Pikiran Rakyat
USD Jual 14.291,00 Beli 13.991,00 | Cerah berawan, 26.2 ° C

Dua Retorika

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

ROMA terbelah dua, dan para penonton menyimak dua retorika. Brutus di satu pihak, Antonius di pihak lain. Setelah membunuh Caesar, Brutus naik mimbar. Begitu Brutus pergi, giliran Antonius angkat bicara. Dua-duanya memukau. Dua-duanya orasi nan elok.

Kaum plebeians, orang banyak yang berkumpul di ruang publik, seakan dibetot ke sana ke mari. Di antara dua kekuatan, yang sama-sama punya kemampuan memanipulasi suasana umum, orang banyak seperti kawanan domba yang cuma bisa berseru, “Euleuh-euleuh, kutan kitu!”

Barangkali hanya mendiang Asrul Sani yang sanggup mengindonesiakan keelokan orasi dari Julius Caesar, tragedi Shakespeare yang termasyhur itu. Saya sih tak sanggup. Paling-paling, saya cuma bisa mengutak-atik terjemahan itu dengan bantuan edisi aslinya yang disunting oleh Profesor Cedric Watts.

Boleh dong saya petik kedua pidato itu, meski tidak lengkap.

Pertama-tama, mari kita simak apa kata pemimpin kudeta Markus Brutus. Dia bilang begini:

“Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, orang-orang Roma tercinta... Jika di antara hadirin ada sahabat karib Caesar, kepadanya ingin saya katakan bahwa cinta saya kepada Caesar tidak kurang jika dibandingkan dengan cinta saudara sekalian. Dan kalau saudara-saudara itu menukas, kenapa Brutus sampai menentang Caesar, inilah jawaban saya — bukannya saya kurang mencintai Caesar, melainkan saya lebih mencintai Roma. Apakah saudara sekalian lebih suka Caesar hidup, sedangkan saudara-saudara mati sebagai budak, ataukah Caesar mati hingga semua budak bisa hidup merdeka? Karena Caesar baik kepada saya maka saya menangis untuknya; karena dia berhasil, saya bergembira; karena dia berani, saya menghormatinya; tetapi karena dia ambisius, saya membunuhnya. Ada air mata untuk kebaikannya, ada kegembiraan untuk keberhasilannya, ada penghormatan untuk keberaniannya, dan ada kematian untuk ambisinya...”

null

Sekarang mari kita dengar apa kata sang loyalis Markus Antonius. Beginilah bunyinya:

“Kawan-kawan, orang Roma, saudara-saudara sebangsa dan setanah air, dengarlah kata-kata saya. Saya datang untuk mengubur Caesar, bukan untuk menyanjungnya. Kejahatan yang diperbuat manusia terus hidup setelah kematiannya. Kebaikannya dikubur bersama tulang-belulangnya. Demikian pula halnya dengan Caesar. Brutus yang budiman berkata bahwa Caesar itu ambisius. Kalau benar begitu, maka itu adalah kesalahan yang menyedihkan, dan dengan menyedihkan Caesar telah menebusnya. Di sini, dengan seizin Brutus dan lain-lain (karena Brutus itu orang budiman; begitu pula yang lain; semuanya orang budiman), perkenankan saya bicara untuk penguburan Caesar. Dia sahabat saya, setia dan adil kepada saya. Tetapi Brutus berkata dia ambisius; dan Brutus itu orang budiman. Dia telah berhasil membawa banyak tawanan ke Roma, yang menghasilkan upeti untuk perbendaharaan umum: apa dalam hal ini Caesar terlihat ambisius? Waktu si miskin meratap, Caesar menangis: ambisi mestinya terbuat dari bahan yang lebih kasar. Tetapi Brutus berkata Caesar itu ambisius; dan Brutus itu orang budiman. Saudara sekalian menyaksikan sendiri bahwa di Lupercal saya sampai tiga kali menawarinya mahkota, tapi tiga kali pula dia menolaknya. Itukah ambisi? Tetapi Brutus berkata dia ambisius; dan, sungguh, dia orang budiman. Saya berbicara bukan untuk menyanggah Brutus, melainkan untuk menjelaskan apa yang saya ketahui. Saudara sekalian pernah mencintai dia, bukannya tanpa alasan. Alasan apa gerangan yang akan menghalangi saudara-saudara untuk berkabung baginya? Oh, Keadilan! Kau telah melarikan diri pada binatang buas, dan orang sudah kehilangan akal...”

Jika kata-kata bersayap kita turunkan dari awang-awang, dan kita kembalikan ke bumi, dapat kita tangkap inti pesannya. Pak Brutus bilang dia mencintai Caesar tapi terpaksa membunuhnya karena Caesar gila kekuasaan, dan tindakan itu dilakukan demi kemerdekaan masyarakat Roma. Pak Antonius bilang dia bersahabat dengan Caesar yang sangat berjasa buat Roma, dan tahu betul bahwa Caesar sama sekali tidak gila kekuasaan, sehingga tindakan Brutus berlawanan dengan akal sehat dan keadilan.  

Dengan itu, konflik meluas, menjadi-jadi, malah berdarah-darah. Dan orang banyak, juga saya, hanya berseru, “Euleuh-euleuh, kutan kitu!”***

Bagikan: