Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Hujan petir singkat, 22.6 ° C

Kaum Milenial dan Korupsi

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

Peneliti Komunikasi Politik, Dosen FPIPS UPI

DI mata generasi milenial, korupsi bukan hanya tindakan melawan hukum dan ulah pemimpin tidak cerdas, tetapi virus yang dapat mengikis kebanggaan sebagai Bangsa Indonesia. Fakta ini terungkap dari survey terhadap 225 pelajar dan mahasiswa yang lahir antara 1996 sampai 1999.

Kepada mereka diajukan lima pertanyaan terbuka terkait tindakan yang mereka anggap paling mencerminkan rasa cinta tanah, dan sebaliknya tindakan yang paling bertentangan dengan rasa cinta tanah air, tentang bagaimana rasa cinta tanah air sebaiknya dipupuk, serta tindakan yang dapat meningkatkan dan mengikis rasa bangga sebagai Bangsa Indonesia.

Merajalelanya korupsi disebut sebagai ancaman yang paling merusak rasa bangga sebagai Bangsa Indonesia. Mereka pun mengaku, rasa bangga mereka terusik ketika melihat penegakan hukum yang tidak adil, simbol-simbol negara tak berdaya menahan gempuran pengaruh asing, saat pemimpin nasional bertindak tidak cerdas, dan ketika warga masyarakat bertindak tidak tertib.

Apa makna semua ini? Selain mengindikasikan bergesernya spektrum ancaman terhadap keselamatan bangsa, generasi milenial menunjukan permusuhan nyata terhadap tindakan pemimpin korup dan bodoh.

Ancaman terhadap keselamatan bangsa tidak lagi berupa pertempuran di medan perang, aneksasi wilayah, atau serangan fisik lainnya. Serangan dalam bentuk pengaburan nilai melalui simbol dan budaya asing, ancaman terhadap orientasi berpikir atau yang disebut soft power, dipercaya sebagai bentuk ancaman baru.

Kini bila suatu negara terlibat perang, musuhnya tidak terang-terangan datang dari luar. Yang bertempur umumnya faksi-faksi yang bertikai di dalam negeri yang disokong kekuatan asing. Inilah wujud mutakhir perang: yang berhadapan sesama warga, yang pikirannya sudah dirasuki nafsu bertempur.

Motifnya pun bisa ekonomi, atau pun alokasi jabatan yang tidak tuntas di bilik suara. Atau bisa pula tindakan rasial yang dibalas dengan pengusiran. Pendek kata, perang saudara lebih mungkin terjadi ketimbang pertempuran melawan kolonialis.

Sejurus dengan permusuhannya terhadap tindakan korup dan bodoh, generasi milenial mengaku kebanggaan mereka sebagai Bangsa Indonesia menguat bila melihat tindakan prestisius yang dilakukan sesama warga bangsa. Tindakan prestisius yang mereka apresiasi bisa berlaku dalam bidang apa saja, yang merupakan pencapaian tertinggi dalam rentang manusia normal. Jika korupsi dipandang sebagai gaya sentrifugal, maka tindakan prestisius memiliki gaya sentripetal.

Kaum milenial yang berpandangan jauh ke depan ibarat hawa murni yang dibutuhkan membangun sistem politik yang sehat (robust democracy). Berbeda dengan generasi sebelumnya yang suka membandingkan dengan rezim-rezim yang sudah lewat, orientasi kaum milenial lurus ke depan. Bilamana membandingkan, mereka hanya mencocokkan realitas politik yang ada di hadapan mereka dengan teori yang mereka pelajari.

Apa rahasia kaum milenial begitu membenci korupsi ? Korupsi dibenci karena merampas masa depan mereka. Jika dana yang dikorupsi hasil pinjama utang luar negeri, dampaknya kian parah. Mereka akan mewarisi utang negara, namun tidak menikmati fasilitas yang pembangunannya asal-asalan, bahkan mangkrak karena ketiadaan dana.

Menghentikan tindakan korup, penegakan hukum secara adil dan menjamin kepastian hukum, memperkokoh identitas bangsa dan tidak mudah tundak pada pengaruh dan  ikhtiar yang mesti dilakukan untuk menjaga kebangggaan kaum milenial tentang bangsanya. Aspek-aspek ini lebih mudah diucapkan ketimbang mewujudkannya dalam tindakan, namun bukan merupakan sesuatu yang mustahil jika memiliki komitmen kuat untuk menghadirkannya di tengah kehidupan warga.

Mendorong kaum milenial berduyun-duyun pergi ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada 17 April merupakan langkah penting untuk mewujudkan efikasi (kemanjuran) pemilihan umum (pemilu) sebagai tangga untuk mempromosikan orang-orang berkualitas, sekaligus mekanisme pemberian sanksi atas tindakan salah. Menggelar pemilu di saat pemerintah mendengungkan Revolusi Industri 4.0 merupakan teka-teki mengingat mayoritas tenaga kerja Indonesia hari ini masih didominasi lulusan sekolah dasar.

Inilah saatnya untuk mengajak kaum milenial mengeksekusi gagasan mereka tentang masyarakat dan Bangsa Indonesia yang dicita-citakan melalui pemilu. Pemilu 2019 adalah momentum untuk menghentikan kecenderungan bertumpuknya kekuasaan pada satu keluarga (politik dinasti), sekaligus mendorong kemunculan pemimpin yang dapat berpikir 25 tahun ke depan, yang dapat membumikan gagasannya lewat program-program yang membuat kaum milenial lebih siap menghadapi tantangan. Penambahan jumlah penduduk usia produktif itu pasti, namun apakah pertumbuhan ini akan menjadi bonus atau petaka demografi bergantung kepada keberanian kita memilih jalan perubahan.***

Bagikan: