Pikiran Rakyat
USD Jual 14.235,00 Beli 13.935,00 | Berawan, 25.9 ° C

Seksinya Isu AFF 2010

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum Olah Raga Kemenkumham dan bobotoh Persib

Suap di ranah sepak bola.*/DOK. PR
Suap di ranah sepak bola.*/DOK. PR

RABU 19 Desember 2018 lalu, saya menjadi narasumber di program Mata Najwa yang tayang di Trans7. Dalam perjalanan pulang, notifikasi WhatsApp saya terus berbunyi. Sempat saya lihat, kebanyakan yang menghubungi adalah wartawan. Tentu tak memungkinkan untuk saya tanggapi satu persatu saat itu juga.

Hingga kemudian, ada panggilan telefon masuk, nomornya tidak saya kenal. Namun, tentu sangat mengganggu dan bisa mengoyak konsentrasi mengemudi jika terus berbunyi. Akhirnya saya menepi dan menjawab panggilan tersebut.

Ternyata yang menghubungi saya adalah istri salah seorang pemain yang memperkuat Timnas di ajang AFF 2010. Dia mengatakan bahwa keluarganya mendapat gangguan dan bully di media sosial dan telefon seluler hingga menyebabkan ibunya sempat tak sadarkan diri karena kaget. Kabar ibunya yang pingsan sempat membuat saya menganggap ceritanya agak berlebihan. Namun ketika dia bermaksud memperkarakan orang-orang yang melakukan bully, akhirnya saya merasa harus membuat emosinya bersapa dengan nalar.

Saya katakan, langkah emosional tanpa bukti dan argumen yang jelas hanya akan menghabiskan energi. Saya sarankan tunggu saja 2 hingga 3 hari, isu akan mereda.

Akan tetapi, rupanya prediksi saya agak keliru karena para pemain yang merasa tersudut mengalami baper kronis dan tak mungkin cuek serta tak peduli.

Esok harinya, para pemain eks Timnas AFF 2010 yang difasilitasi oleh APPI (Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia) melakukan konferensi pers dan membantah tuduhan pengaturan skor 8 tahun lalu.

Tekanan hebat

Jujur saja, saya merasa agak heran ketika beberapa pemain eks Timnas AFF 2010 tampak bergerak cepat dan terkesan sibuk setelah mendapat bully dari publik. Setahu saya, para pemain sekelas mereka memang seharusnya sudah terbiasa dan kuat mental menghadapi gangguan semacam itu.

Bisa jadi, mereka menyadari bahwa isu yang mereka hadapi itu lebih dari sekadar bully tetapi termasuk tuduhan yang paling serius dalam karier mereka. Karena, walau kejadiannya sudah cukup lama, seringkali isunya tetap bisa muncul dan mampu mencuri perhatian publik.

Saya menghubungi Kepala Bagian Hukum APPI Riza Hufaida untuk sekadar bertanya apa yang sesungguhnya terjadi hingga APPI merasa perlu menggelar konferensi pers.

Saya menghubungi Riza Hufaida karena katanya para pemain tersebut langsung menghubungi APPI ketika Andi Darussalam Tabusala menyebut nama salah seorang pemain di acara Mata Najwa.

Riza Hufaida memberikan bimbingan konsultasi dengan sangat objektif bahwa secara prinsip baik APPI dan FIFPRO (Asosiasi Pesepakbola Profesional Internasional) sangat mengutuk pengaturan skor karena itulah sehina-hinanya tindakan pemains epak bola yang wajib dikutuk dan diperangi.

APPI akan mendampingi karena para pemain berhasil meyakinkan bahwa sesungguhnya mereka tidak terlibat dan siap bekerja sama dengan pihak manapun yang ingin membongkar isu suap AFF 2010 termasuk siap diperiksa aparat kepolisian.

Dengan alasan itu pula APPI bersedia mendampingi, bahkan Riza Hufaida menjelaskan bahwa pada Kamis  20 Desember 2018 para pemain siap mendatangi bareskrim. Namun APPI mendapat informasi, pihak berwenang belum bisa menindaklanjuti karena struktur satgas antimafia sepak bola sedang dalam proses pembentukan.

Karena klarifikasi harus diberikan saat itu juga, para pemain pun memilih jalur media. Mereka bersedia menjadi narasumber dalam program narasi.tv yang menjadikan Najwa Shihab sebagai anchor utama.

Satgas antimafia sepak bola

Satgas antimafia sepak bola yang dibentuk langsung oleh Kapolri Tito Karnavian sebenarnya bekerja cukup cepat. Setelah memastikan struktural personel, mereka langsung memulai. Pada jumat 21 Desember 2018, saya memenuhi undangan satgas untuk berdiskusi tentang temuan dan penelitian saya terkait pengaturan skor, juga membahas celah serta peluang penegakkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1980 Tentang Tindak Pidana Suap.

Satgas mengatakan bahwa akan melakukan dialog dalam waktu dekat dengan para pemain yang memperkuat Timnas AFF 2010, termasuk dengan pemain yang namanya disebut oleh Andi Darussalam Tabusala di Mata Najwa.

Tentunya hal itu merupakan langkah yang sangat baik dan perlu diapresiasi karena komitmen pimpinan tertinggi kepolisian ternyata direspons dengan kerja cepat jajarannya dan para pemain yang dianggap terlibat pun siap membuktikan bahwa mereka tidak terlibat dengan cara kooperatif termasuk merespons inisiatif kepolisian.

Semoga titik terang segera didapatkan agar isu itu tak muncul-muncul lagi. Agar, semua mengetahui apa yang sebenarnya terjadi 8 tahun lalu dan agar luka itu memiliki kepastian untuk segera kering hingga tak perlu dibuka dan digarami lagi.***

Bagikan: