Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Berawan, 19.7 ° C

Patah karena Korupsi

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

LEBIH kurang empat puluh tahun setelah Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) mengumumkan novelnya, Korupsi (1954), terbit novel L’Homme rompu (1994) karya Tahar Ben Jelloun.

“Saya menulis buku ini untuk memenuhi kewajiban moral kepada Pramoedya Ananta Toer,” kata Ben Jelloun, pengarang Maroko yang pernah berkunjung ke Indonesia.

Sebelumnya, pada 1981, terbit edisi Prancis dari novel Pramoedya Ananta Toer, terjemahan Denys Lombard.

Terjemahan itu dibaca oleh Ben Jelloun. Pada 2010, terbit edisi Indonesia dari novel Ben Jelloun dengan judul, Korupsi, terjemahan Okke KS Zaimar. Sayangnya, Pramoedya Ananta Toer telah tiada ketika karya terjemahan itu terbit.

Terlihat perjalanan ulang-alik antara bahasa Indonesia dan bahasa Prancis. Kita pun menyimak gema. Novel Pramoedya Ananta Toer menimbulkan resonansi dalam novel Ben Jelloun.

Cerita korupsi di Jakarta bersahut-sahutan dengan cerita korupsi di Casablanca. Masalah Indonesia senada dengan masalah Maroko.

Pramoedya Ananta Toer dan Ben Jelloun, dengan caranya sendiri, seakan memperkaya cerita dua negeri. Telaah antropolog Clifford Geertz, baik Islam Observed: Religious Development in Morocco and Indonesia (1968) maupun After the Fact: Two Countries, Four Decades, One Anthropologist (1995), membandingkan kedua negeri dalam panorama keagamaan.

Adapun kedua novel tersebut memberi kita perbandingan mengenai satu perkara yang dikutuk oleh semua agama, yakni korupsi.

“Di bawah langit yang berbeda, dan berjarak beribu-ribu kilometer, ketika didera oleh kesengsaraan yang sama, kadang-kadang jiwa manusia menyerah kepada setan yang sama,” ujar Ben Jelloun.

Dalam novel Ben Jelloun, manusia yang jiwanya menyerah kepada setan korupsi adalah Murad, pejabat pada Kementerian Pekerjaan Umum.

Dia sebetulnya adalah pegawai yang jujur dan berpendidikan baik, tapi sayang sekali, pada akhirnya dia tidak bisa melawan godaan korupsi.

Tuntutan istrinya, Hilma, cibiran ibu mertuanya, keadaan keluarganya yang morat-marit, juga lingkungan kerjanya yang memang korup, membuat Murad jadi pribadi yang rapuh, goyah, dan patah. Ya, presis tokoh pegawai pemerintah dalam novel Pramoedya Ananta Toer.

“Meskipun latar belakang ceritanya berbeda (Maroko tahun 1991 dibandingkan dengan Jakarta tahun 1951), struktur dan penokohan boleh dikatakan sama. Sebagai suatu remake dari karya Pramoedya Ananta Toer dalam konteks sosial lain, novel Prancis itu merupakan subyek analisis yang cukup menarik,” kata Henri Chambert-Loir dalam Sultan, Pahlawan dan Hakim: Lima Teks Indonesia Lama (2011).

Dalam novel Pramoedya Ananta Toer, tokoh pegawai yang korup, bagian dari sebuah generasi tua yang lapuk, baru menyadari kekeliruannya setelah segalanya terlanjur hancur.

Betapapun, novel Pramoedya Ananta Toer masih menyisakan suara optimistis yang diarahkan kepada generasi baru untuk memperbaiki keadaan.

Dalam novel Ben Jelloun, kita melihat depresi pelaku korupsi dalam proses “inisiasi” oleh lingkungan kerjanya yang bejat.

Setelah menerima “komisi” dari sebuah perusahaan asing yang ingin menanamkan modal di Maroko, Murad mengalami berbagai kesusahan, mulai dari petualangan seksual yang tidak karuan hingga hubungan rumah tangga yang kusut, mulai dari gangguan penyakit kulit hingga niat bunuh diri.

Berbeda dari novel Pramoedya Ananta Toer, novel Ben Jelloun memperlihatkan pergeseran sudut pandang.

Mula-mula cerita bertolak dari sudut pandang orang ketiga, kemudian beranjak dari sudut pandang orang pertama.

Cerita seperti bergerak dari luar ke dalam. Pencerita yang berjarak, yang menampilkan sosok Murad, menghilang perlahan-lahan, dan membiarkan Murad mengungkapkan sendiri pergulatan pikirannya.

Pergulatan pikiran yang diungkapkannya sedemikian runcingnya, meruncing hingga ke batas-batas antara kenyataan dan ilusi. Dihadapkan pada dilema moral, tokoh yang goyah itu seperti berulang-alik di antara situasi dia yang riil dan situasi diri yang diangan-angankannya. Ia goyah dan akhirnya patah.

Suara moral kita dengar dari Nadia, sepupu Murad yang ditinggal mati oleh suaminya dan diinginkan oleh Murad untuk jadi istrinya.

Manakala mengetahui bahwa Murad telah terperosok ke dalam korupsi, dia mengingatkan, “Di negeri ini masih ada orang-orang yang menghormati prinsip. Memang jarang, tetapi masih tetap ada dan janganlah merusak mereka. Lagi pula bila negeri ini masih berdiri, sebagian berkat mereka.”

Murad adalah prinsip yang patah. Adapun Ben Jelloun, Pramoedya Ananta Toer, juga Anda para pembaca, mudah-mudahan termasuk ke dalam golongan “orang yang menghormati prinsip”.***

Bagikan: