Pikiran Rakyat
USD Jual 14.289,00 Beli 14.191,00 | Sebagian cerah, 32.2 ° C

Awan Caping

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

PADA tanggal 10 Desember 2018, di atas Gunung Semeru terbentuk awan yang mirip caping, topi petani yang banyak digunakan saat bekerja di sawah. Awan caping ini merupakan awan stasioner. Awan yang tidak bergerak atau awan menetap di suatu tempat. Kadang, awan caping atau dalam istilah lebih luas disebut awan lentikular, dapat berkembang menjadi bertumpuk, menciptakan bentuk yang menakjubkan.

Pernah, terbentuknya jenis awan caping ini dihubungkan dengan kehadiran UFO dari luar angkasa yang misterius, karena bentuknya mirip piring terbang yang bergasing di daerah-daerah berketinggian yang sunyi.

Awan caping terbentuk pada saat udara yang lembab dan stabil mengalir menabrak penghalang besar seperti gunung. Lalu membentuk pusaran stasioner, biasanya tegak lurus dengan arah angin. Gejala adanya awal caping ini termasuk langka, karena memerlukan kondisi yang khusus. Yaitu adanya udara panas yang mengalir naik ke puncak gunung, kemudian mendingin, suhunya menurun, dan kelembaban udaranya tidak bisa tetap dalam bentuk gas, kemudian udara menjadi cair, menjadi awan. Karena terjadi pada ketinggian, awan ini berbentuk seperti lenti, seperti biji kacang yang menyerupai lensa, menyebabkan awan ini disebut lentikular. Awan ini terbentuk di troposfer.

Syarat utama terbentuknya awan ini adalah adanya dinding penghalang yang besar, yang menyebabkan arah angin mendatar berubah menjadi seperti riak air yang mengalir di sungai, kemudian gerakannya berubah menjadi vertikal dan berpusar, menghasilkan turbulensi karena terbentuk melalui gangguan mekanik dari aliran angin. Jika kelembaban udaranya cukup, gerakan naik itu akan menjadi gelombang yang menyebabkan uap air mengembun, membentuk tampilan unik seperti lensa atau keping biji miju-miju (kacang lentil), itulah yang disebut awan letikular atau awan caping. Awan yang disebut juga altokumulus lentikularis akan berada di puncak gunung hanya beberapa jam, tapi dapat juga bertahan sampai beberapa hari.

Bentuk awannya seperti kepingan biji kacang lentil, berada di troposfer pada ketinggian hingga 12.000 meter. Kecepatan anginnya setara badai, sehingga dapat membahayakan penerbangan, karena gerakan udara yang tidak beraturan yang disebabkan oleh perbedaan tekanan udara atau suhu yang dapat mengguncang-guncang pesawat terbang, sehingga sangat dihindari oleh para pilot pesawat terbang. Para pendaki gunung pun harus waspada bila ada awan jenis ini, karena dapat mengakibatkan cuaca yang sangat dingin.

Awan ini disebut awan lentikular, karena bentuknya seperti biji kacang lentil. Orang-orang terdahulu yang melihat jenis awan ini, sudah sangat akrab dengan tanaman lentil (Lens esculenta), yang sudah menjadi bahan makanan sejak 13.000 tahun yang lalu sampai sekarang, seperti banyak digunakan di Timur Dekat, yaitu kawasan Levant atau Sham (sekarang Israel, Jalur Gaza, Lebanon, Suriah, Tepi Barat dan Yordania), Anatolia (sekarang Turki), Mesopotamia (Irak dan Suriah timur), dan Plato Iran (Iran).

Di kita, kacang lentil ini disebut miju-miju, yaitu tumbuhan terna yang tingginya sekitar 40 cm, yang diambil biji kacangnya yang berjumlah sampai dua biji, yang terdapat di dalam polong. Tumbuhan tahunan ini seperti semak dari famili Legume, dikenal karena biji-bijinya berbentuk seperti lensa. Warnanya ada yang kuning, jingga kemerahan, hijau, coklat, dan hitam. Organisasi pangan dunia, pada tahun 2017 mencatat produksi kacang lentil mencapai 6,34 juta ton. Produsen kacang lentil terbanyak adalah Kanada, India, Australia, Turki, Amerika Serikat, Nepal, Etiopia, Tiongkok, Suriah, dan Iran.

Karena saking populernya kacang miju-miju digunakan oleh masyarakat sebagai sumber pangan pada saat kitab suci diturunkan, makan beberapa kali jenis kacang ini disebut dalam kitab suci. Kacang ini sangat popular, karena 30% sumber kalori dari kacang ini berasal dari protein, sehingga berada pada peringkat ketiga dalam kadar protein menurut beratnya dari semua jenis kacang-kacangan, setelah kedelai dan hemp. Kegunaan kacang miju-miju sudah teruji sebagai sumber pangan berenergi dengan banyak manfaat bagi tubuh.

Itulah penjelasan tentang keberadaan awan caping atau awan lentikular, dan mengapa namanya di dunia ilmu pengetahuan disebut awan lentikular. Jadi, terbentuknya awan ini tidak ada hubungannya dengan kehadiran UFO atau penyebab adanya yang bersifat mistis. Ini gejala alam yang dapat dijelaskan terbentuknya secara keilmuan.***

Bagikan: