cinta lama bersemi kembali, H Sanusi menerima cinta bu Inggit, kemudian melangsungkan pernikahan yang sangat meriah.

Kemeriahan itu dapat dimengerti, karena Haji Sanusi adalah saudagar yang kaya, putra pertama dari H Abdulrahim dengan ibu Hj Siti Rachmah (R Eméh). Ada Sembilan adiknya, yaitu Usin, E Djama’an, Isah, Tiah Asiah, Sahir, Djohari, Asria, Sukri, dan Rasidi. Sementara itu ibu Danengsih menikah lagi dengan Saptari, dikaruniai tiga putra.

Dalam kegiatan politik, H Sanusi tergabung dalam Sarekat Islam (SI), yang bersahabat dengan HOS Tjokroaminoto. Sementara Soekarno, anak muda yang sedang berguru politik kepada pak Tjokro, yang kemudian menjadi mertuanya, setelah dinikahkan dengan Utari. Hubungan inilah yang menyebabkan pak Tjokroaminoto mengirim surat kepada H Sanusi di Kebonjati, Bandung, untuk dicarikan rumah kos untuk Soekarno yang akan sekolah di Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH).

Karena tak menemukan tempat yang cocok untuk seorang mahasiswa, maka H Sanusi mengusulkan agar Soekarno tinggal di rumahnya, dan ditempatkan di kamar depan.

Pernikahan antara H Sanusi dengan bu Inggit berakhir dengan perceraian. Setelah habis masa idah, bu Inggit menikah dengan Bung Karno pada tanggal 24 Maret 1923, di rumah mertuanya di Jl Java Veem. Penganten baru ini kemudian menyewa rumah di Jl Jaksa, lalu berpindah ke Regentweg (Jl Dewi Sartika). Sedangkan H Sanusi menikah dengan Permasih. Selang beberapa waktu, H Sanusi menikah lagi dengan Hj Patimah, tinggal di Cililin, Kabupaten Bandung.*

Tags
Bagikan: