Pikiran Rakyat
USD Jual 14.628,00 Beli 14.328,00 | Sebagian cerah, 19.4 ° C

Mimesis Pilpres dan Nurhadi-Aldo

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

Peneliti Komunikasi Politik, Dosen FPIPS UPI

Nurhadi-Aldo.*/INSTAGRAM @NURHADI_ALDO
Nurhadi-Aldo.*/INSTAGRAM @NURHADI_ALDO

EMPAT bulan menjelang pilpres 2019, meme pilpres kian marak. Media daring seakan menjadi kanvas tak bertepi untuk mendedahkan gagasan satire atau kritik bernada humor.

Lewat meme, manuver dalam pilpres 2019 disajikan seperti plot-plot drama yang mendidik tanpa terasa menggurui. Meme jelas bukan sekadar peniruan atas fakta dan peristiwa yang terjadi di sekitar warga, tetapi lebih merupakan respons atas apa yang berlangsung, dipertontonkan, atau tengah diperbincangkan di ruang publik.

Meme paling mutakhir adalah meme Nurhadi-Aldo, sebagai pasangan capres fiktif pilpres 2019 yang diusung Koalisi Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik.

Nurhadi-Aldo.*/INSTAGRAM @NURHADI_ALDO

Apa yang membuat meme capes Nurhadi-Aldo viral dan bagaimana tanggapan warganet, termasuk komentar salah seorang calon wakil presiden, dapat disimak dalam berita-berita yang beredar di jagat maya Senin 7 Januari 2019.

Seperti meme pada umumnya, tampilan capres Nurhadi-Aldo dengan nomor urut 10 ini berisi gambar dan kata-kata. Layaknya poster atau baliho kandidat, pasangan Nurhadi-Aldo tampil tak kalah keren.

Bukan hanya itu, Nurhadi-Aldo menampilkan beberapa kutipan seperti “Kalau orang lain bisa. Mengapa harus kita?”.

Dapat ditebak, kutipan itu adalah plesetan dari apa yang sering disampaikan para motivator, “Jika orang lain bisa, mengapa kita tidak?”

Meski tampil dalam cara dan dalam media baru, “strategi” komunikasi ala meme bukanlah hal baru. Jauh sebelum peradaban meme muncul, telah banyak media yang dipilih untuk menyampaikan kritik tanpa harus ada yang merasa dilukai atau sengaja mengajak orang menertawakan dirinya sendiri. Pilihan strategi ini adalah buah dari kreativitas, sekaligus pantulan keraifan pelakunya.

George Orwell

Dalam dunia pewayangan dikenal lakon Petruk Jadi Raja yang mengungkap realitas satire, bahwa dalam politik, tampilan fisik kadang lebih menggoda. Untuk menjadi raja, Petruk harus mengubah wujud ragawinya.

Dalam dunia sastra, novel Animal Farm (cetakan pertama 1945) karangan George Orwell merupakan salah satu masterpiece yang menghadirkan kisah satire ketika binatang mampu mengelola sendiri urusan mereka.

Para binatang mampu membebaskan diri dari penjajahan manusia dengan mengkudeta Mr. Jones yang tidak lain adalah pemilik peternakan.

ANIMAL Farm karya George Orwell.*/AMAZON

Untuk mengelola pemerintahan yang akan menangani urusan warganya, para binatang menyusun konstitusi, mengadakan program baca tulis, dan tak lupa membangun infrastruktur dan jaringan listrik.

Apa pun yang bisa dilakukan politisi (manusia), binatang bisa melakukannya, kecuali mengambil tindakan etis.

Dibandingkan bentuk lain, meme tampil dalam cara yang sederhana tetapi sarat makna. Sebagaimana simbol pada umumnya, makna yang terkandung dalam meme bersifat subjektif.

Kendati makna yang terkandung dalam meme akan berbeda bagi setiap orang, tetapi meme lazim dipahami sebagai “arus bawah”. Meme politik tak ubahnya budaya tanding yang muncul karena cara-cara biasa tak lagi bertenaga.

Pesan

Dalam konteks ini, kemunculan meme pilpres 2019 sekurang-kurangnya menghadirkan pesan sebagai berikut. Pertama, publik bisa memaknai simbol yang digunakan politisi dari sisi yang tidak mereka kehendaki. Ketika politisi berebut mandat, tidak sedikit orang menarik diri dan bergumam seperti apa yang ditulis dalam meme Nurhadi-Aldo, “Kalau orang lain bisa. Mengapa harus kita?”

Kedua, dalam iklim komunikasi yang dramaturgis, meme hadir untuk mengungkap makna secara apa adanya. Meski disajikan terbalik-balik, makna yang dikandung pesan menjadi terang-benderang. Bila pesan politik pada umumnya berselimut pencitraan dan kepura-puraan, pesan mimesis terbungkus kreativitas.

Di atas segalanya, kemunculan pesan mimesis mengoreksi gaya dan pilihan komunikasi elite yang cenderung mengatakan sesuatu yang tidak ia maksudkan, atau sebaliknya, menyembunyikan motif sebenarnya.

Bukankah kata-kata “berbakti pada negeri” atau “berjuang bersama rakyat” adalah kata-kata yang lazim digunakan untuk menyembunyikan hasrat berkuasa? Mengejar jabatan atau merengkuh kekuasaan seakan tabu diucapkan. Ambisi pun disembunyikan di balik tindakan “tronjal tronjol” ala Nurhadi-Aldo.

Ibarat cermin, pesan mimesis menghadirkan simbol dari arah yang berlawanan dan menampilkan realitas dengan gambaran terbalik. Pembalikan realitas inilah yang memungkinkan pesan yang sebenarnya terang-benderang.

Mimesis pilpres 2019 menyajikan pesan dengan rasa yang orisinal dan membuang jauh bumbu-bumbu yang mengaburkan otentisitas rasa. Dengan begitu, publik akan terlindungi dari efek samping pencitraan yang kelebihan dosis.***

Bagikan: