Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Cerah, 17.3 ° C

Tafsir “Laut Kidul”

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

DARI almarhum Haji Muhamad Su’éb alias Kalipah Apo, pujangga dan pejabat keagamaan di Bandung pada zaman kolonial, kita kenal guguritan “Laut Kidul”. Mula-mula guguritan ini dimuat dalam Volksalmanak Soenda 1921, kemudian dimuat lagi dalam antologi Puisi Guguritan Sunda (1980) suntingan Yus Rusyana dan Ami Raksanagara.

Dalam guguritan, sebagaimana lazimnya dalam puisi terikat, tulisan hanyalah patokan buat pelisanan, kayak partitur yang menghidupkan kur. Jadi, urusannya dengan telinga, bukan dengan mata. Patokannya ajeg, antara lain mengatur jumlah suku kata dalam tiap larik, juga jumlah larik dalam tiap bait. Adapun “Laut Kidul” kiriman Kalipah Apo mengambil patokan lagu dangdanggula.

Sayang sekali, saya tidak pandai menyanyi. Jika anda berkenan mendengarkan dangdanggula “Laut Kidul”, kiranya dapat anda cari rekaman suara merdu dari Dadang Sulaeman dan Nina K. Sopandi. Keduanya pernah melantunkan puisi yang satu ini dalam sebuah album yang judulnya sama, keluaran Dasentra.

Apa boleh buat, kesanggupan saya terbatas pada aksara, nyanyi yang direduksi jadi larik-larik sunyi. Mungkin lebih tepat jika saya katakan bahwa kesanggupan saya membaca guguritan atau dangding sebatas menangkap bunyi kata yang timbul dalam hati, tidak sampai melantunkan lagu menurut konvensi.

“Laut Kidul” di mata saya adalah untaian puisi 23 bait. Tiap-tiap bait terdiri atas 10 larik. Dilihat sebagai untaian, 230 larik itu cukup panjang, selaras dengan judulnya. Itulah judul yang menimbulkan asosiasi ke garis pantai selatan Jawa, khususnya belahan barat, yakni Tatar Sunda, dari kawasan sekitar Jakarta (bekas Sunda Kalapa) hingga Cirebon.

Dalam dua larik pertama, kita melihat sudut pandang aku-lirik, yakni sosok yang memperdengarkan suaranya dalam puisi. Katanya:

Laut kidul kabéh katingali

ngembat paul kawas dina gambar

(Pantai selatan terlihat seluruhnya

bentangan biru bagaikan lukisan)

Sosok itu, rupanya, menempatkan diri di angkasa. Posisinya kiranya lebih tinggi daripada posisi Michael de Certeau ketika melihat Manhattan dari lantai 110 gedung World Trade Center, jauh lebih tinggi daripada posisi saya ketika melihat Jakarta dari pucuk Monas. Jika De Certeau, juga saya, terpaku di tempat, pengamat dalam “Laut Kidul” memandang lanskap sambil bergerak. Ia melayang seperti elang, atau seperti penumpang yang duduk di balik jendela pesawat terbang.   

Gambar pulau yang dihasilkannya bukanlah gambar mati yang tergantung di dinding ruang kerja dekan fakultas sastra. Penggubah guguritan ini menyajikan gambar landscape in motion. Dimulai dari atas laut sekitar Jakarta, pandangan bergerak ke timur, melewati puncak-puncak gunung, seperti Gede, Burangrang, dan lain-lain, sampai ke Ciremay, lengkap dengan rincian masing-masing, tak terkecuali dayeuh (kota), seperti Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, hingga Cirebon.  

Tentu, pandangan mata elang tak hanya menghasilkan gambar, melainkan juga menyampaikan cerita, memberi narasi. Ada kalanya tempat-tempat mengalami personifikasi, misalnya “Gunung Pangrango ngajogo/bangun nu diharudum/ngadagoan nu tacan sumping (Gunung Pangrango duduk termangu/seperti berselimut/menanti dia yang belum tiba).”

Ada kalanya pula asosiasi digali dari nama tempat itu sendiri, misalnya kesan “liwung” (bingung, mabuk kepayang) dari Ciliwung atau “pundung” (gusar, pergi dengan sakit hati) dari Cikapundung.

Asosiasi seperti itu dipertautkan pula dengan folklor atau legenda yang hidup di Tatar Sunda, misalnya legenda tentang Sang Kuriang. Dikatakan, misalnya, bahwa Sang Kuriang pundung sebab tak jadi mewujudkan mimpinya naik perahu setelah membendung Cikapundung.

Legenda bahkan menyediakan bahan bagi posisi diri dan sudut pandang si aku lirik itu sendiri. Dalam hal ini, kita dapat mencatat sebutan “Raden” dan “Mundinglaya” di antara untaian bait-bait puisi ini.  Mundinglaya adalah tokoh mitologis Sunda yang bisa terbang dan amat perkasa, tak kalah perkasa oleh Superman. Dengan kata lain, sang aku-lirik, penerbang soliter di atas pulau Jawa ini, tak lain dari Sang Mundinglaya di Kusumah. 

Hal yang menarik buat saya, dan mungkin juga buat para editor Volksalmanak Soenda, yakni berkala tahunan terbitan lembaga kolonial Commissie voor de Volkslectuur, adalah orientasi puisi ini ke zaman pra-Islam. Bapak Kalipah dari Bandung rupanya turut menambatkan perasaan pada masa silam “nagara Pajajaran” atau “Galuh Pakuan” dengan rajanya yang termasyhur, Baginda “Siliwangi”.

Baik kita petik potongan bait berikut ini:

Pajajaran tilas Siliwangi

wawangina nu kari ayeuna

ayeuna nya dayeuh Bogor

Batutulisna kantun

Kantun liwung jaradi pikir

(Pajajaran jejak Siliwangi

wanginyalah yang kini tersisa

sisanya kini ya kota Bogor

tinggal Batutulisnya

tinggal bingung lantas bermenung) 

Dia yang melayang sendirian di atas bentangan Tatar Sunda, yang sesekali “ngarandeg” (terhenti sesaat) seperti penerbang yang pesawatnya mengalami turbulensi, membawa sejarah dan legenda. Dengan muatan demikian, tempat-tempat yang dia lihat dalam perjalanannya sesungguhnya adalah tempat-tempat yang telah tiada, atau mungkin lebih tepat dikatakan sebagai tempat-tempat yang kisahnya sudah silam.

Akhirnya, dalam dua bait penghabisan, saya merasa diajak merenungi puisi itu sendiri. Di situ “sindir” dan “basa” (bahasa) jadi bagian penting dari “pangguyangan urang” (tempat kita berkecimpung). Itulah tempat tiap-tiap orang “pada boga carita” (punya cerita sendiri) hingga tiba waktunya “baralik kari ngaran (berpulang tinggal nama).

Rasanya begitu.***

Bagikan: